Site icon Wanita Indonesia

Kemasan Alami & Plastik di Mata Puan Maharani & Pelaku Pelaku Usaha Kuliner

Veryaningsih Founder Ning Corner's bicara kemasan plastik, dan kemasan alami, taktik bertahan serta mengembangkan bisnisnya, inginkan Pemerintah hadir dukung UMKM kuliner berkelanjutan hadapi tekanan ekonomi global, dari memanasnya geopolitik dunia. (Foto: Veryaningsih)

WANITAINDONESIA.CO – Krisis ekonomi global yang dipengaruhi oleh memanasnya Geopolitik dunia telah berdampak nyata pada para pelaku UMKM Kuliner di Indonesia.

Sektor ekonomi kreatif ini kerap menghadapi tantangan internal serta global. Krisis ekonomi, gangguan rantai pasok internasional, fluktuasi harga bahan baku yang berpengaruh langsung pada harga produk, biaya operasional, serta kapasitas produksi harus diantisipasi. Para pelakunya harus adaptif.

Belakangan, dan yang bikin kelimpungan naiknya harga plastik kemasan hingga 80 persen.
Komponen plastik menjadi bagian terpenting dari bagian proses produksi. Para pelaku usaha menggunakannya sebagai pembungkus produk, maupun sebagai kantung.

Ketua DPR RI, Puan Maharani menganjurkan UMKM Kuliner untuk mengemas produk mereka menggunakan kemasan alami. Ada banyak jenis daun yang bisa dimanfaatkan para pelaku usaha.

Selain lebih murah karena ketersediaan berlimpah, makanan yang dikemas dengan menggunakan daun akan memberi nilai lebih dibanding plastik. Selain jadi lebih sehat, serta ramah lingkungan.

Upaya yang berasal dari kearifan lokal masyarakat Indonesia tersebut bisa dijadikan ciri khas produk kuliner Indonesia.

Apakah himbauan tersebut related dengan kondisi sekarang? Wanitaindonesia.co menanyakan hal tersebut ke Veryaningsih, pemilik usaha kuliner kue-kue klasik rumahan, dan Ning Corner’s Cafe di bilangan Depok, Jawa Barat.

Bisnis kuliner rintisan di tahun 2010 tersebut, mampu bertahan karena sangat elegan dalam mentreatment pelanggan lewat kekuatannya sebagai sosok Wanita Indonesia mumpuni.

Persona Wanita Indonesia penjaga kelezatan alami kue-kue jadul itu memberikan pendapat, bagaimana upaya yang telah dilakukan sepenuh hati, agar bisnis bisa berkelanjutan di bawah tekanan ekonomi global, sebagai akibat dampak memanasnya geopolitik.

Anda wajib coba produk kue klasik, dan modern yang ditata dalam nampah bambu, tanpa plastik favorit pelanggan. (Foto: Veryaningsih)

Wanitaindonesia.co:

“Apa tantangan bagi para pelaku UMKM kuliner dari tekanan ekonomi global sebagai akibat memanasnya tensi geopolitik?

Veryaningsih:

“Sebagai wanita pelaku UMKM kuliner saya merasa bersyukur dikarunia Tuhan dengan kondisi kesehatan mental yang tangguh. Walau menjanjikan, dunia usaha kerap menempa mental pelaku untuk terus berpikir kreatif, sembari bertahan, serta membesarkan usaha dari beragam tantangan zaman. Ini tantangan yang harus dijawab dengan kreativitas, inovasi, dan passion, “tegasnya.

“Menghadapi situasi sekarang tak bijak bila hanya mengeluh. Karena hal tersebut hanya mendatangkan energi negatif, juga tidak menyelesaikan masalah.
Saya tak mampu menolak ketika bahan baku naik, plastik kemasan pun demikian. Solusinya saya lebih mengorbankan profitabilitas, tanpa mengurangi kelezatan rasa kue-kue Ning Corner’s yang telah menjadi signature dish di sejumlah momen penting keluarga Indonesia.”

