Bila Ekosistem Mode Indonesia -Prancis Bicara Kedigdayaan Fesyen Masa Kini & Masa Depan

Duta Besar Prancis untuk Indonesia,Timor Leste & ASEAN, Y.M. Fabien Penone berharap lewat kerja sama bilateral di sektor industri kreatif, dan fesyen khususnya lewat Program PINTU, mampu memperluas jangkauan pasar global bagi para desainer, pelaku UMKM Prancis, dan Indonesia. Foto: Wanitaindonesia.co

WANITAINDONESIA.CO – Apa yang mendasari kebersamaan ekosistem fesyen Indonesia dan Prancis di bidang mode?

Selain bicara tren, inovasi, kreativitas, kearifan budaya, perubahan model bisnis, dan ekonomi, masyarakat kedua negara dituntut untuk memiliki kepekaan dengan apa yang sedang terjadi. Di tengah upaya dunia dalam berjibaku menyelamatkan bumi dari paparan limbah produksi serta limbah fesyen berbahaya bagi kehidupan, hadir asa dari ekosistem fesyen mode Prancis-Indonesia yang berpegang kepada keahlian pengrajin, inovasi, pendidikan, dan. keberlanjutan.

Ini tentang keberlanjutan yang menyoal beragam aspek kehidupan, yang menjadi tanggung jawab semua pihak. Untuk itulah kedua bangsa besar ini dipersatukan lewat visi-misi yang selaras.

Sudah tentu hal ini menjadi pembahasan yang seksi dalam Indonesian-French Seminar “Fashion and Craftsmanship Rethinking the Fashion of Tomorrow yang diselenggarakan di IFI Juli lalu.

Seminar dibagi menjadi dua sesi yakni sesi pertama “Slow Fashion vs Fast Fashion: Can Craftsmanship Win?
Tampil sebagai pembicara Theresia Mareta, Founder LAKON Indonesia, Co-initiator PINTU Incubator, Darja Richter Windhoff, Head of Design & Co-Director ENAMOMA-PSL,
Desainer Cina yang berkarir di Paris, Fengyuan Dai, Peserta Program Residensi dari Indonesia, Gabriel Marcella Budiono, dan dari Paris Mickael Nana.

Seminar menyorot pentingnya pelestarian pengetahuan bagi industri, pemanfaatan material lokal serta warisan budaya sebagai kekuatan utama di industri fesyen.

Seminar kedua membahas “Textile Innovation: Building a More Responsible Fashion Industry menghadirkan para pembicara Pascaline Wilhelm dari ENAMOMA-PSL, Mathieu Buard, Ecole Duperre, Paris, Alia Sarastita dari The New Factory, dan Prof.Mohamad Widodo, mewakili Politeknik STTT Bandung.

Seminar menjadi ruang yang hidup, menginspirasi, karena dipandu oleh moderator Dino Augusto, yang dikenal oleh fashion enthusiast sebagai Dosen Fashyun.

Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste & ASEAN, Y.M. Fabien Penone berkenan membuka seminar. Ia membahas pentingnya penguatan kerja sama bilateral di sektor industri kreatif, dan fesyen. Program PINTU menjadi pendobrak dari kolaborasi ini. Sebagai inkubator mode, PINTU menjadi aliansi strategis lintas budaya yang menghubungkan ekosistem mode Prancis, dan Indonesia. Mampu membangun kemitraan jangka panjang antara pelaku mode kedua negara.

Fabien berharap kolaborasi epik ini mampu memperluas jangkauan pasar global, bagi para desainer, pelaku UMKM Prancis, dan Indonesia. Selain dapat memiliki andil dalam mendukung pertukaran pengetahuan, residensi kreatif serta pengembangan kapasitas talenta muda, agar mumpuni bersaing di kancah global.

Seminar dihadirkan dengan sangat menarik, hidup dengan membahas perkembangan inovasi tekstil, desain sirkular, pendidikan hingga teknologi produksi yang merupakan faktor penting, dalam membangun industri fesyen yang lebih tangguh serta bertanggung jawab.

