Site icon Wanita Indonesia

​Gadget Bukan Musuh, Ini 5 Kebiasaan Sederhana Jaga ‘Digital Well-Being’ Anak di Rumah

Di era digital sekarang, pemandangan anak memegang gadget tentu sudah jadi makanan kita sehari-hari. Mulai dari belajar, mengerjakan tugas sekolah, bermain, sampai mencari hiburan, semuanya ada di genggaman mereka.

WANITAINDONESIA.CO – Di era digital sekarang, pemandangan anak memegang gadget tentu sudah jadi makanan kita sehari-hari. Mulai dari belajar, mengerjakan tugas sekolah, bermain, sampai mencari hiburan, semuanya ada di genggaman mereka.

​Sebagai orang tua, jujur saja, kadang terselip rasa khawatir. Apakah mereka menonton konten yang tepat atau Apakah mereka sudah terlalu lama scrolling?

​Melihat keresahan ini, Google dan YouTube menegaskan kembali komitmennya untuk mendampingi para orang tua di Indonesia. Lewat peluncuran berbagai fitur keamanan bawaan dan kontrol keluarga di Jakarta, (4/6/2026), mereka ingin membantu kita menciptakan ekosistem digital yang sehat, aman, dan bertanggung jawab bagi anak-anak di rumah.

 

​Sering kali kita sebagai orang tua merasa cemas, takut anak kita gagap teknologi (gaptek) atau mala takut anak kita ketinggalan zaman.

​Ternyata, kekhawatiran itu justru terbalik, Miss. Nanda Yurani, seorang Guru Kelas 6 SD sekaligus Content Creator, membagikan pengalamannya di lapangan.

​”Sekarang anak-anak itu disebut sebagai digital native. Bangun tidur saja yang dicari langsung teknologi. Jadi, jangan khawatir mereka tidak bisa beradaptasi. Justru mereka sangat amat cepat beradaptasi. Yang perlu kita khawatirkan adalah adaptasi yang cepat itu tidak diimbangi dengan kematangan emosional dan critical thinking,” ungkap Nanda.

​Nanda menceritakan bagaimana anak-anak zaman sekarang sangat mudah ikut-ikutan tren yang sedang viral tanpa berpikir panjang apakah tren tersebut positif atau negatif. Di sinilah peran penting kita untuk menanamkan bahwa setiap ketukan jari di layar kaca memiliki konsekuensi nyata. “Selalu saya tekankan ke murid-murid, apapun yang kamu tulis, sebarkan, atau tonton, itu ada jejak digitalnya,” tambahnya

​Senada dengan Nanda, Marsha Tengker, Psikolog Klinis dan Founder Amanasa, juga mengingatkan bahwa tugas kita di era digital bukanlah menjauhkan anak dari teknologi.

​”Teknologi adalah bagian dari realitas anak-anak saat ini. Fokus kita bukan sekadar membatasi penggunaan gadget, tetapi membantu anak memahami cara menggunakannya dengan tujuan yang jelas, mengenali batasannya, dan tetap seimbang dengan aktivitas di dunia nyata,” jelas psikolog yang akrab disapa Caca Tengker ini.

 

​Untuk mendukung para ibu memantau aktivitas digital anak, Dora Songco, Product Marketing Manager, Brand & Reputation, Google Indonesia, menjelaskan bahwa Google dan YouTube terus mengembangkan fitur ramah keluarga. Menariknya, fitur-fitur baru ini memberikan kendali yang jauh lebih besar dan fleksibel bagi orang tua:

– ​Shorts Timer: Gemas melihat anak scrolling YouTube Shorts tanpa henti. Fitur ini memungkinkan para orang tua mengatur durasi menonton Shorts. Bahkan, durasinya bisa diatur hingga nol menit jika Moms ingin menonaktifkan tayangan Shorts sepenuhnya di perangkat anak.

– ​Take a Break & Bedtime Reminder: Pengingat otomatis yang membantu anak lebih mindful untuk beristirahat dan mematikan gadget saat menjelang waktu tidur.

– ​Pengaturan Konten & Block: Moms bisa memilih tingkat kurasi konten yang sesuai dengan usia anak, serta memblokir video atau kanal tertentu yang dirasa kurang pantas.

– ​Family Center: Sebuah ruang pengawasan interaktif yang dirancang untuk mendukung komunikasi dua arah antara orang tua dan anak remaja, sehingga pemantauan terasa lebih suportif, bukan mengekang.

​Bagi orang tua yang mungkin masih merasa kurang paham teknologi (gaptek), jangan khawatir. Google Indonesia bergerak aktif menjemput bola dengan melatih lebih dari 1.000 guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah-sekolah, menggandeng para content creator untuk menyebarkan edukasi, hingga menyiapkan buku saku digital khusus untuk panduan orang tua di rumah.

 

​Membangun hubungan yang sehat antara anak dan teknologi tidak perlu dimulai dengan aturan yang kaku dan bikin stres. Moms bisa memulainya lewat 5 kebiasaan sederhana ini:

​1. Bangun Obrolan Terbuka
​Jadikan topik seputar dunia maya sebagai obrolan santai sehari-hari. Tanyakan dengan santai siapa kreator favorit mereka, video apa yang lagi ramai di kalangan teman-temannya, atau apa yang mereka rasakan saat berselancar di media sosial.

​2. Duduk Bersama dan ‘Ikut Menonton’
​Cara terbaik memahami dunia mereka adalah dengan ikut masuk ke dalamnya. Sesekali, ikutlah duduk di sofa bersama anak. Tunjukkan rasa ingin tahu yang tulus tanpa menghakimi, misalnya: “Wah, seru ya game-nya. Kenapa kamu suka sama YouTuber yang ini?”

​3. Sepakati Aturan & Manfaatkan Fitur Kontrol
​Ajak anak berdiskusi untuk membuat kesepakatan bersama, bukan mendikte. Setelah aturan disepakati (misalnya jam tidur atau durasi main), manfaatkan fitur seperti Shorts Timer atau Family Center di YouTube untuk membantu menegakkan aturan tersebut secara sistematis.

​4. Jaga Keseimbangan Dunia Nyata
​Digital well-being bisa tercapai kalau kehidupan di dunia nyata mengalir seimbang. Pastikan anak tetap memiliki waktu yang cukup untuk aktivitas fisik, menekuni hobi luring (offline), berkumpul dengan keluarga, dan berinteraksi langsung dengan teman sebaya.

​5. Arahkan pada Konten yang Memperkaya Wawasan
​Internet adalah gudang ilmu yang luar biasa. Yuk, arahkan anak untuk mengeksplorasi minat mereka secara positif. Melalui inisiatif seperti Akademi Edukreator, YouTube kini dipenuhi konten edukasi berkualitas tinggi mulai dari sejarah, sains, lingkungan, hingga literasi keuangan yang dikemas dengan cara yang seru dan kekinian.

​Moms, teknologi akan terus berkembang, namun hangatnya pendampingan dan komunikasi terbuka di rumah adalah benteng terbaik bagi masa depan digital anak-anak kita. (des)

Exit mobile version