Site icon Wanita Indonesia

Jejak Abadi Laksamana Widodo Adi Sutjipto, Nahkoda Laut Pertama Pemimpin TNI

Mantan Panglima TNI Laksamana (Purn.) Widodo AS. Arsip TNI

WANITAINDONESIA.CO — Dunia militer dan pemerintahan Indonesia kembali diselimuti duka mendalam atas berpulangnya salah satu pengawal terbaik samudera Nusantara. Mantan Panglima TNI Laksamana TNI (Purnawirawan) Widodo Adi Sutjipto mengembuskan napas terakhirnya di kediamannya di Jakarta pada Sabtu, 24 Oktober 2026 jam 21.30 WIB.

Kepergian sang penjelajah bahari ini menyisakan kenangan tentang keteguhan kepemimpinan yang mengukir sejarah baru dalam perjalanan reformasi benteng pertahanan negara.

Kabar duka mengenai kepergian almarhum dikonfirmasi secara resmi oleh TNI kepada media. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayor Jenderal TNI Muhammad Nas mengonfirmasi kabar mantan Panglima TNI Laksamana TNI (Purnawirawan) Widodo Adi Sutjipto telah meninggal dunia.

“Betul, kami semua berduka atas kepulangan beliau,” kata Nas kepada media di Jakarta, Minggu.

Rasa kehilangan ini dirasakan  seluruh jajaran TNI. Lebih lanjut Nas menyampaikan bahwa Panglima TNI pertama dari matra Angkatan Laut tersebut akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Penghormatan terakhir dilaksanakan secara militer di TMP Kalibata. Hari ini pukul 13.30 WIB. Nas mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan tersebut.

“Sama-sama kita doakan semoga khusnul khatimah,” ujarnya.

Lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 1 Agustus 1944, almarhum merupakan putra ke-4 dari pasangan Adi Sutjipto yang berprofesi sebagai seorang guru dan Siti Fatonah. Memulai langkah sebagai lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) 1968, perjalanan kariernya di laut Indonesia terentang panjang.

Almarhum mengawali pengabdian sebagai Perwira Senjata di KRI Irian pada 1968, hingga kemudian dipercaya mengomandani sejumlah kapal perang strategis milik Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), seperti Komandan KRI Monginsidi pada 1986, Komandan KRI Ki Hadjar Dewantara pada 1988, dan Komandan KRI Abdul Halim Perdanakusuma pada 1989.

Kapal perang yang pernah dipimpinnya pun beragam, mulai dari KRI Monginsidi-343 yang merupakan kapal fregat (kapal perang peronda cepat) sekelas dengan KRI Samadikun-341 dari Amerika Serikat Kelas Claud Jones, KRI Ki Hadjar Dewantara-364 sebagai kapal perang korvet (kapal perang kecil yang lincah) buatan Yugoslavia yang juga berfungsi sebagai kapal latih lanjut Taruna Akabri Bagian Laut, hingga KRI Abdul Halim Pedanakusuma-355 dari Kelas Van Speijk buatan Belanda.

Keahlian navigasi dan kepemimpinannya membawa pria yang berpasangan hidup dengan Sri Murniati ini dipercaya menjabat Kepala Staf Angkatan RI Kawasan Barat pada 1994-1995 dan Panglima Armada RI Kawasan Barat pada 1955.

Perjalanan almarhum di puncak pimpinan militer mencetak tinta emas dalam Sejarah Pertahanan Indonesia. Presiden ke-3 BJ Habibie menunjuk Widodo AS yang saat itu masih berpangkat Laksdya menjadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) mulai 26 Juni 1998 menggantikan Laksamana TNI Arief Kushariadi. Pangkat Widodo AS pun naik menjadi Laksamana TNI pada 1 Februari 1999, lalu berlanjut diamanahi jabatan Wakil Panglima TNI mulai 17 Juli 1999. Hanya tiga bulan berselang, Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid mengangkatnya menjadi Panglima TNI periode 1999-2002 menggantikan Jenderal TNI Wiranto.

Serah terima jabatan (Sertijab) dilaksanakan di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, pada 4 November 1999. Momen ini menobatkan dirinya sebagai Panglima TNI pertama dari matra Angkatan Laut (AL) setelah era reformasi.

Pengabdian almarhum kepada bangsa tidak terhenti saat masa jabatannya berakhir pada 18 Juni 2002 dan digantikan oleh Jenderal TNI Endriartono Sutarto. Kemampuan diplomasi dan manajemen krisisnya teuji kembali ketika ditunjuk menjadi Ketua Tim Nasional Penanggulangan Dampak Situasi Irak (TNPDSI) oleh Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri untuk memimpin evakuasi warga negara Indonesia (WNI) saat meletus krisis Irak-Amerika Serikat pada 2002-2003.

Kepercayaan negara berlanjut ketika Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatnya menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) periode 21 Oktober 2004 hingga 22 Oktober 2009 menggantikan Hari Sabarno, bahkan sempat merangkap menjadi Menteri Dalam Negeri ad-interim (sementara) pada 2 April-29 Agustus 2007, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara ad-interim pada 1 Oktober – 22 Oktober 2009, hingga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bidang Pertahanan dan Keamanan periode 2010-2014.

Jejak langkah Laksamana TNI (Purnawirawan) Widodo Adi Sutjipto mengalir laksana samudera yang tenang namun kokoh menjaga keutuhan negeri. Pengabdian panjang sang perwira bahari dari geladak kapal perang hingga meja dewan negara ini menjadi warisan keteladanan yang akan terus menginspirasi generasi penerus bangsa dalam menjaga kedaulatan Ibu Pertiwi. (Gdi)

Exit mobile version