Site icon Wanita Indonesia

IHG Perkuat Ekspansi di Indonesia, Bidik Destinasi Wisata Baru dan Segmen Luxury

perubahan preferensi wisatawan menjadi salah satu alasan perusahaan memperluas portofolio pengalaman menginap.

WANITAINDONESIA.CO – IHG Hotels & Resorts (IHG) memperkuat ekspansi bisnis perhotelannya di Indonesia seiring meningkatnya permintaan perjalanan wisata domestik dan mancanegara.

Perusahaan perhotelan global ini menargetkan pertumbuhan melalui pengembangan jaringan hotel di destinasi wisata yang telah berkembang maupun wilayah baru, dengan menghadirkan beragam brand dan pengalaman menginap yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
Hingga saat ini, IHG mengoperasikan 35 hotel dengan total 7.096 kamar di Indonesia. Perusahaan juga memiliki 13 hotel tambahan dengan 2.494 kamar dalam pipeline pengembangan. Dengan demikian, jaringan IHG di Indonesia mencakup hampir 50 hotel yang telah beroperasi maupun dalam tahap pengembangan, dengan total hampir 10.000 kamar.

Ekspansi tersebut didukung oleh prospek industri pariwisata nasional yang terus menunjukkan pertumbuhan positif. IHG menilai peningkatan konektivitas, perkembangan infrastruktur transportasi, serta perubahan preferensi wisatawan menjadi peluang untuk memperluas jangkauan industri perhotelan ke berbagai wilayah Indonesia.

Managing Director Southeast Asia & Korea IHG, Vivek Bhalla, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan pariwisata di kawasan Asia Pasifik.
“Pertumbuhan pariwisata kini semakin bergerak ke kawasan Timur, dan Indonesia memiliki berbagai potensi untuk mendapatkan manfaat dari perubahan ini. Keanekaragaman alam dan budaya yang luar biasa, konektivitas yang terus membaik, serta salah satu pasar perjalanan domestik terbesar di kawasan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan jangka panjang,” ujar Vivek.

Menurutnya, pertumbuhan perjalanan domestik menjadi salah satu kekuatan utama pariwisata Indonesia. Pada saat yang sama, permintaan dari wisatawan mancanegara juga terus meningkat, sehingga membuka peluang bagi pengembangan destinasi baru dan perluasan jaringan hotel.
Pertumbuhan Wisata Domestik dan Mancanegara Jadi Pendorong
Data pariwisata Indonesia menunjukkan prospek pertumbuhan yang semakin positif. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 10,58 juta, meningkat 5,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 842 juta perjalanan atau tumbuh 4,2% secara tahunan. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi untuk periode Januari hingga Agustus sejak 2019.
Peningkatan aktivitas perjalanan tersebut turut tercermin dalam kinerja industri perhotelan. Hotel-hotel di Indonesia mencatat rata-rata tarif harian atau average daily rate (ADR) sebesar US$78, naik 12,3% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pendapatan per kamar tersedia atau revenue per available room (RevPAR) mencapai US$47, meningkat 9,8%, sedangkan tingkat okupansi hotel berada di sekitar 60%.
Bagi IHG, pertumbuhan tersebut mencerminkan peluang untuk menghadirkan pengalaman menginap yang semakin beragam, terutama bagi wisatawan yang tidak hanya mencari akomodasi, tetapi juga pengalaman yang memiliki keterkaitan dengan karakter destinasi.

“Perjalanan domestik merupakan penggerak utama industri pariwisata Indonesia, sementara permintaan dari wisatawan mancanegara juga terus meningkat. Dengan semakin mudahnya akses ke berbagai destinasi, terdapat peluang besar untuk mendorong wisatawan menjelajahi lebih banyak wilayah Indonesia dan memperluas manfaat pariwisata ke berbagai daerah,” kata Vivek.
Ekspansi Melampaui Bali, Perluas Jaringan ke Destinasi Baru
Dalam mengembangkan bisnis di Indonesia, IHG tidak hanya berfokus pada destinasi wisata yang telah matang seperti Bali, tetapi juga melihat peluang di berbagai wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan.

