
WANITAINDONESIA.CO – Di tengah persaingan industri perhotelan yang semakin ketat, Khoe Ribka muncul sebagai sosok perempuan pemimpin yang tidak hanya bertahan, tetapi terus bertumbuh melalui adaptasi dan keberanian mengambil keputusan strategis. Ia dikenal sebagai CEO Hotel Amos Cozy di kawasan Melawai–Blok M, Jakarta Selatan, hotel yang telah berdiri sejak tahun 2011 dan kini memasuki lebih dari 15 tahun perjalanan bisnisnya.
“Saya Khoe Ribka, CEO Hotel Amos Cozy, juga CEO Solidio Christian School dan Bali De Anyer Hotel,” ujarnya membuka perjalanan kariernya.
Hotel Amos Cozy lahir dari sebuah visi yang jelas untuk menghadirkan akomodasi yang berbeda di tengah menjamurnya hotel-hotel di Jakarta Selatan. Sejak awal berdiri, Khoe Ribka tidak ingin sekadar mengikuti arus pasar.
“Waktu kami mendirikan hotel ini, kami sudah melihat banyak sekali hotel yang berjamur di Jakarta Selatan. Tapi kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda untuk customer kami,” tuturnya.
Perbedaan tersebut diwujudkan melalui konsep tematik elegan, di mana setiap kamar dirancang dengan karakter yang unik dan tidak ada satu kamar pun yang sama. Hotel Amos Cozy sejak awal diposisikan sebagai hotel bisnis, dengan fokus utama pada layanan meeting dan convention.
“Segmentasi kami memang hotel bisnis. Kami lebih banyak ke meeting room dan convention room,” jelasnya.
Memasuki era pasca pandemi, Khoe Ribka menyadari bahwa industri perhotelan mengalami perubahan besar, baik dari sisi perilaku konsumen, pemasaran, hingga branding.
Menurutnya, dunia perhotelan tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama.
“Pergerakan perhotelan sekarang berubah. Setelah pandemi, semua juga berubah. Mau tidak mau, kita harus adjust, baik dari sisi marketing, branding, sampai digital,” ungkapnya.
Hotel Amos Cozy pun melakukan transformasi. Konsep tematik elegan yang dulu menjadi ciri khas, kini disesuaikan menjadi minimalis modern, mengikuti selera dan karakter generasi baru.
“Target market kita juga berbeda. Dulu baby boomer, sekarang anak-anak Gen Z. Selera mereka beda, dan kita harus mengikuti zamannya,” katanya.

Persaingan hotel di Jakarta Selatan yang semakin padat menjadi tantangan nyata. Jarak antarhotel yang kini hanya puluhan meter menuntut strategi yang lebih tajam agar tetap relevan.
“Sekarang hotel itu bukan lagi jaraknya puluhan kilometer. Beberapa meter saja sudah hotel lagi. Itu tantangan besar buat kita,” ujar Khoe Ribka.
Namun, ia meyakini bahwa di setiap tantangan selalu ada peluang.
Hotel Amos Cozy kemudian memperkuat segmen layanan non-kamar, seperti meeting room, convention, event spesial, hingga ballroom untuk wedding.
“Kalau hotel room berjamur, kita harus masuk ke segmen lain. Kita fokus ke meeting, convention, event, dan wedding,” jelasnya.
Salah satu keunggulan Hotel Amos Cozy yang terus dipertahankan adalah fasilitas parkir. Di kawasan Melawai yang dikenal padat dan sulit parkir, hotel ini memiliki dua basement parkir serta area parkir depan.
“Di Melawai parkiran itu sulit sekali. Tapi kami punya dua basement parkir dan area depan. Itu jadi kekuatan hotel kami,” ungkapnya.
Sebagai perempuan yang memilih terjun ke bisnis hotel, Khoe Ribka menyadari bahwa sektor ini bukan bisnis dengan risiko kecil. Namun keyakinannya berangkat dari kebutuhan dasar manusia akan pelayanan.
“Pelayanan itu akan selalu dibutuhkan, mau itu tempat tinggal, makan, atau ruang berkumpul. Karena itu saya berani masuk ke bisnis hotel,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dunia bisnis selalu berjalan seiring antara risiko dan keuntungan.
“Kalau low risk, jangan harap high profit. High profit pasti high risk. Itu yang harus dihadapi pengusaha,” tegasnya.
Baginya, keberanian melangkah, kreativitas, inovasi, dan optimisme adalah kunci utama untuk bertahan menghadapi perubahan zaman. Menjadi peniru justru akan menempatkan bisnis dalam posisi lemah.
“Kalau kita sama dengan orang lain, tanpa sadar kita sudah dibawa orang lain. Tapi kalau kita jadi pionir, orang lain yang akan mengikuti kita,” ujarnya.
Dari seluruh perjalanan bisnisnya, Khoe Ribka menilai bahwa tantangan paling berat adalah menjaga konsistensi.
“Yang paling sulit itu konsistensi. Bisa nggak kita bertahan menghadapi situasi dan tantangan? Di situ konsistensi kita diuji,” ungkapnya.
Menurutnya, konsistensi inilah yang akan membawa sebuah bisnis menuju target yang diinginkan, sekaligus membentuk karakter kepemimpinan seorang pengusaha.
Melalui perjalanan dan kepemimpinannya, Khoe Ribka menjadi bukti bahwa perempuan mampu memimpin bisnis berisiko tinggi dengan keteguhan, visi, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Hotel Amos Cozy pun berdiri sebagai cerminan dari kepemimpinan tersebut, adaptif, konsisten, dan terus relevan di tengah dinamika industri perhotelan. (GIE)




