Site icon Wanita Indonesia

El Nino Diduga Jadi Penyebab Harga Cabai Rawit Tembus Rp70 Ribu per Kilogram

Tanaman cabai siap untuk dipanen. Gdi

WANITAINDONESIA.CO — Sengatan cuaca panas dan fenomena penyimpangan iklim (El Nino) yang melanda berbagai wilayah kini mulai merambat ke meja makan masyarakat. Bahan dapur utama yang kerap menjadi penentu selera makan keluarga, yakni cabai rawit, melonjak hingga menyentuh harga rata-rata nasional sebesar Rp70 ribu per kilogram. Kenaikan harga yang cukup tajam ini membuat masyarakat harus memutar otak dalam mengatur anggaran belanja harian.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengonfirmasi bahwa pemicu utama di balik meroketnya harga komoditas pedas ini adalah faktor iklim ekstrem yang mengganggu masa panen para petani.

“Ya jadi kalau kita lihat harga rata-rata nasional kan Rp70 ribu. Kami sudah komunikasi, memang (faktor kenaikan harga) karena musim (cuaca) panas ini,” tutur Mendag Budi saat memberikan keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan data terkini dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan (Kemendag), tren kenaikan ini melanda hampir seluruh jenis cabai secara merata. Harga cabai rawit merah mencatatkan lonjakan paling tinggi sebesar 0,56 persen hingga menyentuh angka Rp74.435 per kilogram. Sementara itu, cabai merah keriting merangkak naik 0,09 persen menjadi Rp55.996 per kilogram, diikuti cabai merah besar yang juga menguat 0,09 persen ke posisi Rp48.202 per kilogram.

Menghadapi tantangan kelangkaan pasokan di beberapa lokasi, pemerintah langsung menyiapkan langkah taktis guna meredam lonjakan harga yang kian meluas. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan bahwa strategi distribusi antardaerah menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas pasar. Pasokan cabai dari wilayah yang mengalami kelebihan produksi (surplus) bakal segera dialirkan ke wilayah yang mengalami kekurangan (defisit) agar pasokan kembali merata.

Di tengah melambungnya harga komoditas pedas tersebut, masyarakat setidaknya masih bisa bernapas lega karena harga beberapa bahan pangan pokok lainnya relatif terkendali. Saat melakukan peninjauan langsung ke Pasar Prambanan, pihak Kementerian Perdagangan mencatat harga bawang merah, bawang putih, telur, hingga daging ayam masih berada di bawah harga eceran tertinggi (HET) serta batas harga acuan pemerintah.

Kondisi pasokan pangan pokok yang terjaga ini dinilai sebagai sinyal positif bagi kestabilan ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menekankan pentingnya menjaga titik temu antara ketersediaan barang dan tingkat permintaan (supply and demand) agar semua pihak mendapat keadilan. “Artinya, kalau mendekati, itu berarti ada keseimbangan antara supply and demand, kita harapkan kan seperti itu. Sehingga peternak bisa jalan, dan konsumen juga tidak dirugikan,” pungkasnya.

Meski lonjakan harga cabai rawit sempat menguncang dinamika pasar harian, respons cepat intervensi pasokan dari pemerintah diharapkan mampu mengembalikan kesegaran bahan pangan pokok ke harga yang ramah di kantong. Mari kita cermati bersama perkembangan gerak harga di pasar terdekat, sembari terus berkreasi menyajikan hidangan lezat dan bernutrisi bagi orang-orang tercinta di rumah. (Gdi)

Exit mobile version