Site icon Wanita Indonesia

BRIN dan UGM Riset Alat Kikis Ketergantungan Impor Bawang Putih

Bawang putih sahabat ibu rumah tangga dalam mengolah makanan sehat, sayangnya Indonesia masih bergantung kepada impor. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Bumbu dapur yang satu ini hampir tak pernah absen dari masakan sehari-hari. Aroma wangi bawang putih yang menyeruak di atas penggorengan selalu sukses membangkitkan selera makan keluarga. Namun, di balik kelezatan dan manfaatnya yang melimpah, ada perjuangan besar para peneliti tanah air yang sedang berlangsung demi memastikan ketersediaan bahan pangan ini tetap terjaga mutu serta ketersediaannya di pasaran.

Langkah strategis kini tengah diayunkan oleh Pusat Riset Hortikultura Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang bergandengan tangan dengan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Melalui Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS), kedua lembaga ini berkolaborasi mengembangkan teknologi produksi benih bawang putih yang sehat dan bermutu tinggi. Misi utamanya amat krusial, yakni membebaskan tanaman bawang putih dari ancaman penyakit yang selama ini tersembunyi.

Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN sekaligus Penanggung Jawab PRIS Bawang Putih, Dwinita Wikan Utami, mengungkapkan bahwa ketersediaan bahan tanam yang sehat menjadi kunci utama keberlanjutan sektor ini.

“Kita memerlukan teknologi eliminasi virus yang efektif, mudah diterapkan, dan terjangkau sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh produsen benih maupun petani untuk menjaga mutu bahan tanam,” tegas Dwinita.

Fokus utama riset ini menyasar pada upaya penghilangan virus yang terbawa sejak fase bahan tanam. Para peneliti tidak hanya merancang metode dan alat purwarupa (prototipe) pembersih virus skala laboratorium, tetapi juga menguji sejauh mana perlakuan tersebut mampu mendongkrak pertumbuhan serta produktivitas tanaman di lahan pertanian. Jika teknologi ini sukses diterapkan, ketergantungan Indonesia terhadap pasokan impor perlahan dapat dikikis.

Ancaman virus pada bawang putih ternyata bukan sekadar kekhawatiran tanpa alasan. Pakar Virologi (ilmu yang mempelajari tentang virus) Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM, Sedyo Hartono, membeberkan fakta mengejutkan dari pengujian sampel yang dilakukan di berbagai sentra penghasil bawang putih, mulai dari Enrekang, Magelang, Temanggung, Tawangmangu, hingga Yogyakarta.

“Hasil pengujian mendeteksi ganda Onion yellow dwarf virus (virus kerdil kuning bawang) dan Shallot latent virus (virus tersembunyi bawang merah) pada sekitar 80 persen sampel, baik berupa umbi benih, umbi konsumsi, maupun daun,” jelas Sedyo.

Menariknya, serangan virus ini kerap menjadi “musuh dalam selimut” bagi para petani. Sedyo menambahkan bahwa gejala infeksi tidak selalu terlihat jelas secara kasat mata di area persawahan karena dampaknya sering kali tertutupi oleh serangan penyakit lain, terutama jamur. Melalui riset lanjutan berdurasi dua tahun ini, tim peneliti akan mengukur sejauh mana penurunan kadar virus dapat meningkatkan ketahanan serta produktivitas hasil panen.

Tak berhenti pada penanganan virus, program kolaborasi ini juga memasang target besar lainnya. Peneliti berupaya melahirkan varietas bawang putih berumbi besar dari tipe softneck (leher lunak) dan hardneck (leher keras), serta varietas yang tangguh ditanam di wilayah dataran menengah. Inovasi ini digabungkan dengan teknologi pematahan masa istirahat benih (dormansi), penyusunan basis data keanekaragaman hayati (plasma nutfah), hingga penyusunan standar operasional produksi benih.

Seluruh paket inovasi ini nantinya siap diuji coba secara nyata untuk mendukung kawasan percontohan nasional, termasuk di Kawasan Swasembada Pangan, Air, dan Energi (KSPAE) Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Keberhasilan riset ini tentu membawa angin segar bagi masa depan ketahanan pangan nasional. Ketika sains dan inovasi menyatu di ladang-ladang petani, impian untuk menikmati bawang putih lokal berkualitas tinggi yang melimpah di dapur kita bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan yang kian dekat. (Gdi)

Exit mobile version