Site icon Wanita Indonesia

Drone Dijadikan Penjaga Paru-Paru Hijau Melawan Penjarah

Petugas Gakkum Kemenhut bersiap menerbangkan drone dalam pelatihan yang dilakukan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat pada 7-12 Juli. (Kemenhut)

WANITAINDONESIA.CO – Jauh di dalam rimbunnya belantara Indonesia, kejahatan lingkungan sering kali bersembunyi di balik rapatnya pepohonan yang sulit ditembus oleh kaki manusia. Namun, hari-hari di mana para pelaku perusakan alam bisa bersembunyi dengan tenang tampaknya akan segera berakhir. “Mata langit” kini telah bersiap meluncur ke angkasa, membawa misi besar untuk mengawasi dan menyelamatkan sisa-sisa paru-paru hijau Nusantara.

Langkah progresif ini ditandai dengan keseriusan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dalam memperkuat sistem pertahanan lingkungan kita. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan patroli darat yang melelahkan dan memakan waktu. Melalui penguatan kapasitas penggunaan teknologi pesawat tanpa awak (drone atau Unmanned Aerial Vehicle / UAV), negara sedang meretas jalan baru dalam mengumpulkan data keruangan (spasial) yang akurat demi penegakan hukum yang tak pandang bulu.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi ini telah bergeser dari sekadar alat dokumentasi biasa. Menurutnya, teknologi ini merupakan instrumen strategis untuk memperkuat kerja intelijen, pengawasan terhadap pengelolaan kawasan hutan, hingga pembuktian di lapangan secara cepat dan akurat.

“Tantangan di lapangan kian hari kian berat. Kejahatan kehutanan kini tumbuh menjadi ancaman yang sangat kompleks, terorganisasi, dan memanfaatkan teknologi canggih di wilayah-wilayah yang nyaris mustahil dijangkau dengan metode biasa (konvensional),” ujar Dwi Januanto Nugroho dengan nada optimistis.

Komitmen ini bukan sekadar rencana di atas kertas. Sebanyak 51 personel tangguh dari Pusat Intelijen (Intelligence Center) Kemenhut telah diterjunkan ke Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sejak tanggal 7 hingga 12 Juli 2026, para penjaga hutan ini digembleng dalam bimbingan teknis intensif untuk menguasai ruang udara di atas rimba Indonesia.

Langkah taktis ini juga menjadi pilar penting dalam mendukung target nasional penyerapan karbon bersih sektor kehutanan dan tata guna lahan lainnya (Forestry and Other Land Uses / FOLU Net Sink). Kemenhut bertekad mewujudkan tata kelola kawasan hutan yang berkelanjutan sekaligus berkeadilan iklim (climate justice).

Selama pelatihan, para personel dibekali dengan berbagai keahlian penting. Mereka mempelajari regulasi pengoperasian sistem pesawat udara kecil tanpa awak (Small Unmanned Aircraft System), keselamatan penerbangan, hingga seni pengambilan keputusan penerbangan (Aeronautical Decision Making). Tidak hanya itu, mereka juga melatih manajemen sumber daya kru (Crew Resource Management), manajemen risiko (risk management), pemetaan lapangan, hingga pengoperasian aplikasi mutakhir SIDOPI GO. Di akhir program, para peserta menjalani uji sertifikasi ketat untuk memastikan mereka pulang dengan predikat resmi sebagai penerbang pesawat tanpa awak (pilot drone) yang kompeten.

Direktur Pencegahan dan Penanganan Pengaduan Kemenhut, Yazid Nurhuda, menambahkan bahwa integrasi data adalah kunci utama dari kesuksesan misi ini. Hutan Indonesia yang membentang sangat luas menuntut respons yang cepat dan presisi.

“Semua data keruangan yang ditangkap oleh mata-mata terbang di angkasa harus langsung mengalir dan menyatu ke dalam Pusat Intelijen. Dengan begitu, setiap keputusan taktis—mulai dari penyelidikan, verifikasi aduan masyarakat, hingga pengumpulan bukti di lapangan—bisa diambil berdasarkan informasi yang nyata, tepat, dan tidak terbantahkan,” pungkas Yazid Nurhuda.

Kini, sebuah era baru dalam perlindungan alam telah dimulai. Di bawah kepakan sayap-sayap teknologi yang dikendalikan oleh tangan-tangan terampil, hutan Indonesia tidak lagi berdiri sendiri dalam sunyi. Dari balik awan, perlindungan itu kini nyata, mengawasi setiap jengkal hijau yang menjadi tumpuan napas generasi masa depan. (Gdi)

Exit mobile version