Site icon Wanita Indonesia

Hanung Bramantyo Angkat Misteri Menjelang G30S Lewat Film Horor Lobang Buaya

Film produksi Dapur Films dan Adhya Pictures tersebut dijadwalkan tayang di Indonesia pada 1 Oktober 2026. (FOTO: Instagram @filmlobangbuaya)

WANITAINDONESIA.CO — Sutradara Hanung Bramantyo kembali menghadirkan karya yang menggabungkan fiksi, sejarah, dan horor psikologis lewat film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah. Film produksi Dapur Films dan Adhya Pictures tersebut dijadwalkan tayang di Indonesia pada 1 Oktober 2026.

Film berdurasi 99 menit ini berangkat dari ketertarikan Hanung terhadap tragedi G30S yang sejak kecil telah melekat dalam ingatannya. Sebelum menggarap film tersebut, Hanung sebenarnya pernah memiliki rencana membuat film mengenai G30S/PKI pada 2017 atas arahan Presiden Joko Widodo. Namun, proyek itu akhirnya tidak terealisasi karena kendala perizinan dan situasi politik saat itu.

Dalam proses riset untuk proyek tersebut, Hanung mengaku mengalami perubahan pandangan mengenai bagaimana kisah G30S selama ini diceritakan. Ia kemudian memilih pendekatan fiksi dengan latar sejarah sebagai medium untuk mengeksplorasi berbagai pertanyaan yang masih muncul di tengah masyarakat.

“Tragedi berdarah itu selalu menghantui masa kecil saya. Lalu saya mengemas cerita fiksi menjadi cerita sejarah sebagai latar. Karena generasi muda kini cenderung lebih kritis tentang latar belakang G 30 S. Pertanyaan muncul: siapa dalang nya?” ujar Hanung.

Lobang Buaya kemudian membawa penonton ke sebuah desa bernama Lobang Buaya pada 1964, atau 309 hari sebelum tragedi 30 September 1965. Di desa tersebut, warga dikejutkan oleh serangkaian pembunuhan misterius yang terjadi setiap tanggal 30.

(FOTO: Instagram @filmlobangbuaya)

Para korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Punggung mereka berlubang dan terdapat luka sayatan benda tajam yang disertai tulisan bernada sindiran moral seperti “tamak”, “lamis”, dan “maruk”.

Kejadian tersebut memicu kepanikan di tengah masyarakat. Warga kemudian mengaitkan serangkaian pembunuhan itu dengan kemunculan sosok yang disebut sebagai “hantu bolong”.

Untuk mengungkap misteri tersebut, Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra mendapatkan tugas dari atasannya untuk mencari pelaku sekaligus mengungkap siapa yang berada di balik rangkaian kejadian mengerikan tersebut.

Di tengah penyelidikan, kehidupan pribadi Soegeng juga ikut terguncang. Arum Wangi yang diperankan Carissa Perusset, istri Soegeng yang baru dinikahinya, mengalami gangguan supranatural. Ia dihantui sosok arwah perempuan berbaju ronggeng.

Gangguan tersebut perlahan membawa cerita menuju misteri yang lebih besar. Film kemudian mengaitkan teror di desa dengan praktik pemujaan dan ritual gelap yang menjadi bagian dari rangkaian cerita fiksi menuju tragedi kelam G30S.

(FOTO: Instagram @filmlobangbuaya)

Hanung mengatakan film tersebut awalnya memiliki judul Bolong sebelum akhirnya diubah menjadi Lobang Buaya. Ceritanya juga mengambil gagasan mengenai istilah “7 Setan Desa” yang populer pada era sebelum 1965.

“Film ini semula berjudul Bolong tapi kemudian berganti judul. Ceritanya berfokus pada 7 Setan Desa yang di era pra 1965 populer dan harus diganyang dan saat ini beralih ke istilah koruptor dan korporasi yang sama artinya dan harus dilenyapkan,” cerita Hanung.

Meski mengambil latar sejarah, Lobang Buaya tetap dikemas sebagai film horor fiksi psikologis. Hanung menggunakan unsur misteri dan supranatural untuk membangun ketegangan sekaligus mengajak penonton mengikuti pencarian mengenai siapa sebenarnya pelaku di balik teror tersebut.

Film ini juga tidak memberikan jawaban yang sepenuhnya tertutup. Akhir cerita dibuat terbuka sehingga masih memungkinkan kisahnya dikembangkan ke film berikutnya.

“Last but not least: siapa dalang nya?” menjadi pertanyaan yang terus mengiringi perjalanan cerita film tersebut.

Selain Baskara Mahendra dan Carissa Perusset, Lobang Buaya turut dibintangi Mathias Muchus, Anya Zen, Khiva Iskak, Pritt Timothy, Egy Fedly dan sejumlah pemeran lainnya. (GIE)

Exit mobile version