WANITAINDONESIA.CO – Kebakaran lahan gambut tidak dapat diselesaikan hanya dengan memadamkan api. Perubahan kondisi hidrologi yang membuat gambut kehilangan air menjadi persoalan utama yang perlu ditangani untuk mencegah kebakaran berulang sekaligus mempertahankan fungsi ekologisnya.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dony Rachmanadi menjelaskan, gambut pada dasarnya merupakan ekosistem lahan basah yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan selama ribuan tahun.
Dalam kondisi alami, gambut jenuh air dan mampu menyimpan air hingga sekitar 13 kali bobotnya. Namun, kondisi ini berubah ketika gambut dikeringkan untuk berbagai kepentingan. Pembuatan kanal dan pengeluaran air dari kawasan gambut menyebabkan bahan organik yang sebelumnya basah menjadi kering dan mudah terbakar.
“Sebetulnya kebakaran gambut itu masalahnya adalah masalah hidrologi. Masalah apinya merupakan dampak lanjutannya. Kalau kita mau menyelesaikan kebakaran, kita harus bisa menyelesaikan masalah hidrologinya,” kata Dony saar Media Lounge Discussion dikutip laman resmi BRIN di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Dia menjelaskan, karakteristik gambut perlu dipahami agar penanganannya tidak disamakan dengan tanah mineral. Gambut terbentuk dalam kondisi rawa yang minim oksigen sehingga proses dekomposisi bahan organik tidak berlangsung sempurna. Proses ini menghasilkan lapisan organik tebal yang kaya karbon sekaligus memiliki kemampuan besar dalam menyimpan air.
Pembentukannya pun berlangsung sangat lambat. Dalam kondisi ideal, pembentukan lapisan gambut setebal satu milimeter membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Karena itu, kerusakan akibat kebakaran dalam waktu singkat dapat menghilangkan hasil proses ekologis yang berlangsung selama ribuan tahun.
“Gambut juga memiliki arti penting dalam mitigasi perubahan iklim. Meskipun secara global hanya menutupi sekitar tiga persen permukaan daratan, ekosistem gambut menyimpan lebih dari 30 persen karbon tanah dunia. Ketika gambut mengalami pengeringan dan terbakar, karbon yang tersimpan tersebut dapat terlepas ke atmosfer,” ujar Dony menuturkan.
Di Indonesia sendiri, kata Dony mengungkapkan, terdapat perbedaan antara luas tanah gambut dan luas ekosistem gambut. Luas tanah gambut dengan ketebalan lebih dari 50 sentimeter sekitar 13,4 juta hektare. Sementara itu, jika menggunakan pendekatan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), luas ekosistem gambut mencapai sekitar 24 juta hektare.
KHG merupakan satu kesatuan lanskap gambut yang umumnya berada di antara dua sungai.
Pendekatan ini penting karena pengelolaan gambut tidak dapat dilakukan hanya pada titik tempat tanah gambut ditemukan, melainkan harus mempertimbangkan sistem hidrologi dalam satu bentang alam.
Sebaran utama gambut Indonesia terdapat di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Selain gambut dataran rendah, Indonesia juga memiliki gambut dataran tinggi, antara lain di dataran tinggi Dieng serta sejumlah wilayah di Sumatera.
Dony mengatakan, kerentanan gambut meningkat ketika sistem hidrologinya terganggu.
“Pengeringan membuat lapisan organik menyerupai tumpukan bahan tumbuhan kering yang mudah terbakar. Api kemudian dapat merambat ke bawah permukaan dan bertahan di dalam lapisan gambut. Begitu mendapat oksigen, dia bisa menyala lagi. Gambut benar-benar bisa padam kalau kembali terendam air,” katanya.
Kebakaran berulang juga mengurangi kemampuan gambut menahan air. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, satu kali kebakaran dapat menurunkan kemampuan gambut memegang air sekitar 15 persen. Apabila kebakaran terjadi berulang hingga empat kali, penurunannya dapat mendekati 30 persen.
Kerusakan tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran berikutnya, tetapi juga dapat memperbesar risiko banjir. Gambut yang sehat berfungsi seperti spons yang menyimpan air dan membantu menjaga kestabilan hidrologi kawasan. Saat kemampuan tersebut berkurang, air lebih cepat mengalir ke wilayah sekitarnya.
“Berbagai tanaman asli gambut memiliki potensi ekonomi tanpa harus mengubah kondisi hidrologi secara drastis. Selama kita bisa menjaga gambut tetap basah, dia bisa dimanfaatkan. Banyak tanaman asli gambut yang sebenarnya dapat dimanfaatkan,” ujar Dony.
Menurut dia nilai pemanfaatan tersebut perlu dilihat secara lebih luas, tidak hanya dengan membandingkan keuntungan ekonomi langsung antar-komoditas. Fungsi penyimpanan karbon, pengaturan air, keanekaragaman hayati, hingga potensi bioprospeksi merupakan bagian dari nilai ekosistem gambut.
BRIN sendiri melakukan berbagai riset terkait gambut, mulai dari rehabilitasi dan restorasi ekosistem, keanekaragaman hayati dan bioprospeksi, hingga pengembangan teknologi penanganan kebakaran.
Pengetahuan tersebut diperlukan untuk memastikan kebijakan pengelolaan gambut sesuai dengan karakteristik ekologisnya.
Dony juga menyatakan, rencana pembentukan badan pengelola gambut dan mangrove nasional yang saat ini masih dalam proses pembahasan pemerintah. Menurut dia, kelembagaan tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan bencana serta pengelolaan gambut berbasis desa dan lanskap.
Namun, keberhasilan perlindungan gambut tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat yang hidup dan beraktivitas di kawasan tersebut.
Berbagai praktik dan kearifan lokal masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem sekaligus mengembangkan pemanfaatan yang sesuai dengan kondisi gambut.
Ia kemudian merangkum pengelolaan gambut dalam tiga prinsip utama, yakni mempertahankan kondisi basah, menjaganya secara bersama-sama, dan memastikan setiap upaya pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan. (Yud)

