Bukan Lagi Mewah, Kelas Menengah Kini Berjuang Lewat ‘Side Hustle’ dan Teknologi AI

Peluncuran Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 pada acara IDE Katadata Future Forum bertemakan "Adapting to What Comes Next" di Djakarta Theatre, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

WANITAINDONESIA.CO – Citra kelas menengah yang identik dengan gaya hidup mapan kini mulai bergeser menjadi perjuangan untuk beradaptasi. Laporan terbaru Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 mengungkapkan fenomena menarik di mana kelompok ini tak lagi bisa menggantungkan hidup hanya pada satu sumber penghasilan. Pekerjaan sampingan atau side hustle kini telah berubah fungsi menjadi “lapisan pengaman” wajib demi menjaga napas ekonomi keluarga.

Vice President Finance & Business Development Katadata, Ivan Triyogo Priambodo, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian memaksa kelas menengah untuk lebih kreatif. Menurutnya, memiliki satu pekerjaan saat ini tidak lagi memberikan rasa aman yang cukup bagi mereka.

“Bagi kelas menengah satu sumber pendapatan tidak lagi cukup untuk memberikan kepastian karena itu pekerjaan sampingan bukan sekedar tambahan melainkan sebuah lapisan pengaman,” ujar Ivan saat memaparkan temuan riset dalam gelaran IDE Katadata Future Forum 2026 di Djakarta Theatre, Jakarta, Rabu (15/04).

Baca Juga :  Teknologi Mudahkan Milenial Berinvestasi

Ivan menilai fenomena ini sebagai tanda bahwa masyarakat sedang membangun strategi hidup yang lebih tahan banting. Perubahan ini juga merambah ke perilaku belanja, di mana kelas menengah mulai meninggalkan kebiasaan berburu harga termurah dan beralih pada aspek nilai barang. Ia menambahkan bahwa pada saat yang sama pola konsumsi semakin bijak, karena keputusan belanja tidak semata-mata ditentukan harga yang paling murah, melainkan nilai yang diperoleh yang kini dianggap jauh lebih penting bagi mereka.

Kondisi ini diperparah dengan data yang dipaparkan oleh Co-founder & CEO Katadata Indonesia, Metta Dharmasaputra. Ia mengungkapkan fakta mengkhawatirkan mengenai penyusutan jumlah kelas menengah di Indonesia.

Berdasarkan data Susenas, proporsi kelas menengah yang pada 2019 masih berada di angka 21,5 persen, terus merosot hingga menyentuh 16,9 persen pada 2024. Sebaliknya, kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class) justru melonjak hingga 48,8 persen.

Baca Juga :  Inspirasi ShopeePay agar tetap Produktif

Metta menegaskan bahwa situasi ini tidak boleh dipandang sebelah mata karena kelompok ini adalah tulang punggung ekonomi nasional.

“Middle class merupakan kunci perubahan negara dan society,” kata Metta.

Ia juga mengingatkan bahwa peran mereka sangat krusial karena menyumbang 81,5 persen dari total konsumsi rumah tangga, yang menjadi motor utama pertumbuhan PDB Indonesia.

Metta berharap KIMCI di tahun keduanya ini bisa menjadi acuan bagi semua pihak untuk memahami peta lanskap kelas menengah yang tengah berada di persimpangan jalan.

Menariknya, riset KIMCI 2026 juga menangkap tren penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai senjata baru kelas menengah untuk bertahan. Teknologi ini dimanfaatkan secara luas untuk mendukung produktivitas, mempelajari keahlian baru, hingga menyelesaikan tugas-tugas profesional agar mereka tetap kompetitif di pasar kerja.

Baca Juga :  Kiat Hindari Kesalahan Pebisnis Pemula dalam Pengelolaan Keuangan Startup

Namun, upaya mandiri ini tetap memerlukan dukungan regulasi yang kuat. Research Analyst Katadata Insight Center, Kholis Dana P., menyatakan bahwa kebijakan publik memiliki peran sentral dalam mengendalikan biaya hidup dan menjaga daya beli kelompok ini.

Kholis menekankan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah harus mampu memastikan mereka tetap tumbuh. Menurutnya, kelas menengah bukan hanya tentang perlindungan, tetapi tentang bagaimana memastikan mereka tetap berkontribusi secara berkelanjutan terhadap negara.

Laporan lengkap mengenai potret mendalam perilaku konsumsi hingga sentimen ekonomi kelas menengah ini sudah dapat diunduh melalui tautan resmi di laman Databoks Katadata, sebagai panduan memahami tantangan ekonomi di masa depan. (gdi)