Begini Strategi IPA Menjawab Janji Kedaulatan Energi 24 Gigawatt

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (BEI: PGEO). PGE

WANITAINDONESIA.CO – Di balik perut bumi Indonesia, tersimpan potensi energi bersih yang sangat melimpah. Memasuki momentum bersejarah 100 tahun perjalanan pemanfaatan panas bumi di Tanah Air, Indonesia rupanya baru mengeduk sekitar 11 persen dari total potensi raksasa sebesar 24 gigawatt (GW). Di tengah tantangan transisi energi dan ambisi kedaulatan energi nasional, industri geothermal kini bersiap memasuki babak baru yang dinamis di bawah kepemimpinan baru.

Langkah strategis ini ditandai dengan terpilihnya Ahmad Yani sebagai Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) atau Indonesian Geothermal Association (INAGA) periode 2026–2029. Sosok yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) tersebut terpilih secara mufakat melalui Musyawarah Nasional (Munas) XII API/INAGA yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center Senayan, Jakarta.

Baca Juga :  Mengubah Warisan Budaya Jadi Cuan, Strategi Teranyar IKM Fesyen Indonesia Tembus Pasar Global

Mengemban amanah di tengah momentum emas satu abad panas bumi—yang dimulakan dari pengeboran sumur pertama di Kamojang, Jawa Barat—Ahmad Yani menegaskan komitmennya untuk membawa asosiasi menjadi mitra tepercaya pemerintah. Langkah awal yang dibidik adalah mengawal peta jalan (roadmap) kedaulatan energi nasional secara konkret. Saat ini, pihak asosiasi telah memetakan potensi siap kembang sebesar 3 GW, serta siap mendukung target percepatan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang membidik tambahan kapasitas hingga 5,2 GW.

Namun, mengalirkan daya panas dari perut bumi hingga menjadi energi listrik di rumah-rumah penduduk bukanlah perkara mudah. Pria yang memimpin emiten bersandi PGE tersebut menyoroti berbagai tantangan besar yang kerap mengganjal laju investasi, terutama menyangkut tingkat kelayakan secara keekonomian (feasible) serta kemudahan memperoleh pendanaan perbankan (bankable).

Baca Juga :  Membangun Produktivitas Berkelanjutan, Ini Strategi Efisiensi ala Trakindo

“Saat ini, kami telah memetakan potensi sebesar 3 GW yang dapat dikembangkan. Akan tetapi, pengembangannya dihadapi oleh tantangan, termasuk bagaimana menciptakan iklim investasi yang semakin layak secara keekonomian dan layak secara pembiayaan perbankan. Perlu perbaikan skema tarif, usulan insentif, serta keberpihakan yang diperlukan agar industri panas bumi dapat tumbuh. Di saat yang sama, kita perlu memastikan kesiapan sumber daya manusia, teknologi, dan aspek sosial dalam setiap pengembangan proyek,” ujar Ketua Umum API/INAGA Periode 2026–2029, Ahmad Yani.

Baca Juga :  Begini Strategi Pemerintah Rayu Wisatawan Malaysia Jelajahi Nusantara

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberhasilan menggarap harta karun energi ini membutuhkan kerja sama terpadu lintas sektor. Sinergi yang solid antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, akademisi, penyedia teknologi, hingga masyarakat lokal menjadi kunci utama pembentukan ekosistem industri panas bumi yang tangguh dan berdaya saing tinggi.

Memasuki abad kedua perjalanannya, panas bumi bukan lagi sekadar narasi energi masa depan, melainkan solusi nyata hari ini untuk mewujudkan kemandirian bangsa. Ketika potensi hijau terendam di bawah tanah terus ditautkan dengan regulasi yang tepat dan investasi yang ramah, Indonesia tak hanya sedang menerangi Nusantara, tetapi juga sedang mengukir sejarah kedaulatan energi yang mandiri dan berkelanjutan untuk generasi mendatang. (Gdi)