Site icon Wanita Indonesia

Bunda, Intip Meja Makan Masa Depan, Beras Bisa Awet Dua Tahun

Teknologi penyimpanan beras bisa menjadi kunci ketahanan pangan. (WI/Gdi)

WANITAINDONESIA.CO – Pernah terbayang punya stok beras di rumah yang tetap pulen dan segar meski disimpan selama dua tahun? Atau menyajikan daging lezat untuk keluarga tanpa harus khawatir soal kolesterol dan isu lingkungan? Kabar baik ini datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kepala BRIN, Arif Satria, baru saja membocorkan peta jalan riset Indonesia untuk tahun 2026. Fokusnya sangat lekat dengan urusan domestik kita: ketahanan pangan dan keselamatan keluarga.

1. Revolusi Dapur: Beras Super & Daging ‘Ajaib’

BRIN menargetkan produktivitas padi kita melonjak drastis hingga 15 ton per hektare. Artinya, stok beras nasional akan lebih aman! Tak hanya itu, buat Bunda yang sering mengeluh harga bawang putih mahal karena impor, BRIN berjanji akan memangkas ketergantungan impor bawang putih hanya dalam dua tahun ke depan melalui varietas unggul.

Yang paling ikonik adalah konsep future food atau pangan masa depan yang meliputi: Daging Analog & Cultured Meat: Daging yang dikembangkan dengan teknologi tinggi, lebih sehat namun tetap lezat. Pengawetan hemat energi yang memungkinkan beras disimpan lebih dari 2 tahun tanpa menurunkan kualitasnya. Tidak ada lagi beras berkutu atau bau apek!

2. Proteksi Keluarga Saat Darurat

Sebagai sosok yang paling sigap menjaga keluarga, Bunda pasti tenang mendengar inovasi ini. BRIN tengah menyiapkan klaster riset khusus kebencanaan, seperti: Pangan Darurat yang dapat dipakai tatkala menghadapi situasi sulit, tentunya makanan tersebut harus tetap bergizi. Alat penjernih air portabel sehingga keluarga tetap mengonsumsi air bersih meski di wilayah terdampak bencana.

Kilas balik keberhasilan riset BRIN 2025

Sepanjang tahun 2025, BRIN ternyata sudah memanen banyak prestasi yang menjadi pondasi riset tahun depan. Beberapa hasil riset unggulan 2025 yang patut kita apresiasi antara lain:

Padi Gogo Resilien yang sukses dikembangkan pada panen raya. Menggunakan varietas padi yang tahan kekeringan ekstrem, solusi tepat menghadapi cuaca yang tidak menentu.

Suplemen anti-stunting berbasis lokal. Pengembangan pangan fungsional dari bahan pangan lokal yang terbukti efektif menekan angka stunting pada balita di berbagai daerah.

Deteksi dini gempa Berbasis AI. Sistem peringatan dini yang lebih akurat melalui sensor cerdas, memberikan waktu lebih banyak bagi keluarga untuk berevakuasi.

Arif Satria juga memaparkan visi jangka panjang yang terdengar seperti film fiksi ilmiah namun nyata: Tahun 2030 Indonesia akan fokus pada energi hijau, baterai generasi baru (bye-bye polusi!), dan kecerdasan buatan (AI) yang terintegrasi. Sedangkan di tahun 2050 anak cucu kita mungkin akan merasakan sistem otonom, ekonomi antariksa, hingga penyimpanan data berbasis DNA.

Teknologi Maju, Karakter Tetap Terjaga Meskipun bicara soal teknologi canggih, Arif Satria mengingatkan satu hal penting: Aspek sosial tidak boleh tertinggal. Ia tidak ingin terjadi cultural lag, di mana teknologi melesat tapi budaya dan empati manusia tertinggal di belakang.

“Teknologi harus maju, tetapi aspek sosial tidak boleh tertinggal. Tanpa itu, inovasi tidak akan berkelanjutan,” tutur Arif Satria.

Bunda, inovasi mana yang paling Anda nantikan? Apakah beras awet 2 tahun atau teknologi penjernih air portabel? Yuk, bagikan pendapat Bunda di kolom komentar! (Gdi)

Exit mobile version