Catatan Wanitaindonesia.co dari Malam Anugerah Piala Citra FFI 2025
WANITAINDONESIA.CO – Perhelatan akbar ekosistem Perfilman Indonesia Malam Anugerah Piala Citra FFI 2025 menorehkan catatan emas, ihwal penyelenggaraan FFI yang senantiasa berprogres, yang membuktikan kehandalan sineas Indonesia, serta kecintaan masyarakat akan industri perfilman Nasional.
Capaian pada Malam Anugerah Piala Citra FFI 2025 merupakan wujud semangat kolektif, keberagaman budaya, serta kekayaan narasi yang menjadi denyut nadi kebudayaan Indonesia.
Namun demikian, ada catatan dari Wanitaindonesia.co untuk panitia penyelenggara seputar dress code tamu undangan. Tertulis untuk wanita mengenakan kebaya. Sedangkan kaum pria berbusana dari material wastra. Entah karena tak memiliki kebaya atau busana dengan material wastra elegan, sebagian tamu terlihat abai dress code.
Padahal dress code itu merupakan aturan, dan pedoman yang ditetapkan dalam sebuah acara seperti jenis pakaian, warna maupun gaya agar selaras dengan suasana, nilai, serta budaya. Layaknya sebuah pergaulan orang yang mematuhi dress code dianggap menghargai etika pergaulan.
Tamu undangan wajib untuk mengindahkan aturan tersebut, karena merupakan wujud dari perasaan hormat, menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta meningkatkan kepercayaan diri. Orang bijak sadar dress code menilai dress code bukanlah batasan, melainkan panduan.
Lewat penggunaan dress code kebaya, dan wastra di perhelatan malam Anugerah FFI 2025 tentunya akan menjadi elemen penting dari suksesnya penyelenggaraan acara yang mengacu kepada tema “Puspawarna Sinema Indonesia”.

Sertakan Pedoman Lengkap Dress Code
Wanitaindonesia memberikan catatan kepada Panitia Pelaksana FFI 2025 ihwal dress code kebaya, dan wastra.
Pada malam Anugerah FFI 2025 sebagian tamu undangan berusaha mematuhi adab dengan menggunakan dress code Kebaya, dan Wastra. Namun disayangkan masih banyak yang abai untuk mematuhi aturan tersebut. Mereka hadir dengan menggunakan busana pesta seperti tube dress, kaftan, jas, blazer yang diberi sentuhan wastra sekedarnya.
Mengacu kepada arti kebaya, merupakan busana klasik wanita yang dibuat menggunakan material kain yang ringan seperti brokat, katun, serta voile. Bagian depan didesain terbuka dengan padanan kain batik maupun sarung.
Kebaya merupakan identitas busana nasional Wanita Indonesia, sekaligus merupakan saksi sejarah bangsa. Wanita Indonesia yang membusanai diri dengan menggunakan kebaya tampilannya akan senantiasa memancarkan keanggunan, dan kelembutan. Selain berdesain klasik, hadir beragam kebaya dengan desain modern.
Sedangkan wastra merupakan jenis kain tradisional beragam suku di Indonesia yang untuk kebutuhan lifestyle telah dialih fungsi menjadi kemeja, blazer, outer, kimono, jaket dlsbnya khususnya untuk busana pria.
Karena masih banyak tamu undangan yang tak mematuhi dress code, hal ini menjadi catatan penting bagi panitia dalam meng-edukasi , serta meng-encourage tamu-tamu undangan tersebut. Salah satunya dengan memberikan acuan desain kebaya yang seperti apa yang bisa dikenakan, mengingat jenisnya pun sangat beragam. Seperti kebaya kutubaru, kartini, encim, dlsbnya. Pun halnya untuk busana pria dari material wastra apa saja jenisnya selain batik, dan tenun.
Bila kemudian ada yang memodifikasi kebaya dalam tampilan modern, futuristik tentunya upaya tersebut patut dipujikan. Berharap akan berdampak pada keberlanjutan busana kebaya, khususnya di kalangan muda. Namun penting agar modifikasi yang dilakukan tak menghilangkan pakem kebaya.
