WANITAINDONESIA.CO – Pemerintah Indonesia tengah gencar mendorong pengembangan energi hijau dan energi baru terbarukan (EBT) sebagai daya tarik utama bagi para investor global. Langkah strategis ini dinilai sebagai magnet kuat yang mampu mendatangkan modal asing sekaligus menciptakan dampak positif bagi keberlanjutan lingkungan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa tren investasi dunia saat ini memang sangat condong pada proyek-proyek yang mengedepankan aspek lingkungan demi kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.
Dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa program-program ramah lingkungan yang diusung pemerintah sangat sejalan dengan minat atau appetite para pemodal internasional.
Dia menekankan bahwa ketertarikan ini terus mengalami peningkatan signifikan karena visi Indonesia yang kini lebih progresif. Pemerintah pun telah berkomitmen untuk mempercepat target Net Zero Emission (NZE) dari yang semula direncanakan pada tahun 2060, kini diakselerasi menjadi tahun 2050. Percepatan ini menjadi sinyal kuat bagi dunia bahwa Indonesia serius dalam mengupayakan transisi energi bersih.
Salah satu fokus utama yang sedang didorong adalah percepatan konversi pembangkit listrik tenaga diesel menjadi pembangkit listrik tenaga surya. Langkah ini senada dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan peningkatan kapasitas listrik tenaga surya hingga mencapai 100 GW.
Selain itu, potensi besar juga terlihat pada pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal yang baru-baru ini berhasil memikat banyak investor dari Jepang. Menurut Rosan Roeslani, selain faktor stabilitas pemerintahan, keselarasan program prioritas dengan kebutuhan pasar global menjadi kunci utama daya saing Indonesia.
Lebih dari sekadar angka investasi, pemerintah juga menitikberatkan dampak sosial dari masuknya modal asing tersebut. Rosan Roeslani, yang juga menjabat sebagai CEO Danantara, berharap meningkatnya minat investor global dapat memperluas lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Rosan menegaskan bahwa pemerintah sangat terbuka untuk memberikan berbagai kemudahan serta stimulus bagi para investor yang berkomitmen pada pengembangan energi hijau dan pemberdayaan tenaga kerja dalam negeri.
Kriteria pemberian insentif kini tidak hanya diukur dari besarnya nilai modal yang masuk ke tanah air. Rosan Roeslani menyatakan bahwa parameter utama pemberian insentif juga dilihat dari seberapa besar penyerapan tenaga kerja yang dihasilkan dari proyek tersebut.
Jika sebuah investasi di bidang energi terbarukan mampu menyerap banyak pekerja, maka pemerintah akan dengan senang hati memberikan berbagai kemudahan fiskal maupun non-fiskal sebagai bentuk dukungan bagi pertumbuhan ekonomi hijau yang inklusif. (Gdi)

