
WANITAINDONESIA.CO – Pasar sunscreen di Indonesia memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi, khususnya permintaan sunscreen untuk kulit sensitif.
Director Brand, Marketing, and Sales Erha Skincare Group, Afril Wibisono menjelaskan, “Sunscreen merupakan salah satu produk skincare yang memiliki pertumbuhan paling cepat. Kian hari semakin banyak masyarakat yang mengalami kulit sensitif. Mereka mengeluh bila menggunakan produk sunscreen rata-rata, kulit akan terasa tebal, dan mudah jerawatan.”
“Ada 3 faktor pemicu kulit sensitif yang muncul dari beragam permasalahan dermatologi seperti faktor genetik, polusi udara, dan iklim tropis yang identik dengan kelembapan, “ungkapnya.
Afril menerangkan, “Ekosistem Aesthetic Indonesia mengenal dua varian sunscreen berdasarkan proses produksinya. Ada yang disebut dengan sunscreen rata-rata. Ini yang diproduksi massal, bisa digunakan tanpa ada batasan jelas seperti usia, dan jenis kulit yang tepat untuk menggunakannya.”
“Jenis lain adalah Derma Sunscreen yang dikembangkan dengan pendekatan dermatologi. Diformulasikan dengan kandungan bahan aktif terapeutik, “cetusnya.
“Derma sunscreen dibuat khusus untuk mengakomodir kebutuhan pemilik kulit sensitif yang jumlahnya di Indonesia termasuk cukup tinggi, “ucapnya.
Data Erha Skincare 26,9% konsumen Gen-Y di Indonesia mengalami permasalahan kulit sensitif seperti kemerahan, dany iritasi.

Skin Barrier Terawat dengan Sunscreen Yang Tepat
dr. Panji Satjamanggala, Sp.DVE menambahkan, “Isu skin barrier di Indonesia sangat happening, menjadi fokus utama para dermatolog, dan Skin Enthusiast dikarenakan skin barrier memiliki fungsi penting sebagai pelindung kulit dari beragam faktor pemicu kerusakan.”
“Kulit sensitif yang tak diberi pelindung sunscreen bila terpapar sinar matahari, akan membuat kulit wajah menjadi merah, muncul reaksi berlebihan, timbul rasa gatal, dan tidak nyaman, “terangnya.
Dokter Panji menambahkan, “Bila dibiarkan akan merusak skin barrier. Solusinya, apapun kondisinya seperti cuaca panas maupun sedang mendung, serta aktivitasnya, pemilik kulit sensitif wajib untuk selalu menggunakan sunscreen khusus.”
“Tak terkecuali walau mereka sedang berada di dalam rumah sekalipun, wajib menggunakan sunscreen, dikarenakan sinar UV mampu menembus kaca bahkan tembok retak. Selain muncul pula ancaman dari sinar biru dari penggunaan gawai, laptop, serta komputer yang dapat merusak skin barrier, “imbuhnya.
Dokter Panji kemudian menerangkan, Secara general untuk memilah, serta memilih sunscreen yang cocok dengan kulit Skin Enthusiast, cara sederhana perhatikan kemasan produk. Sunscreen harus bersifat blow spektrum yang dapat melindungi skin barrier dari sinar UVB & UVA.
Perlindungan dari UVB (Sinar Ultraviolet B) ditandai dengan tulisan SPF, yang terdiri dari beragam ukuran mulai dari 30, 50 hingga 100. Minimal yang bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari adalah SPF 30. Idealnya sih yang SPF 50. Sedang-kan SPF 100 agak riskan bila diaplikasikan, dikarenakan kulit akan terasa berat, serta dapat menimbulkan residu putih (White Cast).
“Untuk perlindungan dari UVA (Sinary Ultraviolet A) lihat apakah ada kode kemasan berupa PA++++ yang menjadi penanda perlindungan sinar UVA secara luas (blow spectrum), “saran Dokter Panji.
Dokter Panji melanjutkan, “Jenis Sunscreen juga beragam dari yang chemical, hybrid, dan physical. Physical Sunscreen memiliki tekstur lembut, namun patut diingat molekulnya lebih besar.”
“Nah bila diaplikasikan untuk kulit sensitif cenderung akan terasa kurang nyaman, muncul white cast, serta wajah terasa lebih berat.
Hal ini akan membuat seseorang menjadi tidak nyaman, “urainya.

Sunscreen Hybrid Kulit Sensitif
“Untuk kulit sensitif, idealnya menggunakan sunscreen jenis hybrid, yang formulasinya menggabungkan physical, dan chemical sunscreen, “saran Dokter Panji.
Secara umum penting melakukan cara pengaplikasian yang tepat seperti gunakan sunscreen dengan ukuran dua jari di satu bagian wajah. Gunakan sunscreen 15 menit sebelum berkegiatan di luar ruang.
Selalu melakukan pengaplikasian ulang sunscreen setiap dua jam sekali seperti setelah berkeringat, wajah terkena air. Dikarenakan fungsi perlindungan sunscreen setelah durasi 2 jam akan berkurang.
Walau sudah menggunakan sunscreen bukan berarti Anda tak perlu perlindungan tambahan. Bila di luar ruang dengan paparan sinar matahari yang intens disarankan untuk memakai topi, payung, serta kacamata hitam.
Afril melanjutkan, “Erha Skinsitive Ultracalm Face Sunscreen SPF 50 PA++++ diciptakan dari hasil identifikasi kebutuhan para pasien yang kita rangkum, kemudian didevelop. Muaranya untuk memperbaiki skin barrier, dengan mengedepankan aspek kenyamanan bagi pemilik kulit sensitif.”
“Upaya selanjutnya adalah formulasi secara klinis, kemudian kita validasi perawatan secara berkelanjutan. Bahkan setelah produknya puluhan tahun dipasarkan, tetap kami validasi.
Tentunya dengan memperhatikan apa saja yang masih dibutuhkan pasien, “jelasnya.
Afril menambahkan, “Jadi kehadiran Ultracalm Face Sunscreen SPF 50 PA++++ didorong oleh kebutuhan klinis yang nyata, dan bukan dipengaruhi tren pasar.”
Sebagai brand khusus dengan semangat stronger barrier from Erha Derma-Lab, Erha Skinsitive Ultracalm Face Sunscreen unggul, lewat teknologi dari Hybrid UV Filter. Merupakan kombinasi physical, dan chemical filter yang berfungsi untuk memberikan perlindungan ganda. Dan ini terbukti klinis lebih kuat, dibandingkan dengan physical sunscreen.
Kian menyenangkan produk istimewa ini tidak menimbulkan White Cast, karena memiliki tekstur ultra -lightweight yang tidak meninggalkan residu putih. Produk tentu saja berbeda dengan physical sunscreen yang cenderung berat, berdampak white cast.
Tak kalah penting Skin-Identical Ceramide, ceramide yang identik dengan struktur alami kulit, untuk memperkuat skin barrier, menenangkan kemerahan, serta menghidrasi secara mendalam.
Juga mengandung Niacinamide yang berfungsi untuk mencerahkan, serta meratakan warna kulit, sekaligus memperkuat pertahanan kulit. (*)




