Site icon Wanita Indonesia

Jangan Biarkan Gawai Menjajah Anak: Rumus ‘Tunggu Siap’ Jadi Benteng Siber

Anak bersama gawainya. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Dunia anak-anak hari ini tidak lagi sekadar tentang tanah liat dan petak umpet, melainkan kepungan layar gawai (gadget), algoritma, hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI). Di balik kemudahan dan ruang belajar tanpa batas yang ditawarkan, ada ancaman siber senyap yang mengintai generasi masa depan lewat konten berbahaya, perundungan siber (cyberbullying), eksploitasi digital, hingga kecanduan platform. Menghadapi situasi krusial ini, pemerintah Indonesia menawarkan sebuah prinsip sederhana namun menohok untuk menyelamatkan anak-anak di ruang digital, yaitu tunggu sampai mereka siap.

Prinsip tersebut ditegaskan oleh Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Viada Hafid, saat memberikan apresiasi dalam forum *International Conference on Early Childhood Education* (ICEC) 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Panca Sakti (PSU) Bekasi pada Sabtu silam. Mantan reporter Metro TV ini mengingatkan bahwa pelindungan anak di ruang digital kini bukan lagi sekadar isu domestik, melainkan tantangan global yang memerlukan sinergi lintas negara dan disiplin ilmu karena teknologi bergerak tanpa mengenal batas wilayah.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Indonesia telah mengundangkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau yang lebih dikenal sebagai PP Tunas. Meutya Viada Hafid menjelaskan bahwa aturan ini hadir bukan untuk menjauhkan anak dari teknologi, melainkan untuk mengatur agar akses digital diberikan secara bertahap sesuai usia, kematangan, dan risiko yang dihadapi demi menjaga kesehatan mental serta moral anak.

Langkah regulasi ini sejalan dengan kegelisahan para praktisi pendidikan yang berkumpul dalam konferensi internasional tersebut. Ketua Panitia ICEC 2026, Dr. Ajat, mengungkapkan bahwa transformasi digital yang masif telah menghadirkan tantangan baru bagi dunia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dunia pendidikan saat ini memikul beban ganda, yakni melatih kecakapan digital anak sekaligus memperkokoh karakter dan kemampuan sosial mereka agar tidak menjadi generasi yang antisosial.

Diselenggarakan secara hibrida (hybrid), forum ini menjadi ruang kolaborasi global yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, hingga pengambil kebijakan dari berbagai negara. Dr. Ajat menambahkan bahwa antusiasme luar biasa terlihat dari kehadiran para guru PAUD dari berbagai daerah serta adanya 31 kelompok peneliti yang menyebarluaskan (*disseminate*) hasil riset mereka. Hal ini membuktikan adanya semangat kolektif yang besar dari para pendidik untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi demi mengimbangi perubahan zaman yang serbacepat.

Pada akhirnya, ruang digital hanyalah sebuah alat, namun masa depan karakter anak-anak berada di tangan kedisiplinan kolektif masyarakat dan regulasi yang kuat. Melalui rekomendasi dan inovasi yang lahir dari forum ini, diharapkan tercipta ekosistem digital yang ramah anak, sehingga Indonesia mampu melahirkan generasi yang tidak sekadar melek teknologi, tetapi juga beretika tinggi dan tangguh menghadapi masa depan. Sebab, membiarkan anak berselancar di dunia maya tanpa kesiapan, sama saja dengan melepas mereka di tengah badai tanpa sekoci. (Gdi)

Exit mobile version