WANITAINDONESIA.CO Banten – Di balik kebijakan kesehatan yang menyentuh masyarakat hingga lapisan terbawah, terdapat sosok perempuan tangguh dengan perjalanan panjang penuh pengabdian. Dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti adalah potret nyata bagaimana ketulusan dapat menjelma menjadi kepemimpinan yang berdampak luas.
Perjalanan kariernya tidak dibangun dalam semalam. Ia menapaki setiap jenjang dengan kesabaran—dimulai dari pelayanan langsung di fasilitas kesehatan, hingga dipercaya memimpin sebagai Direktur RSUD, dan kini mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten. Bagi Ati, fokusnya selalu sederhana namun bermakna dalam: memastikan setiap kebijakan kesehatan benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil.
Namun, jalan pengabdian tentu tidak selalu mulus. Tantangan terbesar yang ia hadapi bukan sekadar keterbatasan fasilitas atau anggaran, melainkan bagaimana mengubah sistem dan pola pikir. Ujian itu terasa nyata saat pandemi Covid-19 melanda. Dalam situasi penuh ketidakpastian, keputusan harus diambil cepat, tepat, dan penuh tanggung jawab—karena yang dipertaruhkan adalah nyawa manusia.
Di balik ketegasannya sebagai pemimpin, Ati menyimpan sisi kelembutan yang menjadi kekuatannya. Ia mengakui, sosok ibunya adalah inspirasi pertama dalam hidupnya—yang mengajarkan arti ketulusan. Dalam dunia profesional, ia mengagumi perempuan-perempuan pemimpin yang mampu berdiri teguh pada prinsip, namun tetap mengedepankan sisi kemanusiaan.
Perempuan: Pilar Kesehatan Keluarga dan Bangsa
Bagi Ati, perempuan memegang peran yang sangat strategis. Ia menyebut perempuan sebagai “Menteri Kesehatan” dalam keluarga. Sebuah peran yang tidak hanya simbolis, tetapi nyata—karena perempuan adalah pengambil keputusan utama dalam hal gizi, kesehatan anak, hingga perawatan lansia.
Di tengah stigma yang kerap melekat—bahwa perempuan terlalu emosional—Ati justru melihatnya dari sudut pandang berbeda. Sensitivitas perempuan, menurutnya, adalah fondasi dari empathetic leadership. Dalam dunia kesehatan, empati bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan utama untuk memahami dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati.
Ia pun melihat perkembangan yang menggembirakan di Provinsi Banten. Semakin banyak perempuan yang menduduki posisi strategis di rumah sakit maupun instansi kesehatan. Mereka hadir bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai penggerak perubahan yang teliti, tangguh, dan berdedikasi.
Semangat Kartini dalam Kepemimpinan Modern
Hari Kartini bagi Ati bukan sekadar peringatan tahunan. Ia memaknainya sebagai pengingat bahwa batasan terbesar bagi perempuan sering kali hanya berasal dari dalam diri sendiri. Momentum ini menjadi ajakan untuk berani melangkah, berkarya, dan menjadi diri sendiri.
Nilai-nilai R.A. Kartini ia terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari—terutama dalam hal keberanian untuk terus belajar dan mendobrak keterbatasan demi kepentingan yang lebih luas.
Dalam kepemimpinannya, ia menerapkan prinsip kesetaraan. Kesempatan berkembang diberikan kepada siapa pun, tanpa memandang gender, melainkan berdasarkan kompetensi dan prestasi. Baginya, emansipasi bukan sekadar wacana, tetapi praktik nyata dalam lingkungan kerja.
Menjaga Perempuan, Menjaga Masa Depan
Sebagai pemimpin di sektor kesehatan, Ati menaruh perhatian besar pada isu kesehatan perempuan dan keluarga. Fokus utama di Banten saat ini adalah penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), serta stunting. Selain itu, program skrining dini kanker serviks dan payudara terus digalakkan hingga tingkat Puskesmas.
Ia juga menyoroti tantangan perempuan di era modern: beban ganda. Di satu sisi, perempuan dituntut profesional dalam karier, sementara di sisi lain tetap memegang peran utama dalam keluarga. Tak jarang, kondisi ini membuat perempuan lupa menjaga kesehatan dirinya sendiri.
Dengan penuh kelembutan, ia menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: jangan menunggu sakit untuk peduli. Menyayangi diri sendiri adalah langkah awal agar perempuan memiliki kekuatan untuk merawat orang-orang yang dicintainya.
Kepemimpinan yang Berakar pada Nilai
Dalam setiap langkahnya, Ati berpegang pada prinsip hidup: “Khoirunnas Anfa’uhum Linnas”—sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Baginya, jabatan hanyalah sarana untuk memperluas manfaat, bukan tujuan akhir.
Keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi ia jaga dengan disiplin waktu dan komunikasi yang jujur bersama keluarga. Di kantor ia adalah pemimpin, namun di rumah ia tetap seorang ibu dan istri yang membutuhkan kehangatan serta dukungan.
Untuk generasi muda, khususnya perempuan, ia menitipkan pesan penuh harapan: jangan takut bermimpi besar. Pendidikan adalah kunci, dan integritas adalah kompas yang akan menuntun arah kehidupan. Jadilah perempuan yang mandiri, cerdas, dan tetap menjunjung tinggi adab. (yas)