Saat ini, jaringan IHG mencakup 11 destinasi, yakni Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, Semarang, Batam, Bintan, Lampung, Labuan Bajo, Cikarang, dan Kalimantan Selatan.
Ke depan, perusahaan berencana memperluas jaringan ke Medan, Yogyakarta, Puncak, dan Lombok. Ekspansi ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pariwisata berkualitas serta memperluas distribusi kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi di luar pusat pariwisata utama.
Vivek mengatakan, diversifikasi destinasi menjadi salah satu peluang terbesar bagi pertumbuhan industri perhotelan Indonesia.
“Bali akan terus menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan di Asia, tetapi sejumlah peluang pertumbuhan terbesar juga terdapat di destinasi yang sedang berkembang. Kami melihat daya tarik yang semakin besar pada lima Destinasi Super Prioritas beserta kota yang menjadi jalan masuk, termasuk Medan, Yogyakarta, Lombok, Manado, dan Labuan Bajo, serta destinasi baru dan berkembang seperti Puncak, Bogor, Lampung, dan Belitung,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengembangan jaringan hotel perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap destinasi dan kebutuhan wisatawan.
“Kami ingin tumbuh bersama Indonesia dengan menghadirkan brand dan pengalaman yang tepat di destinasi yang semakin diminati wisatawan untuk dijelajahi,” kata Vivek.
Untuk mendukung strategi tersebut, IHG menerapkan pendekatan berbasis klaster dan destinasi dengan membangun portofolio berbagai brand yang saling melengkapi di pasar-pasar utama.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan meningkatkan skala operasional, memperkuat efisiensi, serta membangun kemitraan jangka panjang dengan pemilik hotel. Pada saat yang sama, pengembangan jaringan diharapkan dapat mendukung ekosistem pariwisata lokal.
Brand Hotel Disesuaikan dengan Karakter dan Kebutuhan Wisatawan
Selain memperluas jaringan secara geografis, IHG mengembangkan portofolio brand di segmen luxury, premium, dan mainstream untuk menjangkau berbagai kebutuhan perjalanan.
Hotel Indigo menjadi salah satu brand dengan pertumbuhan tercepat IHG di Indonesia. Saat ini, terdapat tiga hotel yang telah beroperasi di Bandung, Bintan, dan Bali, serta enam hotel dalam pipeline pengembangan, termasuk di Yogyakarta dan Ubud.

Brand ini mengusung pendekatan neighbourhood storytelling, yakni menghadirkan pengalaman menginap yang terinspirasi dari karakter lingkungan, budaya, dan komunitas di sekitar hotel.

Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan tradisi di setiap destinasi.
Sementara itu, untuk wisatawan yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan, Holiday Inn Express Bandung Braga yang dibuka pada 2026 menjadi hotel pertama di kawasan East Asia & Pacific yang menerapkan desain generasi kelima dari brand tersebut.
Konsep desain ini memadukan estetika kontemporer, ruang bersosialisasi, serta kamar modern yang disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan masa kini.

IHG juga melihat potensi pertumbuhan yang besar di segmen luxury dan lifestyle. Sekitar tiga perempat hotel dalam pipeline pengembangan perusahaan berada di segmen tersebut.
Portofolio brand yang dikembangkan mencakup Six Senses, Regent, InterContinental, Kimpton, Vignette Collection, dan Hotel Indigo.

Salah satu proyek yang dinantikan adalah Kimpton Suntaya Bali Ubud, yang dijadwalkan dibuka pada akhir 2026. Hotel ini akan menghadirkan konsep wellness dengan fokus pada pemulihan, keseimbangan tubuh, serta aktivitas gerak yang dipandu.

