WANITAINDONESIA.CO – Ruang jagat maya hari ini tidak sedang kekurangan informasi, melainkan kelaparan nalar sehat. Setiap hari, jutaan jempol dengan begitu lincah membagikan ulang pesan, beradu argumen, hingga tidak jarang terjebak dalam pusaran konflik personal. Di tengah riuhnya lalu lintas informasi tersebut, batasan antara kritik yang membangun dan penghinaan yang merusak kian kabur. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat modern saat ini tidak lagi cukup hanya dengan menguasai perangkat teknologi, melainkan sangat mendesak untuk memiliki kedewasaan berpikir.
Komunikasi di ruang digital saat ini sangat membutuhkan kedewasaan dari para penggunanya, terutama dalam membedakan mana informasi yang bersifat kritik, sanggahan, serangan pribadi, hingga tindakan penghinaan. Menurutnya, konsep komunikasi klasik yang menganggap setiap informasi yang disebar dapat langsung diterima tanpa perlu pembuktian atau aksioma (pernyataan yang diterima sebagai kebenaran tanpa bukti), sudah sama sekali tidak berlaku di era internet.
Aksioma dalam konteks komunikasi digital harus dipahami sebagai prinsip awal yang menjadi pijakan berpikir. Pijakan inilah yang seharusnya digunakan sebelum seseorang membangun pandangan, mengambil sikap, atau merespons suatu peristiwa yang tersaji di internet maupun media sosial. Tanpa adanya tata nalar yang kuat, publik akan sangat mudah terseret oleh reaksi spontan yang emosional.
Kemudahan teknologi saat ini memang memberikan panggung bagi setiap orang untuk berbicara, menilai, dan menyebarkan pesan dalam hitungan detik. Namun sayangnya, kecepatan tersebut tidak selalu diikuti oleh kesadaran mengenai batas etis (norma cederaan atau kesusilaan) dan tanggung jawab komunikasi.
Patut diingat kecepatan menyebarkan pesan tidak boleh lebih dominan daripada kemampuan memeriksa dan mempertanggungjawabkan pesan tersebut. Oleh sebab itu, informasi harus selalu diuji, dipahami konteksnya, serta dipertimbangkan dampaknya sebelum menjadi dasar penilaian publik.
Hal lain yang menjadi sorotan tajam adalah bagaimana algoritma (prosedur sistematis dalam pemecahan masalah) sering kali memengaruhi apa yang dilihat dan diperhatikan oleh publik di layar gawai mereka.
Teknologi tidak boleh dijadikan alasan bagi manusia untuk melepaskan tanggung jawab moralnya. Pilihan untuk memercayai, membagikan, atau justru menyerang pihak lain tetap sepenuhnya berada di tangan pengguna, bukan pada kecerdasan buatan.
Pada akhirnya, ruang digital hanya akan menjadi tempat yang sehat jika masyarakat memandangnya sebagai sebuah praktik sosial yang membutuhkan prinsip, bukan sekadar aktivitas teknis. Kemampuan membatasi diri dan menyaring informasi sebelum membagikannya kini bernilai sama pentingnya dengan kemampuan menyampaikan pendapat itu sendiri. Sudah saatnya pengguna internet naik kelas, dari sekadar konsumen arus informasi yang pasif menjadi subjek yang mampu berpikir, memilah, dan bertindak secara sadar demi menjaga ruang digital yang tetap waras.
Bagaimana menurut Anda mengenai penekanan sudut pandang (angle) pada pentingnya kontrol manusia di atas algoritma ini? Jika ada bagian atau kutipan tertentu yang ingin lebih ditonjolkan, silakan sampaikan agar dapat kita sesuaikan kembali. (Gdi)

