
WANITAINDONESIA.CO – Popularitas bubur Ayam Indonesia tak tertandingi oleh kuliner serupa dari 9 negara versi TasteAtlas.
Bubur Ayam Indonesia masuk daftar 100 Bubur Terbaik Dunia, dan terpilih nomor satu dari 10 hidangan berbasis sereal terlezat dunia.
Kabar baik ini kian mengukuhkan posisi Indonesia sebagai negara yang memiliki varian kuliner terbanyak di dunia, beragam, kaya sejarah, serta filosofi.
Dari 10 kuliner versi TasteAtlas, Bubur Ayam Indonesia mendapat tempat terhormat, dengan skors tertinggi di posisi pertama. “Wow keren!.
- Bubur Ayam Indonesia, Skors 4,4
- Arroz Caldo Filipina, 4,3
- Elarji Georgia, 4,3
- Taci si inghite Rumania, 4,3
- Banosh Ukraina, 4,2
- Che Ba Mau Vietnam, 4,2
- Shrimp and Grits Amerika, 4,1
- Lugaw Filipina, 4,1
- Bissara Mesir, 4,1
- Polenta Italia, 4,1
Bubur Ayam Indonesia dinilai unggul dari karekteristik tekstur yang lembut, memiliki beragam toping, dan cita rasanya gurih lezat.
Awalnya sajian yang kerap dijadikan menu sarapan masyarakat terutama rumah tangga, dan karyawan merupakan bagian dari street food. Dijajakan menggunakan gerobak berkeliling atau menetap di pedestarian.
Karena pamornya yang lezat, dan sangat digemari oleh Sous Chef Hotel Indonesia, Bambang Sugeng hadir inspirasi untuk menyajikan bubur sebagai makanan selesai clubbing. Itu terjadi di tahun 60 -an.
Lapar tengah malam di saat tak ada makanan utama, Sous Chef kreatif tersebut menawarkan sajian alternatif ringan tapi cukup mengenyangkan. Kreasi bubur Sous Chef Bambang Sugeng langsung menjadi buah bibir para Clubber, dan ekspatriat di Club yang berada di Hotel Indonesia.
1001 Kreasi Bubur Indonesia

Di awal mewujudkan ide, Chef Bambang Sugeng menghadapi tantangan ihwal presentasi. Bubur HI tentu harus lebih unggul dari rasa, presentasi para pedagang kakilima. Tapi tak meninggalkan akar rumput sebagai sajian
lokal. Kuncinya dia meracik bubur, kaldu dengan bumbu rahasia, serta memberi toping berlimpah menggunakan bahan berkualitas.
Sous Chef Bambang Sugeng lalu meng up-grade kuliner para pendatang Tiongkok menjadi street food yang layak disajikan di resto hotel.
Upaya Chef menuai sukses. Racikan beras yang dimasak sampai lembut bewarna putih menjadi primadona.
Terlebih kuah kuning yang merupakan kuah bubur, bercita rasa gurih rempah. Ditambah aneka toping seperti ayam suwir, kacang kedelai goreng, cakue iris, tongcai (asinan lobak kering), daun bawang, bawang goreng, kerupuk, serta sambal yang dimasak. “Hmmm lezat.
Bubur Ayam HI kian sempurna dengan lauk pelengkap aneka olahan bacem telur puyuh, paru goreng, empal, ati-ampela, usus yang ditusuk menggunakan lidi.
“Wah, bisa dimaklumi jika lidah sulit untuk melupakannya.
Di deretan kuliner kakilima, pamor Bubur Ayam Barito tak terbantahkan. Dahulu lokasinya terletak di trotoar Pasar Burung, dan Bunga Barito. Setelah di relokasi rencananya di dekat Pasar Blok A, Kebayoran Baru.
Seporsi Bubur Ayam Barito lekat dengan kreativitas pada toping. Semangkuk bubur panas mengepul diberi kuning telur mentah, serta toping lainnya. Selain kuning telur, Bubur Ayam Barito menggunakan cheese stick (kue keju) sebagai pengganti kerupuk. Kreatif.
Sebelum disantap, pengunjung harus mengaduk rata toping terutama kuning telur agar cita rasa bubur terasa lezat.
Karena rasa, bubur yang awalnya hanya tersaji sebagai menu sarapan untuk masyarakat jelata, karena kelezatannya dijadikan menu makan siang hingga tengah malam untuk semua kalangan.
Fungsinya pun beragam, dijadikan sajian menu untuk orang yang sedang sakit, atau tengah menjalankan recovery. Sebagian menjadikan bubur sebagai menu Klangenan.
Selain Bubur Ayam, sebagian besar daerah Nusantara memiliki khasanah kuliner bubur berbasis kearifan lokal. Tinutuan, buburnya masyarakat Manado lekat dengan campuran sayuran diantaranya labu kuning, jagung pipil, bayam, kangkung, kemangi dengan aroma khas dari daun gedi yang kerap disebut daun pepaya Jepang. Daun Gedi mengandung beragam manfaat untuk kesehatan, salah satunya kaya antioksidan.
Pelengkap Bubur Tinutuan berupa Cakalang fufu atau tuna asap, perkedel jagung, dan sambal.

