
WANITAINDONESIA.CO – Langkah ganda putri Indonesia, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, harus terhenti pada babak perempat final Kejuaraan Dunia BWF 2026 di New Delhi, India. Setelah sebelumnya berhasil membuat kejutan besar dengan menumbangkan pasangan unggulan kedua asal Jepang, Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto, ganda putri harapan Indonesia ini justru gagal mengeluarkan permainan terbaiknya saat menghadapi pasangan unggulan ke-12 asal China, Li Yi Jing/Luo Xu Min. Pertandingan yang berlangsung pada Jumat tersebut berakhir dengan skor 13-21 dan 14-21.
Kekalahan ini menjadi sorotan karena pola permainan yang telah dirancang tim pelatih tidak mampu berjalan optimal di atas lapangan. Rachel Allessya Rose mengutarakan bahwa perbedaan hasil kali ini sangat dipengaruhi oleh banyaknya kekhilafan mendasar yang mereka lakukan sepanjang laga.
“Kami banyak melakukan kesalahan dan banyak mati sendiri. Kami sudah mencoba mengikuti semua instruksi pelatih, tetapi hari ini banyak pukulan kami yang tidak pas,” ujar pemain ganda putri Indonesia, Rachel Allessya Rose.
Rachel Allessya Rose menilai gaya permainan Li Yi Jing/Luo Xu Min sebenarnya tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan pertemuan mereka sebelumnya. Kendati demikian, tekanan demi tekanan dari ganda China tersebut membuat pasangan Indonesia selalu berada dalam posisi tidak menguntungkan sejak set (gim) pertama hingga laga usai.
Menambahkan penjelasan rekannya, Febi Setianingrum mengungkapkan bahwa kendala utama mereka di lapangan berada pada aspek kecepatan akselerasi yang tak mampu mengimbangi tempo lawan. Ketidakmampuan mengikuti ritme cepat permainan Li Yi Jing/Luo Xu Min membuat skema pertahanan dan serangan ganda Indonesia rapuh.
“Hari ini kecepatan permainan kami juga tidak keluar sehingga tidak bisa mengimbangi mereka. Ke depan kami harus lebih konsisten dalam pukulan dan tidak banyak mati sendiri,” tutur pemain ganda putri Indonesia, Febi Setianingrum.
Pelajaran berharga dari panggung kejuaraan tertinggi di New Delhi ini menegaskan bahwa tingkat konsistensi dan adaptasi tempo merupakan kunci mutlak dalam bersaing di level elit dunia. Meski harus terhenti di babak delapan besar, evaluasi menyeluruh ini menjadi modal krusial bagi Rachel/Febi untuk membenahi akurasi serta ketahanan mental sebelum kembali menghentak panggung bulu tangkis internasional berikutnya. (Gdi)




