WANITAINDONESIA.CO – Sudut Kota Lama Semarang yang sarat akan memori kolonial bersiap menyambut babak baru. Sebuah langkah ambisius tengah dirancang oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk menyulap aset bersejarah milik PT Jasa Raharja (Persero) menjadi wadah kreativitas modern, yakni Museum Fotografi pertama di Indonesia. Rencana besar ini bukan sekadar urusan merestorasi dinding tua yang kusam, melainkan upaya visioner menghidupkan kembali ruang publik agar menjadi ruang edukasi interaktif yang relevan bagi generasi masa kini.
Langkah strategis tersebut dimatangkan dalam sebuah diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion) yang dipimpin langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta ini mempertemukan para pemangku kepentingan (stakeholders), termasuk perwakilan dari PT Jasa Raharja dan PT Asuransi Jiwasraya. Kehadiran museum tematik ini diproyeksikan mampu mengisi kekosongan besar dalam ekosistem permuseuman tanah air, sekaligus memberi nilai tambah bagi kawasan wisata sejarah.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa dari total 516 museum yang saat ini tercatat di Indonesia, belum ada satu pun yang secara khusus mendedikasikan ruangnya untuk seni film, musik, maupun fotografi. Ketiadaan inilah yang memicu pemerintah untuk bergerak cepat menghadirkan ruang budaya yang dinamis dan bernapas panjang.
“Kita ingin menghadirkan museum-museum tematik yang tidak hanya menyimpan koleksi, tetapi juga menjadi ruang budaya dan ruang edukasi yang hidup. Kita bukan hanya ingin merawat masa lalu, tetapi juga melangkah menuju masa depan. Museum harus menjadi jembatan dan inspirasi baru bagi generasi mendatang,” ujar Fadli Zon dengan optimis.
Untuk Museum Fotografi di Semarang, konsep yang diusung sangat mendalam. Pengunjung nantinya akan diajak menjelajahi linimasa perjalanan visual bangsa, mulai dari berdirinya studio foto paling awal di Batavia hingga melompat ke era fotografi modern yang serbadigital. Tak hanya menampilkan koleksi permanen, museum ini juga akan menyediakan ruang pameran temporer berkala yang menyoroti kisah-kisah lokal tentang Kota Semarang dan dinamika Jawa Tengah.
Senada dengan hal itu, Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha Djumaryo, memaparkan cetak biru (blueprint) pengembangan dari tiga museum tematik yang memanfaatkan bangunan bersejarah di berbagai daerah. Cetak biru tersebut mencakup rancangan pembangunan museum agar menjadi ruang budaya yang edukatif serta interaktif. Selain Semarang, pemerintah telah menyiapkan peta jalan (roadmap) untuk membangun Museum Film di bekas Gedung Asuransi Jasa Raharja di Kota Tua Jakarta, serta Museum Musik di gedung eks Jiwasraya yang legendaris di Jalan Asia Afrika, Bandung.
Rencana pemanfaatan bangunan tua ini mendapat sambutan hangat dari dunia korporasi negara. Senior Director Strategy and Transformation Danantara (Direktur Senior Strategi dan Transformasi Danantara), Rezki M. Djohan, menyatakan dukungan penuhnya terhadap proyek revitalisasi aset negara ini. Ia melihat adanya potensi besar dalam memperkuat sektor pariwisata melalui kolaborasi lintas Badan Usaha Milik Negara. Danantara menyatakan siap menyokong proses alih fungsi aset tersebut demi mendukung inisiatif yang juga telah disetujui oleh para pelaku seni dan budaya.
Menariknya, revitalisasi ini berkomitmen penuh untuk menjaga keaslian arsitektur yang ada tanpa mendirikan bangunan baru dari nol. Pendekatan berkelanjutan ini memastikan bahwa nilai sejarah dan karakter asli gedung warisan masa lalu tetap terjaga utuh. Pada akhirnya, proyek ini menjadi bukti nyata bagaimana memori kolektif bangsa tidak dibiarkan usang dimakan zaman, melainkan diolah kembali menjadi bahan bakar kreativitas yang menginspirasi masa depan.
Kini, mari kita bersiap menyaksikan bagaimana lembaran sejarah visual Nusantara segera hidup kembali dan dapat kita nikmati di tengah keanggunan Kota Lama Semarang. (Gdi)