Bicara industri, tentunya bukan hanya sekedar soal tren, melainkan urgensi ihwal proses pembuatan dari hilir ke hulu. Bagaimana proses awalnya, siapa produsennya, para pekerja, bahan baku serta cara mendapatkannya serta dampaknya buat konsumen juga lingkungan.

Baca Juga :  Dorong UMKM Mendunia: Shopee Indonesia Sukses Ekspor 10 Juta Produk Lokal di Awal 2025

Hal ini menjadi pembahasan krusial Indonesia, dan Prancis di seminar “Fashion and Craftsmanship”: Rethinking the Fashion Tomorrow yang diselenggarakan di IFI Jakarta.

Seminar menjadi bagian tak terpisahkan dari PINTU Focus Week 2026, dan Tahun Inovasi Indonesia – Prancis 2026. Program merupakan kolaborasi antara Kedutaan Besar Prancis melalui IFI, LAKON Indonesia, dan JF3.

Atas peran PINTU Incubator seminar mempertemukan serta menyatukan visi desainer, pengrajin, peneliti, pendidik, para pelaku industri kreatif dari kedua negara.

Benang merah dari seminar ini adalah bagaimana industri fesyen dapat berkembang dengan tetap berfokus pada keahlian pengrajin, inovasi, pendidikan, dan keberlanjutan. Mereka bersepakat bahwa perubahan di industri membutuhkan lebih dari sekedar kreativitas, juga memerlukan pengetahuan, dan ekosistem yang turut mendukung talenta berkembang.

Theresia Mareta, Founder LAKON Indonesia, Co-Initiator PINTU Incubator, Semangat menjadi salah satu pilar keberadaan PINTU, lewat kiprah berkelanjutan PINTU telah berhasil membawa kekuatan, dan perspektif berbeda Indonesia -Prancis. Menciptakan ruang bagi desainer untuk belajar, bertukar ide serta gagasan juga melihat cara kerja di konteks perbatasan. Foto: Wanitaindonesia.co

Era Industri Fesyen Global lewat PINTU Incubator

Founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta menjelaskan, “Industri fesyen itu dinamis, dan saya amati telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan pasar, kemajuan teknologi yang kemudian turut memengaruhi cara pandang masyarakat melihat, dan mengapreasi produk fesyen.”

“Tapi ada satu hal yang pasti, untuk menciptakan industri fesyen yang kuat tak hanya dilakukan lewat kreativitas, ada banyak aspek yang ikut memengaruhinya sebutlah pengetahuan, kesejahteraan, pengertian bisnis, dan ekosistem yang akan mendukung talenta dapat tumbuh, dan berkembang.”

“Semangat ini menjadi salah satu pilar hadirnya PINTU Incubator. Program PINTU menggabungkan antara kekuatan dengan perspektif Indonesia bersama Prancis, guna membuka PINTU bagi desainer kedua negara untuk belajar sembari bertukar ide, “ucap Thres.

“Selama lebih dari empat tahun berkiprah, PINTU telah berhasil membawa kekuatan, dan perspektif yang berbeda dari kedua negara, menciptakan ruang bagi desainer belajar, bertukar ide serta gagasan juga melihat cara kerja mereka di konteks perbatasan.”

“Kolaborasi kedua negara telah membuka peluang bagi para desainer, para mentor, institusi, mitra untuk berbagi pengetahuan, sembari menciptakan karya serta gagasan bersama, “ungkap Thres.

Buah manis dari kehadiran PINTU Incubator kian masifnya kolaborasi yang tumbuh secara alami. Ekosistem PINTU tak hanya bertemu untuk berbagi pengetahuan, ada momen mereka mulai menciptakan sesuatu dalam kebersamaan.

“Ini nyata, program PINTU telah berkembang menjadi lebih dari sekedar kegiatan, hal ini merupakan sesuatu yang tak ternilai, karena mampu melanjutkan legacy hubungan diplomatik dua negara besar di dunia mode. Lewat pertukaran serta pengembangan ide-ide baru, membuka peluang kerja sama, serta asa baru dari industri kreatif, “jelas Thres.