Vivek mengatakan, perubahan preferensi wisatawan menjadi salah satu alasan perusahaan memperluas portofolio pengalaman menginap.
“Wisatawan kini menginginkan lebih dari sekadar tempat untuk menginap. Mereka mencari pengalaman yang memiliki keterkaitan nyata dengan destinasi, baik melalui budaya, kuliner, alam, maupun wellness. Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menghadirkan pengalaman tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberagaman brand memungkinkan IHG menjangkau wisatawan dengan karakteristik dan kebutuhan perjalanan yang berbeda.
“Mulai dari Holiday Inn Express hingga Hotel Indigo dan berbagai brand Luxury & Lifestyle kami, IHG dapat menghadirkan pengalaman menginap yang khas dan berkesan bagi setiap wisatawan,” kata Vivek.

Libatkan Tenaga Kerja dan Pelaku Usaha Lokal
Pertumbuhan bisnis IHG di Indonesia juga diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan komunitas lokal.
Saat ini, IHG mempekerjakan hampir 3.700 orang di Indonesia, dengan lebih dari 95% di antaranya merupakan tenaga kerja lokal.
Perusahaan turut menjalin kerja sama dengan universitas dan lembaga pendidikan di Jakarta, Bali, dan Bandung untuk mengembangkan tenaga profesional di industri perhotelan.

Selain penyerapan tenaga kerja, hotel-hotel IHG juga membangun kemitraan dengan berbagai pelaku usaha lokal, termasuk petani, nelayan, dan perajin.
Kemitraan tersebut bertujuan mendukung mata pencaharian masyarakat, meningkatkan apresiasi terhadap produk lokal, serta memperkuat perputaran ekonomi di sekitar destinasi wisata.
Salah satu contohnya adalah Regent Bali Canggu yang bekerja sama dengan petani lokal melalui konsep nature-to-table SAZÓN. Sementara itu, Holiday Inn Cikarang Jababeka memperkenalkan teh artisan yang ditanam oleh petani di Jawa Barat kepada para tamu.
Di bidang sosial, IHG bekerja sama dengan lebih dari 40 mitra komunitas di Indonesia melalui berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat.

Salah satu mitranya adalah Saab Shares, organisasi nirlaba yang memberdayakan para ibu dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Pada 2025, berbagai inisiatif komunitas IHG di Indonesia memberikan dampak positif bagi sekitar 14.000 orang.
Bangun Infrastruktur Perhotelan untuk Pertumbuhan Jangka Panjang
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Keanekaragaman alam, budaya, serta pengalaman wisata di berbagai daerah menjadi modal penting bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan.
IHG menilai peningkatan infrastruktur dan konektivitas akan membuka peluang bagi wisatawan untuk menjelajahi lebih banyak destinasi, sekaligus memperluas distribusi manfaat ekonomi pariwisata.

Vivek menegaskan, strategi ekspansi perusahaan tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah hotel, tetapi juga pada pembangunan ekosistem perhotelan yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.

“Hal yang paling menarik bagi saya adalah besarnya peluang pertumbuhan pariwisata di Indonesia ke depan. Kami tidak hanya membuka hotel di Indonesia. Bersama para pemilik hotel dan mitra, kami turut membangun infrastruktur perhotelan untuk mendukung babak berikutnya dari pertumbuhan pariwisata Indonesia,” ujarnya.
“Masih banyak peluang yang menanti, dan kami antusias menjadi bagian dari perjalanan ini,” tutup Vivek.

Melalui perluasan jaringan, pengembangan beragam brand, serta kemitraan dengan masyarakat dan pelaku usaha lokal, IHG menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar penting dalam strategi pertumbuhan Asia Pasifik. Perusahaan melihat peluang untuk tidak hanya memperkuat kehadiran di destinasi utama, tetapi juga mendukung perkembangan destinasi baru yang berpotensi menjadi penggerak pariwisata nasional. (den)

Exit mobile version