WANITAINDONESIA.CO — Panjang bentangan rel Kereta Rel Listrik (KRL) kini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi mobilitas harian jutaan masyarakat Indonesia. Di balik kenyamanan moda transportasi massal tersebut, PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA tengah melakukan pembenahan besar-besaran dari dalam tubuh organisasi demi memastikan industri perkeretaapian nasional tumbuh semakin sehat, tangguh, dan berdaya saing tinggi.
Langkah berani ini diambil sebagai respons cepat untuk menindaklanjuti arahan dari Badan Pengelola BUMN (BP BUMN). Momentum perbaikan menyeluruh ini menyasar seluruh lini operasional, mulai dari tata kelola internal hingga efektivitas pelaksanaan proyek di lapangan.
General Manager Corporate Secretary PT INKA (Persero) Bambang Sutrisno dalam keterangannya di Madiun, Jawa Timur, Rabu menegaskan bahwa percepatan transformasi ini menjadi pondasi penting bagi masa depan perusahaan.
“INKA menindaklanjuti arahan BP BUMN dengan mempercepat transformasi yang saat ini terus berjalan. Fokus kami adalah membangun fundamental perusahaan yang lebih sehat, proses bisnis yang semakin efektif, serta kemampuan yang semakin kuat dalam menjalankan dan menyelesaikan setiap proyek,” ujar Bambang Sutrisno.
Strategi penataan ulang ini dilakukan secara terintegrasi dengan memperkuat keterkaitan antara perencanaan awal, pengelolaan kontrak kerja, pelaksanaan di lapangan, proses manufaktur (produksi), hingga penyerahan sarana transportasi kepada para pelanggan. Pada saat yang sama, perusahaan plat merah ini juga mengambil langkah tegas untuk menyehatkan kondisi arus kas (likuiditas) serta merapikan struktur keuangan agar lebih stabil.
Kedisiplinan dalam mengawal setiap pengerjaan proyek kini menjadi kunci utama. Hal ini mencakup pengendalian jadwal pengerjaan, alokasi biaya, pemetaan risiko, hingga pemenuhan komitmen terhadap mutu layanan.
Bambang Sutrisno menekankan pentingnya standar tinggi dalam pengelolaan proyek agar senantiasa memberi nilai tambah yang nyata.
“Setiap proyek harus dikelola secara disiplin sejak awal, baik dari aspek teknis, kontraktual maupun finansial. Dengan pengelolaan yang semakin baik, setiap pekerjaan harus mampu memberikan nilai bagi pelanggan sekaligus memperkuat kondisi perusahaan,” kata Bambang Sutrisno.
Perbaikan di lini produksi dan sistem penjaminan kualitas turut ditingkatkan untuk memastikan seluruh rangkaian kereta yang diproduksi memenuhi standar keselamatan, keandalan, dan spesifikasi teknis tertinggi. Lebih dari sekadar menyehatkan bisnis, transformasi ini membawa misi besar untuk memperkuat kemampuan ketayayasaan (engineering), mengasah keterampilan tenaga kerja lokal, mengadopsi teknologi mutakhir, serta menghidupkan ekosistem industri pendukung di dalam negeri.
Melalui langkah pembenahan yang terukur dan berkesinambungan ini, PT INKA (Persero) tidak hanya mengukuhkan diri sebagai pilar utama moda transportasi rel nasional, tetapi juga membuktikan bahwa karya anak bangsa siap bersaing di panggung perkeretaapian global.
Bambang Sutrisno optimis bahwa transformasi ini akan membawa dampak positif yang luas bagi kemajuan transportasi Indonesia.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya keberlanjutan perusahaan, tetapi juga kemampuan industri perkeretaapian Indonesia. Untuk itu, INKA harus semakin sehat, profesional, berkualitas, dan kompetitif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perkeretaapian,” kata Bambang Sutrisno.
Transformasi menyeluruh ini menjadi bukti nyata komitmen industri dalam negeri untuk terus bergerak maju. Ketika sebuah pabrikan kereta api nasional membenahi dirinya hingga ke akar, keberhasilan yang diraih tidak hanya berupa performa bisnis yang sehat, melainkan juga hadirnya sarana transportasi aman, nyaman, dan membanggakan bagi seluruh masyarakat Tanah Air. (Gdi)