Exotic Food from West Borneo
Tak kalah unik masyarakat Sambas, Kalimantan Barat. Mereka membuat Bubor Paddas yang terbuat dari adonan beras, dicampur dengan 21 sayuran hutan, serta bumbu dan rempah. Warnanya cokelat kehitaman serta tekstur bubur, sungguh bagi yang pertama kali mengenal sangat tak elok dipandang.
Pengalaman tersebut dialami Wanitaindonesia.co manakala disajikan Bubor Paddas dari resep asli suku Sambas. Sedikit ragu untuk menyantapnya, kemudian tergoda dengan aroma harum rempah. Ditambah dengan keingintahuan seorang jurnalis, rasa enggan tersebut berhasil disingkirkan.
Hanya satu suapan pertama berlanjut ke suapan berikut, tanpa jeda terus-menerus. Tekstur bubur yang kental, kasar, bewarna cokelat kehitaman
dalam waktu sekejap licin tandas. “Tambah lagi?, sudah pasti.
“Rasanya? “Hmmm lezat. Lekat dengan aroma rempah, serta aneka sayuran segar yang sebagian dipetik di hutan. Khasnya berupa pakis, dan daun kesum. Bagi awam, daun kesum memiliki nama lain ketumbar vietnam.
Dikenali lewat aroma harum tajam yang dijabarkan sebagai paduan dari aroma jeruk lemon dengan daun ketumbar. Daunnya lebih ramping dari daun kemangi atau basil, serta memiliki warna hijau dengan bercak merah.
Soal khasiat untuk kesehatan, manfaatnya sangat banyak diantaranya sebagai Antioksidan, Antibakteri, Antivirus.
Cita rasa bubur diperkaya oleh penggunaan kelapa parut yang disangrai. Diperlezat dengan tulang sapi yang masih memiliki banyak daging. Toping berupa ikan teri besar, kacang tanah goreng, daun bawang, seledri, bawang goreng, kecap manis, sambal cair, cuka, dan lemon cui asam segar.
Warna cokelat bubur dihasilkan dari beras sangrai, kemudian ditumbuk setengah halus. Tradisi memasak Bubor Paddas dilakukan oleh kaum wanita di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Kuliner populer masyarakat Melayu Kalbar memiliki kompleksitas rasa. Sebagian menjuluki sebagai Exotic Food from West Borneo.
Masyarakat Indonesia khususnya yang beragam Islam mengenal bubur gurih, dan bubur manis sebagai sajian favorit buka puasa Ramadan.

Bubur spesial Ramadan dimasak dalam porsi besar, hingga ribuan porsi, kemudian dibagikan secara gratis. Pembaca Wanitaindonesia.co pasti pernah mendengar bahkan mencicipi Bubur Suro Sunan Bonang (Tuban), Bubur Samin/Bubur Banjar (Solo), dan Bubur Sabilal (Banjarmasin), serta masih banyak lagi varian bubur lainnnya.
Tak hanya menawarkan rasa gurih lezat, masyarakat kita juga familiar dengan Bubur bercita rasa manis. Populer dijadikan menu berbuka atau pada acara selamatan seperti kelahiran, kenaikan kelas atau kenaikan jabatan.
Varian bubur manis terdiri dari Bubur Madura, yang memadukan racikan dari beragam jenis bahan seperti bubur sumsum, ketan hitam, candil, cenil, mutiara yang dituang kuah santan, dan kinca. Varian bubur manis lainnya Jenang Grendul atau Candil dari Jawa Tengah, Bubur Kampiun Padang, dan Bubur Bassang Makassar yang diracik dari jagung yang telah dihilangkan kulit luar berwarna kuning. Bubur Bassang dimasak bersama santan, gula pasir, dan garam.
Tak cukup hanya lewat street food, serta bubur tradisi dari kearifan lokal, para Creator memperkaya khasanah kuliner bubur dengan meng-up-grade penyajiannya.
Hadir varian kekinian yang dulunya sempat hip seperti Bubur Kari. Khas berupa kuah kari dengan toping daging atau ikan bahkan jengkol. Tak kalah menggoda Bubur Tomyam yang lekat dengan kaldu, serta toping dari sup populer Negeri Seribu Kuil.
Ihwal kuliner bubur saja sudah sangat beragam varian, belum lagi terhitung jumlahnya. Kesemuanya menawarkan sensasi aroma sedap, cita rasa lezat, serta keunikan dari pengunaan bahan, cerita yang melatarbelakangi bubur tersebut dibuat. (*)