Ihwal seni, dan tradisi budaya, bangsa Indonesia harus belajar lebih banyak ke bangsa besar seperti Jepang, dan Korea. Di mana generasi muda mereka tetap bangga, peduli, serta menjadi yang terdepan dalam pelestarian busana tradisional mereka seperti Kimono, dan Hanbok.
Lewat kepatuhan penggunaan dress code kebaya, dan wastra yang benar, tentunya akan berdampak semakin membuminya tema FFI 2025 “Puspawarna Sinema Indonesia” yang menekankan pada spirit, keberagaman warna, identitas, serta sudut pandang kreatif yang membentuk wajah perfilman nasional semakin dicintai masyarakat.
Pun manakala para tamu undangan telah mematuhi dress code kebaya, panitia pelaksana masih harus terus memandu ihwal penggunaan kain. Dikarenakan tangga menuju venue Teater Taman Ismail Marzuki terbilang tinggi, lebih kurang 7 meter!.
Wanitaindonesia.co menyaksikan beberapa tamu undangan yang menggunakan kebaya klasik dengan lilitan kain batik ketat, mereka kesulitan untuk menaiki anak tangga. Beruntung pendamping, serta panitia sigap untuk menuntun di sisi kanan, dan kiri agar tamu undangan dapat berjalan tanpa khawatir terjatuh.
Menurut panitia penyelenggara tangga berlapis karpet merah, merupakan perlambang dari pencapaian industri perfilman Nasional lewat talenta mumpuni para pelakunya. Namun demikian, aspek keselamatan, serta kenyamanan tamu undangan tetap harus menjadi prioritas.
Salah satu tampilan yang ‘mencuri’ hadir dari persona Jero Happy Salma yang berperan sebagai Anisa di Film Pangku. Tak hanya berperan, Jero Happy turut memberikan dukungan yang signifikan bagi Reza Rahadian, penulis, dan sutradara untuk merealisasikan seputar ide, dan gagasan beberapa tahun lalu.
‘Jero Happy’ Agungkan Kebaya Kutubaru Tien Soeharto
Pekerja seni, pengusaha sekaligus coach mumpuni ini mengejawantahkan aturan dress code dengan mengenakan kebaya klasik model Ibu Tien Soeharto, “Kutubaru”.
Kutubaru merupakan satu dari beragam jenis kebaya Indonesia seperti kebaya Kartini, kebaya encim, bali, jawa, madura, padang, riau dan yang lainnya.
Kutubaru dipopulerkan oleh Raden Ayu Siti Hartinah (Tien Soeharto) dengan desain khas berupa gier atau bef, berupa lapisan kain berbentuk segiempat yang dipasangkan pada bagian tengah kebaya.
Memiliki DNA seni, Jero Happy memilih material bludru hitam yang dipadankan dengan selendang hijau terang yang dipasang di bahu kiri, dengan kedua ujung selendang disimpulkan. Tujuannya agar selendang tak turun dari tubuh ketika penggunanya beraktivitas.
Pakem kebaya kutubaru mengharuskan warna selendang senada dengan warna kebaya. Jero Happy cerdas tak memilih selendang hitam sebagai pelengkap, agar tak menimbulkan kesan monoton, dan kurang dinamis. Karenanya harus diberi warna penyeimbang.
Nyata, paduan warna hitam, dan hijau terlihat harmonis membungkus tubuh indahnya, membuat tampilan Jero Happy terlihat elegan, modern sekaligus dramatis.
Kebaya kutubaru bludru awalnya dikenalkan oleh para wanita bangsawan. Materialnya bertekstur halus, serta memiliki kilau lembut. Pengamat mode menilai Kutubaru related dengan zaman karena memancarkan aura modern, sedikit sensual, serta sangat istimewa digunakan sebagai busana pesta.
Jero Happy memilih hitam dikarenakan identik dengan kedalaman, yang memberi efek berkelas. Sedangkan hijau mengacu kepada kesegaran.
Untuk bawahan, dipadu dengan kain batik tulis motif truntum kembang jeruk. Ia memakainya dengan menggunakan pakem klasik dengan diwiron. Wiron merupakan lipatan kecil bolak-balik seperti kipas dibagian ujung kain. Wiron untuk wanita biasanya lebih kecil dibandingkan dengan wiron untuk kain batik pria. Sedangkan alas kaki, Jero Happy memakai selop hitam tinggi.
