Site icon Wanita Indonesia

Cahaya Kartini di Era Digital, Menenun Peran dan Inovasi ala Prof. Friska Natalia

Prof. Friska Natalia, Wakil Rektor Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Tangerang.

WANITAINDONESIA.CO – Tepat pada peringatan Hari Kartini tahun ini, narasi mengenai emansipasi tak lagi sekadar soal akses mengenyam pendidikan dasar. Di koridor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang modern di Gading Serpong, semangat perlawanan terhadap keterbatasan itu bermutasi menjadi penguasaan teknologi.

Bagi Prof. Friska Natalia, Wakil Rektor UMN, sosok Kartini masa kini adalah mereka yang mampu berdiri tegak di persimpangan antara domestik dan digital tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Era digital, dalam pandangan Prof. Friska, telah memberikan “kado” istimewa bagi kaum perempuan. Jika dahulu menjadi ibu rumah tangga sering kali dianggap sebagai titik henti produktivitas ekonomi, kini teknologi justru membuka ruang yang begitu luas.

Melalui ekosistem digital dan pertumbuhan UMKM berbasis daring, perempuan kini memiliki fleksibilitas untuk tetap hadir di tengah keluarga sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi informal. Di UMN sendiri, model kerja remote dan hybrid yang lahir dari industri kreatif digital menjadi bukti nyata bahwa peran domestik kini kian dimudahkan, bukan dihambat, oleh kemajuan zaman.

Namun, keterlibatan perempuan di UMN tidak berhenti pada pemanfaatan alat, melainkan sudah sampai pada tahap kepemimpinan intelektual. Prof. Friska melihat adanya pergeseran penting; mahasiswi dan alumni perempuan kini bukan lagi sekadar partisipan pasif. Mereka adalah kreator di balik film dan animasi yang melanglang buana ke festival internasional, serta inovator yang memenangkan kompetisi kreatif global. Hal ini selaras dengan catatan UNESCO mengenai meningkatnya peran perempuan dalam industri kreatif, membuktikan bahwa sentuhan intelektualitas perempuan Indonesia kini memiliki daya tawar tinggi di mata dunia.

Kendati demikian, Prof. Friska tidak menutup mata terhadap realitas bahwa perjuangan ini belum mencapai garis finis. Mengacu pada data BPS, ia mengakui bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih tertinggal dibanding laki-laki, dan kursi kepemimpinan pun masih jarang diduduki kaum hawa.

Di sinilah relevansi perjuangan Kartini menemukan bentuk barunya. Jika pada abad ke-19 fokus utamanya adalah membuka pintu sekolah, maka di era digital ini, perjuangannya adalah memastikan perempuan tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi menjadi aktor utama dan pemimpin dalam pembangunan ekonomi digital.

Guna menjawab tantangan tersebut, UMN terus berupaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia perempuan melalui kurikulum yang adaptif dan model pembelajaran berbasis proyek. Melalui akses ke jejaring internasional, kampus ini berupaya mencetak Kartini-Kartini masa depan yang menguasai keterampilan digital dan kepemimpinan, sesuai dengan standar World Economic Forum.

Bagi Prof. Friska, masa depan yang setara dapat dipercepat melalui program-program strategis seperti women in leadership dan women in tech. Pada akhirnya, Hari Kartini di tahun 2026 ini menjadi momentum untuk mengingatkan kembali bahwa fondasi yang diletakkan Kartini terus berevolusi.

Di tangan perempuan-perempuan yang melek teknologi, semangat itu kini berpendar di balik layar komputer dan inovasi digital, menciptakan perubahan nyata bagi bangsa. (Gdi)

Exit mobile version