Site icon Wanita Indonesia

Kado Spesial HUT RI Ke-81 & 50 Tahun Darya-Varia Berkarya Persembahkan “D-STAR”

Asa bangsa Grace Hendrawan dari Sekolah Farmasi ITB bersinar bagi ekosistem peneliti Indonesia, salah' satu dari 5 pemenang D-STAR 2026. Foto: Wanitaindonesia.co

WANITAINDONESIA.CO – Waktu berlari begitu cepat, kondisi chaos terjadi di mana-mana.

Tapi dari perspektif orang bijak, kondisi buruk dari geopolitik global serta beragam masalah di dalam negeri, harus dilawan dengan terus berproses, berkarya sembari menghasilkan sesuatu yang bernilai untuk bangsa, dan negara.

Inilah yang kemudian dipersembahkan oleh sejumlah mahasiswi dari Perguruan Tinggi ternama Indonesia seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Sekolah Farmasi ITB, Universitas Airlangga, dan Universitas Pancasila. Hadir asa lewat karya sebagai peneliti muda yang diwujudkan lewat inisiatif berkelanjutan Darya-Varia yakni Program D-STAR 2026. D-STAR (Darya-Varia Scholarship for Talented Aspiring Women Researchers).

Program yang dipujikan oleh ekosistem peneliti Indonesia sebagai upaya untuk melanjutkan kaderisasi dari dunia akademik, yang ditujukan bagi perempuan muda.

Lewat momentum epik 50 Tahun Darya-Varia berkarya serta jelang perayaan heroik HUT RI Ke -81, Darya-Varia menegaskan kembali komitmennya untuk terus berkontribusi bagi masa depan kesehatan Indonesia, lewat beragam produk inovatif berkualitas, juga melakukan investasi pada pengembangan talenta asa generasi muda Indonesia.

D-STAR 2026 mengusung tema “Empowering Women Researchers to Level Up as Future Leaders.” Bertujuan untuk memberikan dukungan nyata berupa pendanaan untuk proyek riset senilai puluhan juta rupiah. Juga melakukan pelatihan intensif dari pakar industri serta jembatan kolaborasi antara kampus dengan industri kesehatan.

Program didedikasikan bagi perempuan muda untuk berkembang sebagai peneliti, inovator, pemimpin yang akan berperan dalam mendorong kemajuan sektor kesehatan Indonesia.

Masuk tahun ketiga D-STAR diikuti oleh perwakilan mahasiswi dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Sekolah Farmasi ITB, Universitas Airlangga, Universitas Pancasila untuk memenangkan 3 kategori yakni D-STAR Winner, D-STAR Achievement Scholarship, dan D-STAR Appreciation Scholarship.

Pada penyelenggaraan ketiga di tahun 2026, pelaksanaanya kian berkembang, tak hanya sekedar program beasiswa lewat pendanaan penelitian, melainkan terdapat pengembangan kepemimpinan, akses kepada praktisi industri, dan jejaring profesional, agar tercipta peneliti Indonesia yang turut berkontribusi dalam pembangunan di sektor kesehatan, lewat karya nyata serta diapreasi masyarakat dalam, dan luar negeri.

Darya-Varia berniat mulia untuk membantu mempersiapkan lebih banyak perempuan muda, agar mampu berkontribusi dalam riset, dan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Program menjadi cerminan keyakinan perusahaan bahwa keberagaman perspektif dalam dunia penelitian akan melahirkan solusi kesehatan yang lebih inklusif, relevan, berkelanjutan.

“Pada momentum 50 Tahun Darya-Varia berkarya, kami ingin memastikan bahwa kontribusi perusahaan tidak hanya hadir lewat produk kesehatan berkualitas, melainkan juga untuk investasi pada talenta muda yang turut berkontribusi untuk membentuk masa depan kesehatan Indonesia, “ujar dr. Ian Kloer, Presiden Direktur Darya-Varia Laboratoria Tbk.

PT Darya-Varia memiliki komitmen sepenuh hati untuk terus berkontribusi bagi masa depan kesehatan masyarakat Indonesia, lewat produk inovatif berkualitas sembari berinvestasi bagi pengembangan talenta muda asa bangsa, (Ki-ka) : Prof.Dr.apt.Ilma Nugrahani, S.Farm., M.Si., Seminariat Ikatan Apoteker Indonesia, dan Guru Besar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Astry Tri Astuti, Direktur Growth Ventures, PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, Juri D-STAR 2026. Foto: Wanitaindonesia.co

D-STAR Era Baru Peneliti Muda Indonesia

“Mengapa kami mengalokasikan pada program pengembangan talenta peneliti muda seperti D-STAR, di tengah tantangan industri farmasi yang sangat kompetitif?.

dr. Ian menjelaskan, “Lewat program D-STAR kami percaya hal ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung percepatan industri farmasi secara umum. Kami melihat industri membutuhkan banyak sekali inovasi. Terlihat jarak yang mana periset perempuan membutuhkan wadah, jejaring serta support system yang handal.”

