Site icon Wanita Indonesia

Inovasi BRIN Jadikan Minyak Jelantah Sebagai Bahan Bakar Masa Depan

Minyak jelantah. Gdi

WANITAINDONESIA.CO — Bumi sedang memanggil kita untuk segera beralih dari ketergantungan bahan bakar fosil demi menekan laju perubahan iklim. Menjawab tantangan besar tersebut, sebuah terobosan krusial dalam dunia energi terbarukan kini tengah dimatangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui pemanfaatan senyawa lemak netral (trigliserida).

Siapa sangka, bahan yang kerap ditemui dalam minyak nabati hingga limbah minyak goreng bekas atau minyak jelantah ini menyimpan potensi raksasa untuk menggerakkan mesin-mesin kendaraan hingga jet terbang tanpa mengotori udara.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Katalisis BRIN Kiky Corneliasari Sembiring dalam keterangannya, Jumat, menjelaskan bahwa trigliserida dalam minyak nabati berpotensi diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar ramah lingkungan, mulai dari bensin hijau (green gasoline), diesel hijau (green diesel), hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel). Rahasia utamanya terletak pada siklus alaminya yang sangat cepat dibandingkan fosil.

“Karbon dari sumber hayati dapat diperbarui melalui siklus pertumbuhan tanaman yang relatif singkat. Pemanfaatan karbon terbarukan dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendukung transisi energi berkelanjutan,” ungkap Kiky.

Proses pengolahan senyawa ini melibatkan beberapa metode konversi, seperti pemutusan ikatan ester (transesterifikasi), pemrosesan dengan hidrogen (hydroprocessing), penguraian dengan suhu tinggi (pirolisis), dan pemecahan rantai kimia menggunakan air (hidrolisis). Dalam metode pemecahan rantai kimia menggunakan air (hidrolisis), trigliserida dipecah menjadi asam lemak dan gliserol yang nantinya diolah kembali menjadi senyawa hidrokarbon. Saat pengujian pemecahan rantai kimia menggunakan air (hidrolisis) pada minyak sawit dilakukan selama 20 menit pada rentang suhu 170 hingga 330 derajat Celsius, perolehan asam lemak terbukti melonjak drastis hingga mendekati 90 persen pada suhu 300 derajat Celsius.

Guna memastikan proses manufaktur energi ini efisien dan terjangkau, BRIN merancang zat pemcepat reaksi (katalis) berbasis nikel–timah dengan penyangga karbon aktif sebagai alternatif penggunaan zat pemcepat reaksi (katalis) berbasis logam mulia yang mahal.

“Pengembangan tersebut bertujuan menghasilkan katalis yang lebih ekonomis, sekaligus meningkatkan kinerja dan stabilitas proses konversi minyak nabati. Kami mengeksplorasi katalis berbasis nikel sebagai alternatif yang lebih ekonomis,” tutur Kiky Corneliasari Sembiring menambahkan.

Langkah ini makin menarik karena tidak hanya terpaku pada minyak nabati murni. Pemanfaatan limbah seperti minyak jelantah dan bahan baku non-pangan lainnya untuk produksi bahan bakar hayati (biofuel) menjadi kunci penting dalam meningkatkan nilai tambah limbah sekaligus mendukung penerapan ekonomi berputar (ekonomi sirkular).

Dampak positifnya bagi lingkungan pun terbukti sangat nyata secara matematis. Kiky memaparkan bahwa bahan bakar dari minyak jelantah memiliki intensitas emisi sekitar 18 gram CO₂ ekuivalen per megajoule. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar jet fosil yang mencapai sekitar 89 gram CO₂ ekuivalen per megajoule. Artinya, terdapat potensi penurunan emisi hingga sekitar 80 persen dalam skenario yang digunakan, meski angka pastinya tetap bergantung pada jenis bahan baku, proses produksi, kebutuhan energi, dan metode perhitungan emisi.

Inovasi dari BRIN ini menjadi cerminan nyata bahwa masa depan bumi yang lebih bersih tidak selalu berjarak jauh dari kehidupan sehari-hari. Ketika limbah yang semula terbuang mampu diolah menjadi energi penggerak penerbangan global, sebuah harapan baru bagi keberlanjutan planet ini resmi dimulai dari dalam laboratorium anak bangsa. (Gdi)

Exit mobile version