Site icon Wanita Indonesia

Jangan Langsung Olahraga Berat, Kenali Dulu Kondisi Jantung Anda

Atlet hyrox yakni olah raga yang menggabungkan lari dan latihan fungsional (seperti angkat beban, dorong/tarik beban) dalam satu rangkaian, tengah berkompetisi dalam sebuah event di Jakarta belum lama ini. (Tangkapan layar Youtube)

WANITAINDONESIA.CO – Niat hati ingin membakar kalori dan merengkuh kebugaran, namun apa daya jika tubuh justru ambruk di tengah lapangan. Fenomena tumbangnya seseorang saat melakukan aktivitas fisik berat kian marak terjadi belakangan ini. Alih-alih mendapatkan manfaat kesehatan, olahraga yang dilakukan secara mendadak dan berlebihan tanpa persiapan matang justru dapat berubah menjadi ancaman mematikan bagi organ paling vital di dalam tubuh, yaitu jantung.

Fakta memprihatinkan ini ditegaskan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP, FIH. Beliau menyoroti betapa krusialnya melakukan penapisan (skrining) atau pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi siapa saja yang berniat melakoni olahraga berat atau olahraga dengan intensitas tinggi (high intensity exercise). Upaya medis ini menjadi benteng pertahanan pertama guna menekan dan meminimalkan berbagai risiko kesehatan yang tidak diinginkan.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) tersebut mengungkapkan keprihatinannya terhadap abainya sebagian masyarakat akan prosedur penting ini. Menurutnya, banyak sekali kejadian fatal di mana seseorang yang tidak pernah memeriksakan kondisi tubuhnya, tiba-tiba ambruk hingga kehilangan nyawa saat berolahraga. Padahal, esensi utama dari beraktivitas fisik adalah untuk mendongkrak kebugaran sekaligus memperbaiki faktor risiko penyakit, bukan malah mendatangkan bahaya tersembunyi.

Lebih lanjut, dr. Ade memberikan gambaran nyata mengenai risiko yang mengintai di balik ambisi fisik yang tidak terukur. Beliau mengingatkan agar setiap orang mengukur kapasitas diri sebelum menantang tubuh dengan batas maksimal.

“Semakin tinggi intensitas olahraga kita, lakukan skrining. Jadi kalau kamu enggak biasa olahraga tapi tiba-tiba lari maraton penuh (full marathon), apa yang terjadi? Serangan jantung.”

Bagi individu yang selama ini jarang aktif bergerak atau tidak biasa berolahraga, pemeriksaan medis awal menjadi hal yang mutlak sebelum memutuskan untuk terjun ke olahraga berintensitas sedang hingga berat, seperti bermain sepak bola atau lari jarak jauh. Melalui rangkaian evaluasi medis, tim dokter dapat mendeteksi secara dini berbagai faktor risiko tersembunyi. Beberapa di antaranya meliputi pelacakan riwayat penyakit jantung dalam silsilah keluarga, hingga pemeriksaan terhadap keluhan fisik yang sering diabaikan seperti nyeri dada yang menusuk serta detak jantung yang berdebar tidak beraturan.

Untuk memastikan kondisi organ pemompa darah tersebut dalam keadaan prima, dunia kedokteran memiliki metode diagnosis yang komprehensif. Proses pemeriksaan ini dapat diawali dengan rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG), dilanjutkan dengan ultrasonografi jantung atau ekokardiografi (echo), hingga pemeriksaan laboratorium melalui sampel darah. Jika seluruh indikator dari serangkaian tes tersebut menunjukkan hasil yang baik dan aman, barulah seseorang diperbolehkan secara medis untuk memulai aktivitas olahraganya.

Transisi aktivitas juga menjadi poin penting yang tidak boleh diabaikan. Seseorang yang belum terbiasa berolahraga sangat disarankan untuk melakukan latihan fisik secara bertahap dan konsisten sebelum menaikkan level ke intensitas yang lebih berat. Langkah instan melompat langsung ke olahraga berat tanpa adaptasi hanya akan membuka peluang terjadinya gangguan fatal pada jantung secara mendadak. Sebagai contoh konkret, seseorang yang tidak pernah bersepeda lalu memaksakan diri bergabung dengan kelompok pesepeda (peletonan) yang melaju cepat, berisiko besar mengalami serangan jantung di jalan.

Menariknya, karakteristik ancaman gangguan jantung ini ternyata memiliki perbedaan yang cukup signifikan berdasarkan faktor usia. Pola ini penting untuk dipahami agar setiap orang lebih waspada terhadap jenis gangguan yang mengintai tubuh mereka.

“Kita tahu kalau atlet atau orang yang biasa olahraga, usianya di bawah 35 tahun paling sering itu gangguan irama jantung (aritmia) meninggalnya. Tapi, kalau di atas 35, paling sering karena serangan jantung sumbatan total di pembuluh darah koroner ini.”

Menjaga kesehatan tubuh lewat berolahraga adalah investasi terbaik untuk masa depan. Namun, bijaklah dalam mendengarkan kapasitas tubuh sendiri. Mengalokasikan sedikit waktu untuk melakukan pemeriksaan jantung di awal bukan bentuk rasa takut, melainkan sebuah langkah cerdas dan bertanggung jawab demi memastikan setiap tetes keringat yang keluar benar-benar membawa kehidupan yang lebih sehat, bukan sebuah akhir yang tragis. (Gdi)

Exit mobile version