“Saya memahami untuk tenaga riset di kampus telah mendapatkan dukungan yang kuat, namun soal membangun jejaring saya pikir itu belum mereka dapatkan.”

“Lewat suport untuk D-STAR, kami harap akan ada banyak penelitian yang sangat bermanfaat, yang mana di masa depan bisa dieksplorasi hingga menghasilkan produk penelitian yang berdampak bagi kemaslahatan umat manusia. “Untuk itu penting dibangun peluang berkolaborasi serta membangun jejaring dengan perusahaan farmasi. Perlu saya tekankan untuk membangun jejaring tak harus selalu dengan Darya-Varia. Karena lewat kolaborasi serta jejaring dengan banyak perusahaan farmasi di Indonesia akan mendorong, terjadinya pertumbuhan ekosistem peneliti, dan riset di Indonesia, “imbuhnya.

“Akan ada banyak peluang khususnya bagi peneliti perempuan yang masih harus diberi suport agar bisa ditingkatkan lagi skills serta kuantitasnya, khususnya di Indonesia.”

“Kami percaya bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong inovasi, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Penting bagi dunia akademik, dan industri untuk berkolaborasi menciptakan lebih banyak lagi kesempatan bagi mereka untuk berkembang, dan memimpin, “papar dr. Ian.

Para mahasiswi peneliti program D-STAR di dampingi para dosen pembimbing, dari perguruan tinggi ternama di Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, dan Universitas Pancasila. Foto: Wanitaindonesia.co

dr. Ian berpesan bila nanti sukses, peneliti tak boleh terlena di zona nyaman. Mereka harus memiliki DNA eksplorasi untuk menghasilkan inovasi baru yang membantu Pemerintah serta kesejahteraan masyarakat luas khususnya di bidang kesehatan.

dr. Ian menceritakan saat menghadiri seminar kesehatan, ada sebuah perusahaan yang sedang meneliti obat tetes mata konvensional. Setelah diteliti, ternyata dari produk yang lekat dengan keseharian masyarakat itu, bisa dikembangkan agar berdampak lebih banyak lagi pada aspek kesehatan lainnya.

“Tantangan seperti ini harus bisa dijawab oleh para peneliti muda Indonesia, mengingat Tanah Air kita memiliki beragam kekayaan alam yang berlimpah. Saat ini menanti untuk dieksplorasi, guna memperkuat status kesehatan masyarakat serta jati diri sebagai sebuah bangsa besar, “ujarnya.

Tahun ini, salah satu fokus topik penelitian dalam program beasiswa D-STAR adalah pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Hal ini dilatarbelakangi oleh masih adanya AI Gender Gap.

Data global Harvard Business School dan Lean In, laki -laki tercatat menggunakan AI generatif secara rutin 16-22% lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Sementara itu di industri teknologi, perempuan baru mengisi sekitar 26 % dari peran sebagai spesialis AI.1.

“Melalui D-STAR, kami ingin memberdayakan lebih banyak perempuan muda berbakat untuk berkembang menjadi peneliti, inovator, dan pemimpin yang mampu menghadirkan solusi kesehatan, yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, “kata dr.Ian.

“Kami berharap, program dapat membantu memperluas representasi perempuan di dunia riset, sekaligus menghasilkan dampak berkelanjutan bagi ekosistem kesehatan Indonesia, “imbuhnya.

“Untuk menjadi peneliti, dan juga pemimpin seorang peneliti perempuan harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dasarnya harus dibangun lewat kompetensi diri yang matang, dikarenakan industri farmasi global berkembang dengan sangat cepat. Dibutuhkan orang-orang yang adaptif, kreatif, selalu ingin tahu serta mau belajar banyak hal-hal baru seperti AI, “terang dr.Ian.

“Ke depan, akan banyak tercipta alat-alat bantu yang memudahkan pekerjaan seorang peneliti, namun syaratnya toolsnya harus dikuasai dengan baik, dan benar. Dikarenakan peran alat bantu tersebut hanya sekedar untuk penopang, bukan untuk menggantikan akal budi serta buah pemikiran kreatif manusia, “ucapnya.

Para pemenang Program D-STAR 2026 didampingi para pemangku kepentingan Darya-Varia (kiri) Widya Olivia Tobing, Legal and Corporate Secretary, PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (kanan), dr.Ian Kloer, Presiden Direktur PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. Foto: Wanitaindonesia.co

Dibangun di Akademik, Kokoh di Industri

Turut berbagi pendapat serta pengalaman di momen pengumuman pemenang peneliti perempuan Darya-Varia, D-STAR 2026, Astry Tri Astuti, Direktur Growth Ventures PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, sekaligus juri D-STAR 2026.

