Site icon Wanita Indonesia

Jangan Asal Beli Obat di Warung, Pasien Cuci Darah Kini Mengintai Usia Muda

Alat cuci darah yang diperuntukkan bagi pasien gagal ginjal. Gdi

WANITAINDONESIA.CO — Rasa pusing yang menusuk atau perut yang mendadak melilit sering kali direspon dengan langkah cepat: menyambangi warung terdekat dan menelan obat tanpa resep. Kebiasaan yang terkesan sepele dan pragmatis ini ternyata menyimpan ancaman fatal. Praktik mengobati diri sendiri (self-medication) tanpa petunjuk medis terbukti menjadi salah satu pemicu utama melonjaknya kasus gagal ginjal, yang kini tidak lagi hanya menyerang kelompok lanjut usia, tetapi juga mengincar anak muda.

Fenomena bergesernya usia penderita gagal ginjal ini menjadi sorotan serius Pemprov DKI Jakarta. Saat ini, semakin banyak masyarakat berusia kisaran 20 tahun yang sudah harus menjalani terapi hemodialisis (cuci darah) secara berkala. Kebiasaan mengonsumsi obat-obatan secara bebas tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi salah satu pemicu utama rusaknya fungsi organ vital tersebut.

Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Savitri Handayana menegaskan bahwa kebiasaan membeli obat secara sembarangan harus segera dihentikan demi menekan lonjakan kasus gangguan ginjal di masyarakat.

“Saya berharap nanti Bapak/Ibu terutama dari Ibu-Ibu kader untuk Agent of Change (agen perubahan) ini dapat menyampaikan informasi bahwa jangan mengakses atau membeli obat sembarangan. Kita bisa melihat dari data terakhir bahwa kasus-kasus gagal ginjal itu sangat tinggi, sehingga ini menjadi beban bersama,” tegas Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Savitri Handayana di Balai Kota, Jakarta.

Savitri mengungkapkan rasa prihatinnya karena pemandangan di ruang perawatan rumah sakit kini telah berubah signifikan. Pasien yang mengantre untuk prosedur cuci darah tidak lagi didominasi oleh warga berusia lanjut. Fenomena masyarakat usia muda yang mengobati gejala sakit ringan secara mandiri tanpa resep dokter menjadi preseden buruk bagi kesehatan jangka panjang.

Banyak warga yang terbiasa mengambil jalan pintas saat tubuh merasa tidak fit. Pusing sedikit langsung membeli obat di warung asal meredakan sakit, dan ketika mengalami diare langsung membeli obat sendiri tanpa merasa perlu berkunjung ke fasilitas kesehatan (faskes). Padahal, mengonsumsi obat-obatan kimia secara berlebihan dan tanpa dosis yang tepat dapat memberatkan kerja ginjal secara perlahan hingga memicu kerusakan permanen.

Langkah pengobatan mandiri yang tidak terukur tersebut sebenarnya sangat kontras dengan melimpahnya akses layanan kesehatan formal yang tersedia. Jakarta saat ini didukung oleh infrastruktur medis yang sangat memadai untuk konsultasi dan pengobatan yang aman. Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat terdapat 192 rumah sakit, 44 puskesmas kecamatan, dan 292 puskesmas pembantu yang siap melayani warga. Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiagakan Pasukan Putih yang dapat langsung mendatangi kediaman warga untuk memberikan pelayanan medis.

Melalui pengukuhan para apoteker sebagai agen perubahan (Agent of Change) dalam peringatan Hari Apoteker Sedunia (World Pharmacists Day) 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, diharapkan arus edukasi penggunaan obat yang benar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Menjaga pola hidup sehat dan bersikap bijak terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh adalah kunci utama menjaga organ tubuh tetap berfungsi optimal.

Kesehatan ginjal adalah aset masa depan yang tidak dapat ditukar dengan kepraktisan sesaat. Sebelum memutuskan untuk menelan pil atau tablet yang dibeli secara bebas, ingatlah bahwa ginjal Anda menanggung risikonya. Sudah saatnya kita lebih peduli dan konsisten berkonsultasi dengan tenaga medis demi hidup yang lebih panjang dan berkualitas. (Gdi)

Exit mobile version