WANITAINDONESIA.CO — Langkah pebisnis jaringan toko modern di Tanah Air kini tidak lagi sekadar berfokus memperebutkan ceruk belanja konsumen domestik, melainkan terus melebarkan taring bisnisnya hingga menembus ranah internasional. Kiprah menakjubkan dari raksasa ritel nasional tersebut membuktikan bahwa industri perdagangan eceran Indonesia telah melesat dari sekadar ceruk pasar yang gemuk menjadi kekuatan regional yang patut diperhitungkan di kawasan Asia Pasifik.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin dalam keterangan resminya, Minggu, menegaskan bahwa posisi Indonesia dalam peta industri ritel Asia Pasifik bukan hanya sebagai pasar konsumen yang besar, melainkan juga platform pertumbuhan, penghubung ekosistem bisnis, serta pemain regional yang semakin berkembang pesat.
Kekuatan fundamental tersebut tecermin dari pencapaian sektor perdagangan besar dan eceran yang menyumbang kontribusi sebesar 13,2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2025. Capaian angka tersebut menempatkan sektor ini sebagai penyumbang ekonomi terbesar ketiga setelah industri pengolahan, dengan laju pertumbuhan mencapai 6,1 persen secara tahunan (year-on-year) atau jauh melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Penopang utamanya melingkupi lebih dari 270 juta jiwa penduduk dengan karakteristik belanja yang bervariasi dari kawasan perkotaan hingga perdesaan, di mana ritel modern dan tradisional saling menopang kebutuhan harian masyarakat.
Namun, potensi besar tersebut tidak berhenti pada besarnya jumlah pembeli di dalam negeri. Menurut Solihin, Indonesia diposisikan sebagai pasar, platform, sekaligus pemain regional. Sebagai pasar, Indonesia menawarkan basis konsumen raksasa, pertumbuhan ritel terorganisasi, serta ekosistem pembayaran digital dan serba saluran (omnichannel) yang bergerak sangat dinamis.
Sementara dalam fungsinya sebagai platform, Indonesia bertindak menghubungkan konsumen, merek, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), rantai pasok, serta integrasi teknologi secara berkelanjutan. Dari pilar pemain regional, kapabilitas dan daya saing bisnis ritel Indonesia terbukti mulai mengekspansi batas-batas antarnegara. Penanda perubahan paling terasa tecermin dari rekam jejak anggota Aprindo, seperti Alfamart yang sukses menancapkan kuku bisnisnya di Filipina, serta Alfamart Trading yang telah merambah pasar Bangladesh. Keberhasilan ekspansi ini menandakan bahwa keahlian manajemen dan operasional yang dibangun dari dalam negeri dapat beradaptasi secara efektif di pasar mancanegara.
Keunggulan bersaing tersebut tidak sebatas mengenai format fisik gerai semata, melainkan mencakup penguasaan manajemen, ketahanan sistem rantai pasok, pengembangan merek dan produk, hingga kualitas sumber daya manusia ritel yang mumpuni. Di saat yang sama, pasar dalam negeri juga tetap bersikap terbuka terhadap masuknya pelaku ritel regional yang beradaptasi dengan karakter konsumen tempatan, sehingga dinamika bisnis Asia Pasifik tidak harus melahirkan persaingan mati-matian, melainkan mendorong kemitraan serta pertukaran kapabilitas antarnegara.
Guna menjaga momentum berharga ini, Aprindo terus memperkuat ekosistem usaha melalui koordinasi erat bersama pemerintah, penyiapan regulasi yang dapat diprediksi, penguatan ketahanan rantai pasok, penciptaan iklim persaingan digital yang adil, serta pelibatan pelaku UMKM secara lebih mendalam.
Langkah berani menembus batas kawasan ini menjadi bukti nyata bahwa sektor perdagangan eceran nasional siap memimpin era baru pertumbuhan ekonomi regional yang jauh lebih inklusif dan berdaya saing global. (gdi)