“Saya juga rutin membuat varian kue -kue baru terinspirasi dari keberagaman bahan lokal yang kerap dilupakan, seperti eksplorasi umbi-umbian menjadi produk bernilai jual tinggi.”

“Dengan layanan paripurna dari hati, saya terbiasa berkomunikasi dengan para pelanggan. Pelanggan itu bagai keluarga atau sahabat, yang kerap saya sapa ihwal tingkat kepuasan mereka terhadap produk yang dipesan,”jelasnya.

“Di sela-sela perbincangan tersebut, saya akan menjelaskan kondisi ekonomi global, yang justru tak berpengaruh terhadap harga jual produk saya. Sungguh saya bertekad, serta berupaya maksimal agar harga kue Ning Corner’s tak naik layaknya produk kuliner lainnya. Jika boleh diartikan “Merdeka” itu adalah bisa menikmati kue-kue kami di setiap momen tanpa ada tekanan, dan kekhawatiran.”

“Harga kue yang tak naik sangat diapresiasi pelanggan. Mereka mendukung saya dengan lebih intens memesan, dan meningkatkan jumlah pesanan, “ucap Ning.

“Tantangan perekonomian global tentunya membutuhkan pelaku usaha sejati. “Saya akan teguh menjaga aroma sedap dari Ning Corner’s, hadir membersamai setiap momen keluarga Indonesia, dengan sajian spesial kue bercita rasa klasik premium, “ujarnya.

Pelanggan merupakan marwah dari keberlanjutan bisnis UMKM kuliner, selebihnya peran Wanita Indonesia mumpuni (Veryaningsih no 2 dari kanan) yang mengelolanya lewat legacy, passion, dan komitmen. (Foto: Veryaningsih)

Wanitaindonesia.co:

“Inovasi apa yang dihadirkan dalam menghadapi tekanan ekonomi global, akibat konflik geopolitik yang memanas?

Veryaningsih:

“Kenaikan harga energi, logistik hingga bahan baku mengharuskan saya melakukan efisiensi di tengah margin yang semakin tertekan. Utamanya saya tak serta-merta untuk menaikan harga jual produk kue yang dibuat.”

“Berpegang pada tren konsumsi hemat, saya mengembangkan tampilan kemasan minimalis, juga membuat isi yang kian variatif seperti konsep penyajian dalam tampah (alat pemilah beras dari kotoran dari anyaman bambu, yang dialih fungsi menjadi wadah kue.”

Tampilan kue di atas tampah modern berisi kurang lebih 10-25 jenis. Dari varian jajan pasar hingga kue-kue modern seperti Onde-onde, Apem, Bugis Mandi, dan Jongkong. Kue modern diantaranya Lapis Surabaya, dan Eclairs. Untuk kisaran harga mulai dari Rp.70.000 hingga Rp.100.000.

“Sebagai penyedia layanan kue-kue klasik premium, saya mendiversikan produk saya sebagai legacy kelezatan rasa lintas generasi nan otentik, yang dibuat dengan marwah pengabdian bagi generasi sekarang, dan berikutnya, “ungkapnya.

Produk terbaru menjawab tantangan dari krisis ekonomi global adalah yang sangat diminati pembeli yakni Donat, Brownies Kukus Ketan Hitam, dan Roti Sisir. Kesemuanya langsung digemari pembeli, melengkapi kelezatan kue-kue signature dish sebelumnya seperti Aneka Lapis Legit, Cake Marmer, Donat Kentang Klasik, Onde-onde, Risoles Smoked Beef, dan Kue Sus.