Astry menceritakan, perjalanannya sebagai peneliti, dimulai saat ia tercatat sebagai mahasiswi Farmasi. Boleh dibilang laboratorium tempat saya bekerja sudah seperti rumah kedua.

Waktu berganti, tahun pun berlalu ketika kompetensi dirinya semakin menguat, bertambah, dan memiliki nilai lebih, dia kemudian dipercaya untuk mengemban amanah, sebagai salah satu pucuk pimpinan di perusahaan farmasi ternama.

“Saya percaya sebagai pemimpin Growth Ventures di Darya-Varia, menjadi bukti nyata bahwa perempuan Indonesia memiliki kemampuan yang luar biasa, ketika diberikan kesempatan untuk berkembang, “kata Ashtry.

“Pendapat saya ini juga bisa dibuktikan lewat proposal yang kami terima ketika program D-STAR dibuka. Hampir seluruhnya memiliki bobot yang tinggi, dan jauh lebih berkembang dari penyelenggaraan tahun sebelumnya.”

“Seringkali ada stigma ihwal perempuan yang dianggap kurang kompeten, untuk terjun sebagai peneliti, dikarenakan mahluk Tuhan yang paling indah di muka bumi ini, dianggap tak memiliki kemampuan yang setara dengan kaum pria. Terlebih ketika mereka harus menjalankan peran sebagai isteri, dan ibu bagi keluarganya. Hal ini menurut saya kurang tepat.”

Astry menyorot ihwal akses serta kesempatan yang masih terbatas, mentoring, serta jejaring yang merupakan aspek penting untuk mengkader peneliti muda perempuan yang mumpuni.

“Beruntung kesempatan telah kami buka lewat program D-STAR. Untuk mentor, Indonesia bangga memiliki Prof.Dr.apk.Ilma Nugrahani, S.Farm., M.Si., Seminariat Ikatan Apoteker Indonesia, dan Guru Besar Sekolah Farmasi ITB.”

“Beliau adalah persona perempuan Indonesia yang sangat luar biasa. Melalui kiprah, motivasi serta transfer ilmu, beliau telah ikut berkontribusi signifikan dalam ekosistem peneliti di Indonesia.”

Astry menerangkan, “Perjalanan perempuan di bidang riset di Indonesia sangatlah menggembirakan, terbukti dari banyaknya perempuan yang menempuh pendidikan di bidang tersebut, tapi disayangkan perwakilan perempuan pada level pemimpin belum terlalu tinggi. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Puguh Setiawan dari ekosistem peneliti UGM mengapresiasi program D-STAR yang menjadi jembatan penghubung dua arah, pesan kepada sejawat harus memiliki mental sebagai seorang peneliti. Foto: Wanitaindonesia.co

“Menurut hemat saya, hal ini karena masih ada pola pikir negatif perempuan peneliti itu sendiri. Mereka masih meragukan kemampuan mereka. Tak memiliki fundamental yang kuat, padahal fundamental tersebut sudah diajarkan di bangku kuliah sebagai peneliti di lab, “tambahnya.

Astry melanjutkan, “Jadi menurut saya, penelitian kita itu adalah fondasi strategik yang telah dimiliki sejak dini, dikarenakan kalian memiliki metodologi di bidang penelitian juga memiliki mitigasi risiko ketika di lab.”

“Dulu waktu aktif kuliah, saya merupakan asisten dosen di 4 Lab, yang mana sebagian besar dunianya adalah penelitian. Lewat pengalaman berjenjang, perempuan memiliki keseteraan untuk menjadi pemimpin di masa depan yakni dari skala lab ke skala industri, “imbuhnya.

“Lewat eksplorasi kerja di lab kampus bila nanti mahasiswi memasuki dunia kerja, mereka sudah memiliki fondasi yang sangat kuat, memiliki riset, dan punya strategik konsep yang kuat.”

D-STAR menjadi solusi utama untuk mengasah skills sebagai peneliti sekaligus pemimpin di masa depan bagi perempuan muda.

“Bayangkan saja di masa saya kuliah, program seperti ini jarang. Boleh dibilang belum ada. Di masa itu, saya tak bisa menunjukan eksistensi diri.”

“Sekarang di saat Darya-Varia memiliki program D-STAR untuk berkontribusi dalam membuka kesempatan tersebut, poin pentingnya, manfaatkanlah momentum ini dengan sebaik-baiknya. Karena hanya bersama D-STAR pengembangan talenta perempuan bisa segera diwujudkan, “papar Astry.