Seminar semakin berbobot manakala Penulis Buku “Ode to Indonesian Culture” menyoal kekuatan budaya serta keahlian tradisional. Tak diragukan Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat banyak, beragam, indah yang semakin bernilai karena terkandung unsur pengetahuan serta beragam hal menarik lainnya

Baca Juga :  Fesyen Bergaya Santai Elegan

“Warisan ini sebagian abadi diturunkan dari generasi ke generasi. Namun peer-nya warisan tersebut harus relevan dengan perkembangan zaman. Butuh upaya lebih untuk mengembangkannya.”

Menurut role model Wanita Indonesia lewat beragam upaya kreatifnya, dalam menghadirkan JF3 menjadi sebuah platform terbaik di Indonesia, melestarikan warisan tak hanya sekedar mempertahankan masa lalu, penting untuk memastikan nilai di dalamnya tetap hidup, dan berkembang.

Thres melanjutkan, “Gagasan yang selaras dengan tema JF3 Fashion Festival 2026 “Recreated: Shaping the Future yang memiliki arti untuk membangun masa depan bukan dengan meninggalkan apa yang sudah diwariskan serta dimiliki melainkan menemukan cara-cara baru untuk melestarikan nilai-nilai dari warisan tersebut. Butuh pemahaman tentang apa yang kita miliki, pemikiran soal nilainya juga menemukan cara-cara baru untuk meneruskannya.”

Tak kalah penting ihwal keberlanjutan yang menjadi tema diskusi panel pertama. Sesi yang mengagungkan keahlian kerajinan tradisional dapat menginspirasi untuk fesyen modern, yang mengutamakan proses produksi yang bertanggung-jawab.

Ki-ka: Moderator diskusi Dino Augusto, Founder LAKON Indonesia & Co-Intiator PINTU Incubator, Theresia Mareta, Head of Design & Co-Director ENAMOMA-PSL, Darja Richter Windhoff, Desainer Cina Fengyuan Dai, Peserta Program Residen dari Paris, Mickael Nana, dan Peserta Program Residen dari Indonesia, Gabriel Marcella Budiono, keseluruh pembicara sesi pertama bersepakat bahwa industri fesyen dapat berkembang, dengan berfokus pada keahlian pengrajin, inovasi, pendidikan, dan keberlanjutan. Perubahan di industri membutuhkan lebih dari sekedar kreativitas, juga butuh pengetahuan, dan ekosistem yang turut mendukung talenta untuk berkembang. Foto: Wanitaindonesia.co

Kolaborasi Global Tak Melupakan Akar Rumput

Turut berbagi pendapat Head of Design & Co-Director ENAMOMA-PSL , Darja Richter Widhoff, Ia melihat transformasi menuju ke industri fesyen berkelanjutan, membutuhkan perak aktif seluruh ekosistem seperti institusi pendidikan, industri, peneliti, dan desainer guna menciptakan solusi yang mampu menjawab, tantangan industri fesyen di masa depan.

“Kesadaran terhadap fesyen berkelanjutan kian menguat, dan berkembang oleh beberapa peristiwa global seperti pada saat Covid-19 lalu. Sejak saat itu, masyarakat mulai mengkritisi, mempertanyakan dari mana bahan baku yang digunakan, proses proses produksi hingga orang yang terlibat dalam pembuatan pakaian yang mereka gunakan.”

Darja juga menyorot konsep scale-up dalam industri berbasis kerajinan, yang tidak selalu berarti meningkatkan jumlah produksi. Sebaliknya, justru untuk meningkatkan kapasitas, dapat dilakukan melalui penguatan kualitas produk, keterampilan pengrajin hingga menjaga konsistensi standar produksi, sehingga akan menghasilkan nilai tambah yang semakin tinggi.

Ia menekankan pentingnya adaptasi pada pendidikan fesyen dengan perkembangan industri. Kurikulum tak lagi berfokus pada kemampuan untuk mendesain pakaian, melainkan penting untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai material, inovasi tekstil, keberlanjutan serta model bisnis, agar dapat bersaing di skala global.

Seminar kian menarik manakala sosok desainer inspiratif Fengyuan Dai berbagi pengalaman ihwal fesyen, dan saat memulai berkarir di Paris. Pendiri label 30%70 mengulas bagaimana fesyen dapat menjadi sebuah ruang yang sangat dinamis, untuk menemukan serta merayakan identitas personal yang terus berkembang.