Bolu Kukus Ketan Hitam Keju Lumer, salah satu taktik jitu Ning Corner’s bisnis UMKM berkembang lewat diversifikasi produk, di tengah beragam tantangan. (Foto: Veryaningsih)

Wanitaindonesia.co:

Ketua DPR RI, Puan Maharani meminta para pelaku UMKM beralih untuk menggunakan kemasan alami seperti daun pisang, dan daun jati sebagai pengganti plastik. Kearifan lokal pelaku usaha kuliner terdahulu jika diaplikasikan di masa kini, tentunya akan memberi nilai dari estetika, rasa, serta daya tahan makanan.

“Apa tanggapan ibu terhadap anjuran tersebut?
Apakah memungkinkan, mengingat daun pembungkus ketersediaannya tak berlimpah seperti dahulu, serta banyaknya para pelaku usaha kuliner?

Veryaningsih:

“Ning,s Corner mendukung penggunaan kemasan alami yang diaplikasikan pada kemasan sebagian kue. Namun patut diingat, migrasi dari plastik ke kemasan alami butuh masa transisi, serta penyesuaian. Pemerintah harus menyiapkan sistem serta regulasi yang matang guna merealisasikan pengunaan kemasan alami tersebut.”

Lebih lanjut wanita yang kerap disapa Ning menegaskan, penggunaan kemasan alami memiliki tantangan tersendiri, menyelaraskan zaman. Tentunya tak sama dengan pelaku usaha terdahulu yang lekat dengan pemakaian kemasan alami.

Di masa sekarang pembungkus makanan yang berasal dari alam sebagian cenderung tak praktis. Bagi pelaku usaha kuliner berskala besar, proses penyimpanan daun tak bisa lama. Daun cepat layu, menguning, untuk kemudian rusak.

Selain ketersediaan bahan yang terbatas. Soal harga, pasti lebih mahal dari kemasan plastik. Saat ini belum memungkinkan para pelaku usaha kuliner bermigrasi, untuk memakai kemasan alami secara terus menerus pada produksinya.

Pemerintah harus mencarikan solusi. Penggunaan kemasan alami memiliki tantangan tersendiri. Tak sama dengan pelaku usaha terdahulu. Tak praktis seperti daun bambu yang harus dihilangkan bulu-bulu halus serta debu, dan kotoran.

Caranya harus dicuci berulang kemudian direbus, untuk selanjutnya dibersihkan kembali dengan cara dicuci ulang. Juga harus dipotong menyesuaikan bentuk adonan yang hendak dibungkus. Pun halnya penggunaan daun talas, jika tidak apik dalam penanganannya bisa berdampak alergi di lidah.

Untuk harga, menurut saya juga lebih mahal dari kemasan plastik. Sangat tidak praktis bila digunakan untuk pelaku usaha kuliner, terlebih yang berskala besar.
Saat ini belum memungkinkan menggunakan kemasan alami secara terus menerus untuk proses produksi.

Selagi belum ada langkah konkret Pemerintah, untuk menyediakan alternatif pembungkus makanan yang ramah lingkungan, dengan harga terjangkau, plastik masih jadi pilihan.

Namun demikian sebagai pelaku UMKM kuliner yang bertekad menghadirkan pengalaman menikmati khasanah kue-kue klasik premium, saya telah berinovasi dengan membuat produk yang tak menggunakan kemasan maupun pembungkus plastik. Seperti meniadakan pemakaian daun pisang pada olahan lemper, yang diganti dengan versi cetak.

Bolu Gulung dengan isian khas perekat rasa lintas generasi. (Foto: Veryaningsih)

Wanitaindonesia.co:

“Apakah ibu melakukan efisiensi produksi dengan meminimalkan sampah?

Veryaningsih:

“Sudah pasti, saya lakukan proses dari hulu ke hilir seperti jumlah pembelian, teknik , dan kontrol penyimpanan bahan baku hingga proses penggunaan ketika produksi. Saya pastikan tak satupun yang harus terbuang karena hingga sekarang saya tetap melakukan kontrol produksi.” (*)

Exit mobile version