
WANITAINDONESIA.CO – Bungah, dan bangga mendengar capaian sosok Bunga Bangsa Dr. Laely Indah Lestari.
Persona Wanita Indonesia mumpuni dalam pelestarian budaya bangsa, khususnya lewat ilmu yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat, menutup tahun 2025 dengan capaian manis.
Wanita Indonesia yang dikarunia dengan limpahan energi kreatif dengan beragam minat seperti Culture Traveler, Photographer, Writer sukses menorehkan prestasi di bidang akademis dengan meraih gelar Doktor tercepat, dari Fakultas Komunikasi, Universitas Padjajaran-Bandung.
Khalayak khususnya ekosistem fesyen Indonesia mengenal Laely sebagai Mpu Wastra. Lewat upaya pelestarian, serta kreativitasnya dalam mempresentasikan wastra, khususnya tenun Sumba hadir produk fesyen bernilai tinggi, yang dikagumi masyarakat dunia.
Tentu lewat kelembutan tangannya, produk budaya kain tradisi Indonesia menjadi bernilai tambah. Tampil menjadi produk fesyen berselera global yang sangat digemari.
Sejak dikukuhkan sebagai Doktor Ilmu Komunikasi, wanita yang memiliki peran multitasking sebagai isteri, dan ibu rumah tangga, tekadnya kian membaja untuk membumikan budaya Nusantara. Salah satunya dengan mengedepankan selera berbusana yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
Laely Indah Lestari resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran, setelah mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor, Kamis (27/11). Wanita cerdas yang menjadi panutan generasi muda memperoleh IPK sempurna 4,0. Dan untuk meraih gelar sarjananya tersebut dia hanya butuh waktu singkat 2 tahun 2 bulan!. “Wow.
Tak kalah membanggakan, Dr. Laely dinyatakan lulus dengan predikat Summa Cum Laude. Ini merupakan raihan tercepat bagi lulusan doktor. Lewat capaian gemilang, Dr. Laely menjadi lulusan terbaik dalam sejarah Program Doktor Fikom Unpad.
Prestasi tersebut semakin istimewa dikarenakan Dr. Laely merupakan mahasiswa jalur Fast Track S2–S3. Ia menyelesaikan pendidikan S2 hanya dalam 1 tahun 1 bulan, sambil secara paralel menempuh pendidikan doktoral, yang juga berhasil diselesaikannya dalam waktu sangat singkat.
Baik program magister maupun doktoral dituntaskannya dengan IPK 4,0 dan predikat Summa Cum Laude. Wah bisa dibayangkan capaian gemilang pendidikannya, di tengah peran sebagai isteri, dan ibu rumah tangga.

Torehan Emas Role Model Wanita Indonesia
Dr. Laely mampu membuktikan konsistensi akademik, dan dedikasi luar biasa dalam penelitian, serta pengembangan ilmu komunikasi. Dalam risetnya, Laely merumuskan Model Komunikasi Budaya Tanah–Tangan–Tutur. Merupakan sebuah kerangka baru yang dinilai dapat mengubah cara Indonesia memahami, dan mengelola warisan budaya.
Model yang digunakan sangat jenius ihwal penegasan budaya, yang kekinian tak boleh lagi diartikan sempit. Sekadar artefak pariwisata, namun merupakan ekologi makna yang terbentuk melalui tiga dimensi utama: tanah sebagai nilai kosmologis, tangan sebagai tindakan budaya yang embodied, serta tutur sebagai narasi, dan ritus yang menjaga kesinambungan identitas.
Hasilnya cemerlang, temuannya tersebut memperoleh pujian tinggi dari para penguji, karena menawarkan paradigma komunikasi berbasis epistemologi lokal Nusantara, yang selama ini belum terpetakan secara konseptual.
Disertasi berjudul “Tanah, Tangan, dan Tutur: Etnografi Komunikasi Representasi Budaya dalam Ekosistem Pariwisata Tenun Ikat Sumba Timur” mengungkap bahwa tenun ikat bukan hanya komoditas pariwisata, tetapi juga instrumen diplomasi budaya, dan medium representasi identitas masyarakat Sumba Timur.
Dr. Laely menunjukkan bagaimana komunikasi antara penenun, tokoh adat, wisatawan, pemerintah daerah, dan media membentuk arus komunikasi sirkular yang menentukan hidup-matinya makna budaya di tengah globalisasi.
Prestasi akademik ini memperoleh apresiasi luas dari para guru besar yang hadir dalam sidang. Mereka menilai penelitian Laely menjadi kontribusi strategis bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya, pelestarian warisan budaya takbenda, serta penyusunan kebijakan komunikasi di tingkat daerah maupun nasional.
Laely berharap model komunikasinya dapat digunakan oleh pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan pelaku pariwisata untuk menyusun strategi komunikasi budaya yang lebih etis, inklusif, dan berbasis nilai.
“Budaya kita kaya, tetapi membutuhkan kerangka komunikasi yang kuat. Tanah – Tangan – Tutur merupakan upaya saya untuk menghadirkan kerangka tersebut, “pungkas Dr.Laely. (*)




