WANITAINDONESIA.CO — Keterbatasan cuaca kerap menjadi ganjalan utama dalam menjaga kestabilan daya pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Indonesia kini bersiap mengambil langkah berani untuk menjawab tantangan tersebut, mengarahkan potensi nikel nasional agar tidak hanya berputar pada industri kendaraan listrik, tetapi juga menjadi tulang punggung penyimpanan energi bersih bagi masa depan.
Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara masif kini membutuhkan pasokan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) dalam jumlah besar. Kehadiran teknologi ini menjadi krusial mengingat karakteristik tenaga surya yang bersifat jeda-berganti (intermittent) atau tidak stabil lantaran sangat bergantung pada kondisi cuaca. Langkah penguatan industri baterai ini diproyeksikan bakal menjadi penggerak utama dalam menyokong target besar Program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) yang dicanangkan pemerintah.
Peluang emas tersebut ditegaskan oleh Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Heldy Satrya Putera ketika ditemui di sela-sela acara “Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia 2026” yang digelar di Jakarta, Kamis.
“Untuk nikel, sekarang kami tidak hanya mendorong bagaimana baterai untuk kendaraan listrik, tetapi juga sekarang BESS. PLTS banyak membutuhkan baterai. Ini juga menjadi salah satu potensi besar,” ucap Heldy.
Kesiapan domestik dalam mengarungi transisi energi ini pun menunjukkan fondasi yang semakin kokoh. Komponen penting penunjang kelistrikan surya sudah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada produk impor dari luar negeri.
“70 persen komponen dari panel surya sudah diproduksi di Indonesia. Jadi ini menunjukkan perkembangan hilirisasi dari mineral kritis di Indonesia sudah sangat signifikan,” ujar Heldy.
Optimisme percepatan industri baterai dan energi terbarukan ini berdiri di atas pijakan realisasi investasi yang amat solid. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebutkan realisasi investasi per September 2026 mencapai sebesar Rp1.539,2 triliun dengan menyerap 2,19 juta tenaga kerja baru.
Daya tarik investasi yang mengalir khusus ke sektor hilirisasi pada periode Januari hingga September 2026 juga telah mencatatkan nilai yang signifikan sebesar Rp480 triliun. Sektor mineral tetap menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp335,1 triliun yang mencakup komoditas nikel, bauksit, besi baja, tembaga, hingga pasir silika.
“Kedua, perkebunan dan kehutanan Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54 triliun, dan perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun. Tetapi, memang khusus untuk realisasi luar Jawa investasinya itu mencapai 78 persen dari total investasi (hilirisasi),” kata Rosan.
Langkah strategis mengunci sinar mentari melalui teknologi baterai nikel buatan dalam negeri bukan sekadar urusan angka investasi. Ini adalah perwujudan kedaulatan energi, membuktikan bahwa kekayaan alam Nusantara mampu menyinari setiap sudut negeri hingga malam merambah, demi masa depan bumi yang lebih hijau dan berkelanjutan. (Gdi)