Bila diamati Jero Happy tak menggunakan bros pada bagian tengah kebaya, layaknya pakem kutubaru. Pun bagian leher dibiarkan tanpa kalung.
Wanita yang kerap mementaskan karya seni dari pujangga, dan sastrawan ternama Indonesia, lebih memilih menggunakan anting ‘Kacapiring’ koleksi perhiasan indah dari Tulola Jewelry.
Brand perhiasan ternama asal Bali didirikan Jero Happy bersama sahabatnya Sri Luce Rusna. Ide dasar desain terinspirasi oleh cerita, kisah, mitos bahkan semangat kekayaan ibu pertiwi.
Untuk rambut, dia membuat penataan sanggul
dengan hiasan bunga anggrek putih. “Sempurna.
Agaknya wanita yang hidupnya didedikasikan atas nama seni, tak ingin tampilannya di malam nan ‘sakral’ tersebut terlihat berlebihan. Ibu dari dua anak ini ingin terlihat elegan, dengan penampilan klasik modern. Make-up dibuat natural pada wajah, serta mata. Nuansa bold terlihat pada lipstik merah menyala.
Lewat tampilan di malam Anugerah FFI 2025, Jero Happy sukses merefleksikan kecerdasan seorang role model Wanita Indonesia yang mumpuni dalam menjalankan kiprah, serta perannya sebagai pekerja seni, serta tamu undangan FFI 2025.
Selera Berkelas Busana Pewarta
Yang membuat gemas, para wartawan yang hadir untuk meliput. Mereka sangat antusias untuk mematuhi dress code, walau diberi akses meliput secara terbatas. Mereka merupakan perwakilan media yang berusaha menjadi bagian dari warga dunia. Tak abai untuk mematuhi dress code, di saat beraktivitas seperti mengabadikan sejumlah momen penting, mencegat para narasumber untuk wawancara.
Senang, dan bangga melihat para wartawati mengenakan kebaya encim dengan warna-warni bordir puspa, serta fauna kupu-kupu cantik. Agar leluasa bergerak karena harus berjalan cepat bahkan berlari mengejar narasumber, mereka memadankanya dengan kain atau sarung dengan bawahan longgar. Dipermanis dengan cara melilitkannya dengan penuh selera.
Lainnya terlihat stunning memadukan kebaya dengan celana jeans yang dimodifikasi dengan elemen wastra. “Keren!.
Tak kalah memukau penampilan para prianya. Mereka memilih kemeja batik bermotif kontemporer, butuh waktu sejenak untuk mengetahui motifnya. Ada juga yang memakai tenun maupun ikat.
Sebagian tampil menggunakan blazer, namun sayangnya mereka lebih bermain dengan warna aman yakni hitam.
Layaknya tamu undangan dari figur publik, para pewarta mengenakan wastra hanya sebagai aksentuasi busana, masih terhitung jari mereka yang total menjadikan wastra seperti tenun, ikat sebagai material busana.
Penggunaan wastra sebagai elemen pemanis dikenakan dengan cara diikat di pinggang, dijadikan syal maupun elemen penutup pinggang terinspirasi dari kain penutup pada busana teluk belanga masyarakat Melayu. Sebagai pernyataan gaya hadir bros berdesain etnik pada outer, dan blazer yang menjadi tren aksesoris pria.
Sungguh sangat menyenangkan melihat para pewarta banyak yang sadar fesyen. Para wartawan-wartawati mewakili media gaya hidup ternama tersebut DNA-nya lekat dengan penampilan selaras dress code.
Kembali ke peran panitia penyelenggara, kiranya aturan dress code tersebut bisa disempurnakan lewat acuan yang jelas, dengan memperhatikan unsur keamanan ketika melangkah. Dikarenakan masih ada momen FFI tahun depan 2026, yang mana kepengurusannya masih berada di bawah pengurus sekarang.
Akan lebih bijak bila Panitia Penyelenggara memberikan apresiasi kepada tamu undangan yang sadar dress code. Tak perlu mewah mengingat budget yang minim, lebih ke penghargaan atas upaya mereka dalam turut menyemarakkan, dan menyukseskan festival film yang paling bergengsi di Indonesia. (*)