WANITAINDONESIA.CO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah ternyata memiliki dampak yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengisi piring makan siang anak-anak sekolah. Di Desa Kagungan Ratu, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Lampung, program ini menjelma menjadi jembatan kesejahteraan bagi para ibu rumah tangga.
Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat, para ibu kini tidak hanya berperan sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga menjadi aktor utama di balik pasokan sayur dan buah segar untuk dapur produksi gizi.
Kemitraan antara Dapur MBG Kagungan Ratu dengan KWT ini merupakan langkah nyata dalam menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya jelas: memastikan program nasional ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Agus Hermawan, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kagungan Ratu, mengungkapkan bahwa pihaknya sangat memprioritaskan pembelian produk lokal.
“Kami mendapat masukan dari yayasan mitra untuk mengutamakan produk dari lingkungan sendiri. Dengan begitu, program MBG ini memberikan dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi warga desa,” ujar Agus dalam keterangannya, Minggu.
Sayur Segar, Gizi Maksimal
Dapur MBG yang dikelola oleh Yayasan Persaudaraan Bumi Sriwijaya ini menjamin bahwa setiap porsi makanan yang sampai ke tangan anak-anak mengandung nutrisi terbaik. Rahasianya? Bahan baku yang dipetik langsung dari kebun para ibu KWT.
Ahli Gizi SPPG, Aulia Choirunnisa, menambahkan bahwa kualitas bahan pangan sangat menentukan efektivitas pemenuhan gizi. Sayur dan buah yang baru dipetik memiliki kandungan vitamin yang lebih utuh dibandingkan bahan yang telah melalui perjalanan distribusi yang panjang.
“Kerja sama dengan petani lokal ini sangat membantu kelancaran produksi. Kami mendapatkan bahan yang benar-benar segar setiap hari,” jelas Aulia.
Bagi para ibu di Desa Kagungan Ratu, program ini adalah berkah. Riswanti Iriani, Ketua KWT Kagungan Ratu, menyambut kolaborasi ini dengan penuh antusias. Menurutnya, ini adalah peluang emas bagi ibu rumah tangga untuk lebih produktif tanpa harus meninggalkan desa.
“Selain lingkungan menjadi hijau karena aktivitas budidaya, penjualan hasil kebun ini otomatis menambah penghasilan keluarga kami. Ini membuka peluang kerja baru bagi ibu-ibu di sini,” kata Riswanti dengan nada bangga.
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa keterlibatan UMKM dan komunitas lokal seperti KWT adalah kewajiban dalam program MBG. Hal ini dilakukan untuk memutar roda ekonomi daerah dan mencegah inflasi.
Dengan keberagaman menu yang memanfaatkan bahan lokal, ketersediaan bahan baku akan selalu terjaga. Kolaborasi cantik di Desa Kagungan Ratu ini menjadi bukti nyata bahwa dari tangan dingin para ibu, kita tidak hanya sedang menyiapkan generasi yang sehat secara fisik, tetapi juga membangun desa yang kuat secara ekonomi. (Gdi)

