Site icon Wanita Indonesia

Dekan Fikom Untar Harap Mahasiswa Komunikasi Jadi Penghubung Budaya Zaman

Kreasa Fest 2026 yang digelar Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Tarumanagara (Untar) di Kampus I Untar, Jakarta, Jumat (5/6/2026). HO-Untar

WANITAINDONESIA.CO – Menjaga kelestarian tradisi di tengah gempuran arus informasi global menuntut cara-cara baru yang tidak konvensional. Kebudayaan Nusantara kini tidak boleh lagi sekadar diposisikan sebagai peninggalan masa lalu yang pasif, melainkan harus dikomunikasikan secara aktif agar tetap relevan dan memiliki ruang tumbuh di hati generasi digital.

Sudut pandang krusial tersebut mengemuka dalam gelaran Kreasa Fest 2026 yang mengusung tema besar “Budaya Menginspirasi, Generasi Beraksi”. Ajang kreatif yang menjadi bagian integral dari rangkaian Communication Week (Pekan Komunikasi) 2026 ini dirancang sebagai wadah strategis bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu komunikasi secara nyata melalui kolaborasi yang dinamis.

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara (Fikom Untar) Sinta Paramita, menjelaskan bahwa festival ini bukan sekadar panggung unjuk bakat, melainkan sebuah wahana pembelajaran interaktif. Melalui beragam aktivitas kreatif, para mahasiswa ditantang untuk meramu pesan-pesan kebudayaan agar mampu menembus sekat-sekat media digital yang berkembang sangat pesat.

“Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan media, budaya tidak cukup hanya dijaga, tetapi juga perlu dikomunikasikan, dihidupkan kembali, dan diberi ruang untuk berkembang melalui pendekatan yang kreatif dan inovatif,” ungkap Sinta Paramita dengan tegas.

Dalam pandangannya, mahasiswa yang mendalami ilmu komunikasi memikul tanggung jawab dan peran yang sangat strategis. Mereka bertindak sebagai jembatan hidup atau penghubung utama yang mengaitkan nilai-nilai luhur warisan leluhur dengan realitas masyarakat modern. Tantangannya adalah bagaimana mengemas pesan tradisional tersebut ke dalam format-format baru yang segar dan memikat perhatian publik.

Melalui simulasi dan proyek nyata di dalam festival ini, para praktisi muda tersebut dipacu untuk terus mengasah daya kreativitas, ketajaman berpikir strategis, serta kekuatan kerja sama tim. Kompetensi-kompetensi inilah yang dinilai menjadi modal utama dalam merespons tantangan zaman, sekaligus memastikan identitas lokal tetap eksis di tengah dominasi konten global.

Langkah nyata para kreator muda ini membuktikan bahwa komunikasi adalah kunci utama agar tradisi tidak mati. Ketika estetika budaya masa lalu dikemas dengan kecerdasan strategi komunikasi modern, ia tidak hanya akan bertahan, melainkan menjelma menjadi identitas bangsa yang membanggakan di panggung dunia. (Gdi)

Exit mobile version