Baca Juga :  Kolaborasi Eksklusif Penanda Sejarah Ekosistem Fesyen & Beauty Indonesia

“Dimulai dengan evolusi identitas, yang dimaknai bahwa identitas seseorang, tidak pernah akan statis, melainkan terus bertumbuh, beradaptasi, dan lewat interaksi budaya
seiring waktu serta perjalanan hidup individu, “terang desainer asal Cina yang berkarir di Paris.

Hal ini telah dibuktikannya saat pertama berkarir, dengan bergabung di rumah mode ternama Jean Paul Gaultier, hingga akhirnya berkembang secara mandiri dengan membangun labelnya sendiri. Ia merasa fesyen dapat dieksplorasi sebagai medium komunikasi lintas budaya yang berkelanjutan.

Lewat label miliknya 30%70, Fengyuan menyorot pentingnya menciptakan keseimbangan dalam desain genderless, yang mempertemukan elemen Timur dengan Barat. Tradisi dengan modernitas serta kriya berbasis craftsmanship dengan inovasi.

Pikat “Garuda” karya kolaborasi desainer Prancis, Mickael Nana dengan desainer Indonesia, Beatrice Angelica peserta program PINTU Residensi menampilkan interpretasi simbol negara yang jauh dari kesan harfiah, eksplorasi tradisi tenun, dan songket Lombok kian bernilai lewat teknik penjahitan barat era 1970-1980. Hasilnya “wow” struktur busana arsitektural kontemporer. Foto: Wanitaindonesia.co

Pencerahan Program Residensi

Tak kalah menarik pemaparan desainer muda Indonesia, Gabriel Marcella Budiono yang merupakan peserta program Residensi.

Dia berbicara mengenai pengalaman kolaborasi lintas budaya serta pentingnya memadukan kreativitas mode Prancis, dengan kekayaan wastra berbasis seni kerajinan tangan.

Gabriel bersama desainer Prancis, Lisa Rayar berupaya menyatukan perbedaan pandangan mode, dan latar belakang budaya guna menghasilkan karya yang otentik, tanpa menghilangkan identitas masing-masing negara.

Ia terinspirasi untuk mengangkat batik Mojokerto yang lekat dengan motif laut serta keberagaman ekosistemnya ke dalam ranah mode kontemporer. Tujuannya agar desainnya tersebut tetap relevan dengan zaman serta pasar global.

Menurut Gabriel kesuksesan dari kolaborasi lintas negara, harus diawali lewat proses dialog seputar pembuatan, teknik jahitan serta penghargaan terhadap karya lokal. Kesemuanya ini akan memancarkan aspek estetika.

Sementara peserta program Residensi dari Paris, Mickael Nana mengeksplorasi warisan tekstil tradisi tenun, dan songket Lombok ke dalam koleksi Garuda. Ia mengedepankan teknik penjahitan Barat era 1970-1980, untuk menciptakan struktur busana arsitektural kontemporer.

Bersama desainer Indonesia, peserta program Residen, dan pemilik label NOEN, Beatrice Angelica, Nana menceritakan perjalanan mereka ke pengrajin wastra di Lombok.

“Tinggal sementara untuk belajar beragam aspek produksi seperti belajar memilih benang, penggunaan pewarna alami, dan teknik pembuatan tenun tangan.”

Selama berada di sana, Nana mengaku mendapatkan banyak insight menarik, ihwal pengayaan pengetahuan seputar produk seni budaya Indonesia, khususnya seni tenun, dan songket Lombok, sembari menyelami denyut kehidupan para pengrajin.

Semua pembicara bersepakat bagaimana industri fesyen dapat berkembang, dengan tetap berfokus pada keahlian pengrajin, inovasi, pendidikan, dan keberlanjutan. Perubahan industri membutuhkan lebih dari sekedar kreativitas, juga butuh pengetahuan, dan ekosistem yang turut mendukung talenta untuk berkembang.

Penting untuk dipahami bahwa inovasi tak hanya bertumpu pada pemanfaatan teknologi baru, melainkan juga pada aspek pengembangan material, desain sirkular, metode produksi yang lebih efisien, hingga penguatan riset di bidang tekstil. (*)