Emas Hitam Bakal Disulap Jadi Bensin demi Kemandirian Energi

Tongkang bermuatan batubara. (Terpal Nara)

WANITAINDONESIA.CO — Ancaman gejolak geopolitik dunia yang tak menentu menuntut Indonesia bergerak cepat mengamankan pasokan energi nasional. Menjawab tantangan besar tersebut, pemerintah mengambil langkah berani dengan menyiapkan terobosan teknologi baru, yakni menyulap batu bara menjadi bahan bakar minyak atau bensin. Langkah strategis ini ditempuh agar bangsa Indonesia tidak terus-menerus bergantung pada impor minyak mentah asing dan mampu berdiri tegak di atas kekuatan energi sendiri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan kesiapannya untuk mengeksekusi langsung instruksi penting dari Kepala Negara demi membentengi ketahanan energi nasional.

“Kami sebagai Menteri ESDM akan menindaklanjuti setiap perintah dan arahan Bapak Presiden terkait dengan optimalisasi dalam rangka meningkatkan ketahanan energi dengan memakai sumber energi dalam negeri,” ujar Bahlil Lahadalia dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Baca Juga :  Mimpi Kemandirian Energi Indonesia Lewat Gebrakan Bioetanol Buatan Lokal

Langkah pengolahan batu bara menjadi bahan bakar cair ini sejatinya lahir dari visi besar Presiden Prabowo Subianto yang menekankan krusialnya kemandirian bangsa.

Saat menghadiri resepsi kesyukuran 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9), Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemandirian pangan dan energi merupakan fondasi utama agar Indonesia tidak mudah didikte oleh negara lain. Sukses mengolah kelapa sawit menjadi solar dan bensin kini memberi keyakinan tinggi untuk melompati tantangan berikutnya dalam mengolah kekayaan batu bara melimpah yang dimiliki bumi Nusantara.

“Sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit. Dan, kita juga nanti akan bikin juga, bensin dari batu bara,” kata Prabowo.

Secara teknis, inovasi ini menargetkan pemanfaatan jenis batu bara low calorie (kalori rendah) yang selama ini kurang optimal agar dapat diubah menjadi gas hingga bahan bakar cair. Inovasi pencairan batu bara atau coal to liquid (pencairan batu bara) sejatinya bukan sekadar angan-angan belaka, melainkan teknologi teruji yang sudah terbukti menyelamatkan pasokan energi di berbagai belahan dunia saat krisis melanda.

Baca Juga :  Mimpi Kemandirian Energi Indonesia Lewat Gebrakan Bioetanol Buatan Lokal

Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan catatan sejarah di mana Jerman Timur pernah memanfaatkan batu bara cair untuk diolah menjadi minyak pendukung bahan bakar kendaraan tempur seperti tank. Tak hanya itu, Afrika Selatan juga berhasil keluar dari cengkeraman krisis energi saat diisolasi oleh politik Apartheid (sistem pemisahan ras) berkat keberhasilan mengolah batu bara secara masif.

“Terus kemudian kita melihat Afrika Selatan. Dulu dia kena politik Apartheid, terus dilarang oleh negara-negara lain, maka dia mencairkan batu bara Sasol (perusahaan energi dan kimia di Afrika Selatan) itu sampai sekarang. Kira-kira 300 ribu barel per hari. Jadi memang sudah ada kalau (mencairkan batu bara menjadi bensin) itu,” kata Tri Winarno.

Baca Juga :  Mimpi Kemandirian Energi Indonesia Lewat Gebrakan Bioetanol Buatan Lokal

Saat ini Kementerian ESDM tengah bergerak cepat mengevaluasi kesiapan teknologi sekaligus memetakan potensi batu bara nasional agar transisi besar ini dapat terwujud secara matang dan berkelanjutan.

Keberhasilan proyek raksasa ini kelak bukan sekadar menjamin tangki kendaraan masyarakat tetap terisi, melainkan menjadi bukti nyata kedaulatan bangsa atas kekayaan alamnya sendiri. Masa depan di mana Indonesia benar-benar berdikari di bidang energi kini berada tepat di depan mata, membawa harapan baru bagi ketahanan ekonomi seluruh rakyat Indonesia. (Gdi)