WANITAINDONESIA.CO – Perjalanan hidup Valeny Rianda menjadi bukti bahwa mimpi tidak mengenal batas usia maupun status. Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak, ia berhasil membangun karier sebagai pengajar bahasa Jepang sekaligus penerjemah profesional.
Kecintaannya terhadap Jepang ternyata sudah tumbuh sejak kecil. Berawal dari kegemaran menonton drama Jepang, membaca majalah anak-anak hingga mengidolakan karakter seperti Doraemon, membuat dirinya penasaran dengan budaya Negeri Sakura.
“Dulu saya suka baca cerita-cerita tentang Jepang di majalah Bobo. Saya kagum dengan kemajuan mereka, seperti kereta bawah tanah yang waktu itu terasa sangat canggih,” ungkap Valeny.
Ketertarikan tersebut terus berkembang hingga akhirnya setelah menyelesaikan pendidikan D3 Akuntansi Pajak di Jakarta, ia memutuskan mengambil langkah besar untuk belajar bahasa Jepang secara serius di Jepang.
Di Negeri Sakura, Valeny menjalani pendidikan bahasa Jepang secara intensif. Selama satu tahun penuh, ia belajar mulai dari huruf hiragana, katakana, hingga ribuan kanji setiap hari dari pagi hingga sore. Untuk dapat melanjutkan ke universitas, ia juga harus mencapai level kemampuan bahasa Jepang N2, salah satu standar tertinggi dalam kemampuan bahasa Jepang.
“Belajarnya benar-benar disiplin. Dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore fokus bahasa Jepang,” katanya.
Pengalaman belajar tersebut kini menjadi bekal penting dalam metode mengajarnya. Ia menerapkan kedisiplinan dan teknik belajar yang pernah diterimanya selama di Jepang kepada para muridnya di Indonesia.
Menariknya, karier mengajarnya justru dimulai dari mengajarkan bahasa Indonesia kepada warga Jepang. Saat anaknya bersekolah di sekolah Jepang, banyak ibu-ibu asal Jepang yang ingin belajar bahasa Indonesia agar lebih mudah berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Mereka ingin bisa bicara dengan sopir, asisten rumah tangga, atau sekadar memahami percakapan sehari-hari,” ujarnya.
Dari situ, Valeny mulai mengajar privat dari mulut ke mulut. Ada yang belajar sendiri, ada pula yang belajar dalam kelompok kecil. Sejak 2013, jumlah muridnya terus bertambah, mulai dari anak SD hingga lansia yang ingin belajar bahasa Jepang untuk travelling.
“Bahkan ada oma-oma yang belajar karena suka pergi ke Jepang bersama teman-temannya,” katanya sambil tersenyum.
Kini, selain mengajar privat, Valeny juga mengajar bahasa Jepang di sekolah swasta untuk tingkat SD, SMP, hingga SMA. Tidak hanya itu, kemampuan bahasanya juga membawanya menjadi penerjemah dalam berbagai kegiatan rohani dan konferensi internasional.
Ia kerap dipercaya menerjemahkan khotbah dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia maupun sebaliknya ketika ada pendeta Jepang yang melayani di Jakarta.
Di balik kesibukannya sebagai pengajar dan mahasiswa teologi, Valeny tetap memprioritaskan keluarga. Ia mengaku manajemen waktu menjadi tantangan terbesar dalam menjalani berbagai peran sekaligus.
“Anak-anak sekolah, saya mengajar. Saat mereka pulang, saya sudah di rumah menemani mereka. Malam hari, kami belajar bersama,” tuturnya.
Saat pandemi COVID-19, ia bahkan memutuskan melanjutkan pendidikan teologi hingga jenjang S2. Baginya, belajar adalah proses yang tidak pernah berhenti.
“Walaupun sudah punya keluarga dan anak, itu bukan penghalang untuk menggapai mimpi,” tegasnya.
Melalui perjalanan hidupnya, Valeny Rianda ingin mengajak para perempuan Indonesia untuk tidak membatasi diri dan tetap berani berkarya.
“Setiap orang punya mimpi. Jangan takut untuk mengejarnya. Ketika kita punya aktivitas positif dan berkarya, hidup jadi lebih semangat,” pungkasnya. (ver)