“D-STAR juga turut mendorong agar hasil penelitian yang lahir dari kampus, dapat berkembang menjadi sebuah inovasi yang relevan. Berpotensi untuk diterapkan di industri serta memberikan manfaat yang nyata, bagi masyarakat Indonesia.”

“Lewat D-STAR peserta menjadi representasi generasi baru perempuan Indonesia yang lekat dengan kemampuan, keberanian untuk berinovasi, belajar, dan berkontribusi bagi bangsa, dan negara,”imbuhnya.

“Melalui D-STAR, kami ingin membuka lebih banyak lagi kesempatan bagi perempuan untuk tumbuh sebagai peneliti, inovator, dan future leaders. Bagi Darya-Varia, empowering women bukan hanya sebuah tema, tetapi bagian dari budaya perusahaan yang memberikan kesempatan yang setara, bagi perempuan untuk memimpin, dan menciptakan dampak.”

Bilqis dari Universitas Pancasila merasa tersanjung bisa ikut bergabung di Program D-STAR, lewat program ia mendapatkan banyak insight menarik salah satunya rasa percaya dirinya semakin tinggi, dan perempuan muda layak jadi pemimpin. Foto: Wanitaindonesia.co

Mental Peneliti, Pemenangnya Adalah?

Turut berbagi pendapat Puguh Setiawan dari Fakultas Farmasi UGM, menurutnya program seperti D-STAR sangat membantu teman-teman untuk meraih impian sebagai peneliti yang handal.

“Diibaratkan seperti dua sisi yang saling terhubung satu dengan lainnya sangat membutuhkan. Untuk sejawat peneliti tak hanya menguasai ilmu di bidang sains, dan teknologi, tapi juga asah skills kalian dengan menjalin relasi, berkomunikasi dengan para dosen, sejawat. Dan harus banyak bertanya untuk pengayaan wawasan, “ujar Puguh.

“Jangan sungkan bila merasa pertanyaan kalian itu ‘receh’. Percaya deh apapun itu pertanyaan yang kalian ajukan, tentunya akan dijawab dengan antusias oleh dosen. Mereka mengapresiasi mahasiswi yang memiliki keingintahuan tinggi tentang ilmu ilmu dipelajari, maupun penelitian yang sedang dilakukan.”

“Last but not least, teman-teman sejawat harus memiliki mental peneliti objektif, dan jujur. Selain memiliki sifat gigih serta ulet. Juga penting memiliki sifat kritis serta rasa ingin tahu yang tinggi. Mental peneliti itu juga sangat terbuka untuk menerima kritik, saran serta masukan, “ujar Puguh.

Bilqis, mahasiswi Universitas Pancasila yang merupakan salah satu peserta program D-STAR mengungkapkan pengalamannya ketika mengikuti program.

“Saya melihat tantangan yang mengasyikan saat turut berpartisipasi di program, yang mana peserta harus mampu memberikan ide yang bisa diimplementasikan ke dunia industri. Saat sesi brainstroming, kita harus memikirkan inovasi juga implementasinya ke arah industri, sehingga akan berdampak nyata ke masyarakat akar rumput.”

“Saya bersyukur dapat ikut berpartisipasi, lebur ke dalam ekosistem D-STAR, dan menjadi bagian di dalamnya, walau Universitas Pancasila baru bergabung di musim ke -3 program, “tambah Bilqis.

“Lewat D-STAR, saya merasa ada perubahan yang sangat signifikan, ihwal kepercayaan diri sebagai perempuan muda yang terjun sebagai peneliti. Selain itu D-STAR memberikan harapan baru bahwa perempuan bisa serta layak menjadi pemimpin, kami juga dapat melakukan inovasi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Terima kasih D-STAR, Darya-Varia, para juri-juri hebat, mentor yang sangat menginspirasi.”

Kian menarik, walau programnya telah berakhir, saya tetap bisa berkontribusi di bawah naungan ekosistem D-STAR, diantaranya lewat networking, juga sharing ilmu dengan pakar serta sejawat lainnya

Tak kalah penting, D-STAR bukanlah sebuah awal yang baik kemudian berakhir. Melainkan sebuah awal perjalanan yang lebih panjang sebagai peneliti, inovator, maupun pemimpin di masa depan.

Saat sesi pengumuman pemenang D-STAR 2026, Wanitaindonesia.co mengucapkan Selamat kepada, Aufa Camelia Rahia Fairuza dari Universitas Indonesia, Yusfika Herpiyana, Universitas Pancasila, Chofifatus Solecha Azzahra, Universitas Airlangga,Grace Hendrawan, Sekolah Farmasi ITB, Dita Wulandari, Universitas Gadjah Mada. (*)

Exit mobile version