WANITAINDONESIA.CO – Perjalanan karier Amel Sannie menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi dan semangat belajar tanpa henti dapat membuka jalan ke ruang-ruang pengambilan kebijakan. Sosok yang dikenal sebagai None Jakarta Pusat 2019 ini kini dipercaya menjadi Tenaga Ahli Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta.
Amel memulai langkahnya dari dunia Public Relations. “Aku memang punya keinginan untuk aktif selain akademik. Jadi akademiknya aku juga sebenarnya pengen balance. Inisiatif lah ikut Duta Kampus waktu itu, Mister-Miss LSPR namanya,” kisahnya kepada WanitaIndonesia.co
Jejaring yang terbuka dari sana membawanya ke ajang Abang None Jakarta. “Kemudian dari situ networknya juga kebuka nih. Akhirnya di-approach juga untuk ikut Abang None. Akhirnya kita ikut, terus setahun menjabat. Aku tahun Abang None-nya itu 2019,” ujarnya.

Pandemi membuat masa jabatannya menjadi yang terpanjang. “Angkatan kami 2019 itu angkatan yang paling lama menjabat tiga tahun, karena setelah itu dunia pageant nggak ada yang kompetisikan. Karena semua sektor mati,” papar lulusan London School of Public Relations (LSPR) ini.
Dari pengalaman itu, Amel belajar pentingnya jaringan. “Aku jadi makin sadar kalua ternyata mungkin bisa dibilang privilege atau sesuatu yang nggak bisa dibeli pakai uang, aku dapat di situ, yaitu networking. Dari networking itu ketemu banyak orang dan menjaga hubungan sama orang-orang yang menurutku bisa berdampak luas dan positif itu sangat meaningful banget di aku,” pemilik nama lengkap Amelia Wisda Sannie, menuturkan.
Semangat itu menuntunnya menjadi pengajar public speaking. “Day by day terjawab nih, ternyata passion-ku di public speaking. Karena waktu kuliah juga udah seneng jadi pembawa acara MC-MC kan. Nah berangkat dari situ aku memberanikan diri untuk menjadi seorang trainer public speaking,” Amel menjelaskan.
Ia membuka kelas, bekerja sama dengan berbagai lembaga, hingga akhirnya dipercaya menjadi Juru Bicara muda dalam Pilgub Jakarta. “Beliau menawarkan langsung, apakah Amel mau kita approach untuk menjadi salah satu jurubicara pas pemilihan gubernur kemarin di Jakarta, spesifik paslon 03, which is itu Mas Pramono. Yang pertama kali terpikir di benakku adalah, ‘Bang tapi saya bukan kader politik. Apakah nggak salah nih penawarannya? Oh enggak, kita memang sudah background check’. Ternyata aku udah diprofiling dan kenapa mereka merujuk ke aku karena mereka cari perempuan, muda, Jakarta, dan itu sesuai banget sama backgroundku. Aku di Abang None, dan aku memang asli Jakarta. Bapakku Betawi,” Amel mengisahkan.
Sebagai juru bicara muda, Amel fokus pada isu pemuda, perempuan, dan budaya. “Ternyata terjun sebagai MC atau public speaker beda banget dengan jadi juru bicara. Atmosfernya beda. Kita terjun langsung ke masyarakat untuk mensosialisasikan program-program pasangan calon. Itu pengalaman yang nggak bisa dibeli, dan aku sangat bersyukur banget,” perempuan berusia 29 tahun ini, membeberkan.
Setelah masa kampanye berakhir, Amel kembali dipercaya untuk melanjutkan kinerjanya yang inilai maksimal dan berpengaruh. “Aku dikontak kembali untuk ditanya apakah bersedia membantu kembali. Aku berpikir, aku anak baru, bukan background politik. Tapi mungkin positif thinking-nya, apa yang aku kerjakan kemarin mungkin membantu,” Amel menjabarkan.
Kini, ia bertugas di bawah koordinasi tujuh bidang strategis pemerintahan. “Aku punya pengalaman yang menurutku challenging dan cukup bikin deg-degan, demo kemarin. Menurutku itu krisis pertamaku di ranah profesional. Disitu aku belajar bagaimana seorang pemegang kebijakan mengambil keputusan dan bagaimana kita harus mengambil langkah yang tepat,” tambahnya lagi.
Walau sibuk dengan tanggung jawab barunya, Amel tetap berkomitmen mempertahankan kecintaannya di dunia pelatihan public speaking. “Kadang harus reschedule atau alihkan ke anak didikku. Dari situ muncul ide, berarti kalaupun bukan aku yang MC, aku akan alihkan ke talent management-ku, jadi aku alihkan ke anak-anakku. Dari situ ternyata klien juga puas, jadi aku bisa bantu anak-anakku juga tampil,” kata dia.
Tentang prioritas, ia berusaha membaginya dalam skala profesional. “Kalau ada agenda dari Pak Gub, itu yang harus lebih prioritas. Tapi aku gak pingin ngelepas passion-ku di public speaking. Kalau Sabtu Minggu
kosong, aku akan hajar, aku iyain klien yang masuk,” Amel mengatakan.
Mengenai tujuan ke depan, Amel masih ingin terus mengajar. “Aku punya goals untuk bisa ngajar lagi di daerah-daerah lain. Aku pernah ngajar sampai ke Nabire, Papua, dan aku berharap bisa terus berbagi ilmu di luar zona biasaku,” Amel mengakhiri perbincangan. (GIE)





