WanitaIndonesia.co, Jakarta – Persona Adith, talenta muda berbakat di industri fashion Indonesia, menjadi penanda sejarah bahwa generasi muda Indonesia peduli dengan aspek budaya serta keberlanjutan.
Ditemui Wanitaindonesia.co pada sesi temu media sebelum mempresentasikan ‘Eunoia’ Adith mengungkapkan kegelisahan hati, semangat, dan upayanya dalam merawat tradisi dalam modernitas yang mendukung sustainability fashion.
Lewat Eunoia Fall Winter 2025 /20, Adith menginterprestasikan rancangannya dengan menyoal aspek keberlanjutan lewat hubungan harmonis antara budaya, alam dengan manusia.
Alam dengan segala pesona serta potensinya dapat menjadi bestie manusia. Sayangnya karena ketidaktahuan, keserakahan serta kebodohan manusia, alam pun menjadi rusak karena pikiran serta ulah manusia.
Dampaknya bumi bergelora dengan banyaknya musibah, dan bencana seperti kebakaran lahan, banjir, tanah longsor, dan sekarang yang banyak dirasakan umat manusia muncul fenomena cuaca ekstrem seperti panas yang sangat menyengat, berlangsung lama.
Hal ini kemudian melecut pria humble untuk berbuat serta berkarya dengan mengedepankan aspek keberlanjutan pada brand ADHIT yang terinspirasi dari namanya. Aspek keberlanjutan menjadi fokus utama karyanya 3 tahun belakangan.
Ia juga mengajak circle serta konsumennya untuk berpartisipasi merawat Bumi.

“Merdeka Selamatkan Bumi Indonesia dari Sampah
Usai menggebrak panggung New York Fashion Week the Shows Spring Summer 2005, pria cerdas ini melanjutkan karsa, dan karyanya untuk panggung JF3.
Ia mempersembahkan karya spesial merujuk ke konsep pagelaran JF3 Fashion Festival “Recrafted – A New Vision” lewat koleksi terbaru Eunoia Fall Winter 2025-2026.
Rancangan terinspirasi oleh harmoni dari tradisi, yang dibalut modernitas serta keberlanjutan dalam busana.
Desainnya memadukan gaya ultra feminim dengan sentuhan varsity casual glamour. Menggunakan material wol, crispy, satin yang nyaman pada 15 look rancangannya.
Selain itu, ia memikirkan secara cermat penggunaan palet dari cherry lacquer yang berkarakter tapi lembut.
Penting menjaga keseimbangan antara budaya dengan arus global yang menyelarasksn dengan keterbukaan dari kelas & tata krama.
Yang menarik, ide besar Eunoia terinspirasi oleh limbah botol plastik minuman yang menjadi sampah. Sampah yang mencemari setiap jengkal bumi, selain wilayah perairan sungai, laut, pantai bahkan hingga ke pegunungan. “Ini baru satu jenis sampah, belum dari cemaran limbah lainnya seperti fashion, “terang Adith.
Adhit menambahkan,” Saat ini bumi sedang sakit, dikarenakan munculnya gunung baru yang hadir dari limbah fashion.
Fast fashion merupakan ancaman nyata bagi keberlanjutan bumi, dan umat manusia. Harus ada upaya untuk menggerakkan masyarakat agar mau berkesadaran dalam memilih, membeli serta menggunakan pakaian.”
“Kita harus bersama-sama mencegah lalu menghentikannya dengan sejumlah langkah konkret.
Hal ini selaras dengan Recrafted : A New Vision yang memiliki makna serta tujuan mulia antara lain untuk ekosistem kehidupan nan berkelanjutan, “cetusnya.
Eunoia hadir lewat interaksi kala ia pergi ke toko kain. Adith terpikat oleh satu jenis bahan berjenis liquid nan mengkilap. Tak lama berselang, pria inspiratif dengan limpahan energi kreatif ini, langsung mendapat ide untuk mengeksekusi limbah botol plastik menjadi hiasan (embellisment), dan diolah menjadi bahan squins. Hasilnya sangat baik sesuai dengan ekspektasinya, untuk menghadirkan efek kilap bahan, yang digunakan untuk koleksi terbarunya itu.
Story Telling, Fashion Berkesadaran
Menurut pria Jawa yang gemar menguri-nguri budaya, dalam berkarya ia senantiasa memikirkan aspek keberlanjutan dari budaya serta lingkungan, juga untuk para penikmat karyanya.
“Penting muncul gerakan kesadaran berbusana diantaranya dengan mengetahui apa yang kita kenakan, kita beli serta mengetahui proses produksi dari hilir ke hulu seperti material, dan juga para pekerjanya, “imbuhnya.
Adhit melanjutkan, “Konsumen saya itu tipikal pembeli cerdas, karena tak hanya sekedar membeli guna memenuhi kebutuhan fungsional, namun mereka peduli dengan aspek keberlanjutan. Yang kekinian sudah menjadi sebuah kebutuhan. Selain hadir aspek prestise. Karenanya, definisi berpakaian di masa sekarang harus bermakna lebih. Berpakaian harus diimbangi dengan rasa responsibility.”
“Karenanya disetiap produk, saya selalu menghadirkan story telling seperti proses kreatif. Penting pelanggan juga harus tahu ke mana mengalirnya uang yang mereka belanjakan, “terang Adhit.
“Ini terkait dengan keberlanjutan komunitas pengrajin daerah terpencil di NTT. Mereka membantu saya memproduksi produk limbah daur-ulang yang kemudian saya eksekusi menjadi sebuah rancangan yang bernilai seni sekaligus fungsional, “ujarnya.
Menurut Adhit untuk menjaga serta merawat legacy budaya bangsa yang adiluhung, harus dilakukan dengan beragam cara kreatif seperti story telling. Ini untuk menggugah minat, kesadaran bahwa sebuah karya itu lahir dari unsur seperti kepekaan, ide gagasan serta hal penting lainnya,
yang akan membuat posisinya akan dipandang secara istimewa. Bisa dilekatkan sebagai status simbol pengguna, “ucap Adith.
Era, Semangat, Langkah Baru Industri Fashion Indonesia
Lewat Recrafted: A New Vision kita melangkah bersama ke era baru dengan semangat yang lebih kuat, agar semakin kreatif, tangguh guna menaklukkan beragam tantangan, yang tak mudah di industri. Walau dikenal sebagai talenta muda berbakat, ia mengaku kerap melakukan banyak pekerjaan terkait bisnis secara mandiri.
“Saya masih harus menjalankan peran multitasking yakni sebagai desainer, marketing, membuat konsep promosi, fashion show, melakukan berkolaborasi serta banyak pekerjaan lainnya. Ini jamak dialami oleh desainer Indonesia, “terangnya.
“Karenanya, kita wajib mengapreasi lebih gelaran JF3 Fashion Festival yang heroik dalam semangat kemerdekaan guna mengisi, membangun serta memperkenalkan budaya fashion Indonesia ke kancah global, “cetus Adhit.
“Saya terkesan dengan kalimat Thresia Mareta bahwa fashion itu bisnis, apapun yang kita lakukan serta elemen penunjang yang mendukung keberadaan karya seorang desainer, harus bisa dipandang sebagai sebuah celah bisnis. Contohnya front row yang bisa dijual desainer kepada para penonton, khususnya ke buyers, “pungkasnya.