WANITAINDONESIA.CO – Menjaga kesehatan mental di tengah gempuran informasi digital dan kesibukan harian kini menjadi tantangan tersendiri bagi banyak orang. Berdasarkan wawasan yang diulas oleh Real Simple, kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara terus-menerus serta beban pekerjaan berlebih sering kali mendorong seseorang melewati batas kenyamanan emosional mereka, atau yang dikenal sebagai jendela toleransi (window of tolerance).
Kondisi tersebut kerap memicu rasa sesak, cemas, hingga kelelahan mental yang berkepanjangan akibat tubuh berada dalam keadaan kewalahan yang konstan. Menurut Golee Abrishami, PhD, Wakil Presiden Perawatan Klinis di Octave Mental Health, perasaan tidak stabil kerap muncul saat permasalahan terasa melebihi kapasitas diri. Ketika seseorang berada dalam pusaran stres dan kekacauan, siklus kecemasan tersebut seolah menjadi satu-satunya hal yang menetap dan sulit dihindari.
Secara ilmiah, konsep jendela toleransi pertama kali diperkenalkan oleh Dan Siegel, MD, seorang Profesor Klinis Psikiatri di Fakultas Kedokteran UCLA. Konsep ini menggambarkan kondisi ideal saat seseorang mampu berfungsi secara optimal dan produktif, berada tepat di antara lonjakan gairah tinggi (hyperarousal) yang memicu kepanikan serta penurunan gairah (hypoarousal) yang berisiko membawa pada kondisi depresi.
Golee Abrishami menjelaskan bahwa jendela toleransi setiap individu bersifat sangat subjektif dan fleksibel. Ketika seseorang keluar dari zona ideal tersebut, respons yang muncul dapat berupa tindakan menarik diri (freeze) atau justru menjadi sangat protektif dengan mengendalikan hal-hal di sekitarnya secara berlebihan, seperti bekerja tanpa henti atau terlalu fokus pada kerapian ruang hidup.
Untuk melindungi kesehatan mental dan memperluas kapasitas toleransi tersebut, langkah utama yang perlu diambil adalah membatasi interaksi dengan media sosial serta menghentikan kebiasaan gulir duka (doomscrolling). Otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk menerima pasokan berita buruk secara terus-menerus selama 24 jam sehari, sehingga jeda dari dunia maya menjadi kebutuhan mendasar.
Selain membatasi paparan layar, menjaga pola hidup sehat melalui istirahat yang cukup, peka terhadap sinyal kelelahan fisik, serta menyempatkan diri beristirahat sangat efektif untuk mencegah kejenuhan ekstrem (burnout). Aktivitas positif di luar ruangan, berolahraga, serta meluangkan waktu bersama orang-orang terdekat juga terbukti ampuh memicu hormon kesenangan (dopamine) yang mampu memulihkan keseimbangan emosional.
Mengenali batas kemampuan diri dan berani mengambil jeda bukanlah bentuk kelemahan, melainkan investasi terbaik untuk menjaga ketahanan emosional di tengah dinamika kehidupan. Mari mulai beri ruang bagi diri sendiri untuk bernapas lega dan menikmati setiap momen hari ini dengan penuh kesadaran. (gdi)

