Site icon Wanita Indonesia

Belajar Dari Freeport Gandeng Kearifan Lokal Demi Pelestarian Alam Papua

Diskusi bertajuk 'Menjaga Ekosistem Papua Melalui Pelestarian Keanekaragaman Hayati' yang diselenggarakan Katadata SAFE 2026. Katadata

WANITAINDONESIA.CO — Di balik megahnya Pegunungan Jayawijaya yang membelah Bumi Cenderawasih, terhampar bentang alam yang penuh tantangan sekaligus kekayaan hayati yang tiada tara. Wilayah kerja PT Freeport Indonesia di Timika, Papua, mencakup 14 tipe ekosistem yang terbentang ekstrem dari ketinggian 0 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga 4.200 mdpl. Keunikan topografi ini berdampingan langsung dengan kawasan konservasi dunia, Taman Nasional Lorentz, tempat di mana kelestarian lingkungan menjadi pertaruhan besar bagi masa depan bentang alam Indonesia.

Kondisi geografis yang membentang datar sepanjang 50 kilometer sebelum mendadak terjal menjadi salah satu benteng tantangan alami yang sangat kompleks. Namun, menjaga kelestarian alam Papua tidak sekadar berhadapan dengan terjalnya tebing. Masalah utama yang sering menghadang di lapangan adalah keterbatasan ketersediaan data pemantauan ekosistem hingga tantangan keamanan serta aktivitas penebangan liar (illegal logging) oleh masyarakat non-karyawan. Untuk memulihkan area kerja yang rusak, misalnya melalui penanaman kembali pohon yang hilang, diperlukan data yang presisi agar benih yang ditempatkan benar-benar sesuai dengan ekosistem aslinya.

Menghadapi kompleksitas tersebut, kunci utama yang harus dipegang teguh adalah sinergi erat antarpihak secara komprehensif. “Kami melihat bahwa kita enggak bisa yang namanya bekerja sendiri, harus secara kolaboratif. Walaupun katakanlah itu memang wilayah kerja kami, tapi secara kenyataannya kami enggak bisa melakukan itu sendirian,” ujar Kukuh Indra Kusuma, Koordinator untuk Konservasi dan Pemantauan Keanekaragaman Hayati PT Freeport Indonesia, saat menjadi pembicara dalam sesi tematik bertajuk ‘Preserving Papua’s Ecosystems Through Biodiversity Conservation’ pada rilis Katadata SAFE 2026, Senin.

Pengumpulan data ilmiah berskala besar sebenarnya telah dirintis PT Freeport Indonesia sejak tahun 1997 melalui berbagai kajian ekosistem dan penelitian terdahulu. Langkah berkelanjutan ini telah melahirkan 10 buku panduan lapangan terkait ragam keanekaragaman hayati (biodiversitas), mulai dari burung, kupu-kupu, kepiting, hingga hutan bakau (mangrove). Hingga kini, tercatat ada 130 spesies baru yang berhasil teridentifikasi di wilayah kerja perusahaan, meski masih terdapat sejumlah spesimen yang belum terdeskripsi jenis spesiesnya secara spesifik.

Keterbukaan data dan kolaborasi ilmiah tersebut menjadi pijakan penting untuk menyusun penanganan lingkungan yang tidak hanya berbasis pada angka, tetapi juga menyentuh kearifan masyarakat adat (indigenous knowledge) yang telah mengakar selama bertahun-tahun. Ketika kawasan industri terbangun dan habitat asli flora serta fauna terganggu, masyarakat lokal merupakan pihak yang paling memahami cara tumbuh-tumbuhan dan satwa endemic itu bertahan hidup dan berkembang biak. Pelibatan masyarakat setempat menjadi jembatan berharga untuk menutupi tenggat ketimpangan pendidikan serta penguasaan teknologi modern yang kerap terjadi di kawasan tengah dan timur Indonesia.

“Ketika ada industri yang terbangun di sana, yang dibuka adalah tempat tinggalnya, habitatnya. Rumahnya pelan-pelang hilang. Bagaimana memastikan itu berkelanjutan ketika rumahnya saja tidak bisa kita jaga? Yang bisa menjawab itu indigenous knowledge yang jauh lebih mengetahui tentang cara tumbuhan itu, cara hewan tersebut hidup dan berkembang biak,” kata Aie Natasha, Ketua Konsorsium Gerbangtara, yang turut menekankan pentingnya pendampingan bagi masyarakat lokal di tengah derasnya isu keberlanjutan (sustainability) dan kecerdasan buatan (AI).

Sesi diskusi bernas tersebut juga menghadirkan Rahman Adi Pradana, Kebijakan dan Kemitraan (Policy and Partnership) Konservasi Indonesia, sebagai salah satu narasumber. Diskusi ini menjadi bagian dari ajang Katadata SAFE 2026, sebuah forum tahunan yang diselenggarakan sejak tahun 2020 sebagai ruang titik temu bagi pemerintah, dunia usaha, penanam modal (investor), akademisi, dan masyarakat. Memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh dengan mengusung tema ‘The Green Changer’, acara ini berlangsung pada 16–17 September 2026 di Sudirman Hall, Sequis Tower, SCBD Jakarta, demi mendorong pertukaran gagasan dan aksi nyata menuju ekonomi yang inklusif, tangguh, serta berkelanjutan.

Menjaga kelestarian ekosistem dan memulihkan bumi yang terluka bukanlah tugas tunggal milik satu lembaga atau perusahaan semata. Setiap langkah kecil dalam menjaga keanekaragaman hayati hari ini adalah warisan paling berharga yang menentukan apakah generasi mendatang masih dapat menyaksikan keindahan alam Papua yang utuh dan lestari. (Gdi)

Exit mobile version