Bakti Bagi Negeri PERDOSKI Inisiasi ARUNA Internasional Summit 2026

Lintasan emas perjalanan PERDOSKI lewat ARUNA International Summit 2026, lahir dari semangat untuk membangun identitas baru, representasi masa depan estetika Indonesia di ranah global. Foto: Dokumentasi PERDOSKI

WANITAINDONESIA.CO – Simposium estetika serta kedokteran regeneratif ARUNA Internasional Summit 2026 (4-6 September) dengan pembicara asing terbanyak di Indonesia, sukses terselenggara di Jakarta.

ARUNA Internasional Summit merupakan wujud komitmen PERDOSKI bagi kemajuan dermatologi estetika di Indonesia, dan Asia Tenggara.

ARUNA merupakan akronim dari Aesthetic and Regenerative Unity through Network and Alliances yang menjadi cerminan nilai utama kongres, kolaborasi lintas disiplin, pendidikan berkelanjutan, inovasi berbasis bukti serta konektivitas internasional dalam dunia estetika, dan regenerative medicine.

Dalam bahasa Sansekerta ARUNA artinya cahaya menjelang matahari terbit. Ini menjadi perlambang, wujud serta komitmen bagi PERDOSKI bahwa Asia Tenggara termasuk Indonesia, akan menjadi pusat pertumbuhan inovasi, pendidikan serta kepemimpinan pemikiran di bidang estetika medis.

Ditemui Wanitaindonesia.co di sela acara kongres, dr.M.Akbar Wedyadhana (dokter Dhana) menjelaskan, “ARUNA lahir dari semangat untuk membangun identitas baru, yang merepresentasikan masa depan estetika Indonesia di tingkat global. ARUNA merupakan akronim Aesthetic and Regenerative.”

“Sebagai anggota dari PERDOSKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia) yang merupakan kumpulan dokter spesialis Sp.D.V.E, spesialis Dermatology & Aesthetic, kami menginginkan memiliki platform simposium estetik bertaraf internasional, “ujar dokter Dhana.

“Komitmen sepenuh hati untuk menghadirkan pendidikan ilmiah berkualitas, kolaborasi global serta inovasi yang relevan bagi perkembangan dunia dermatologi estetika modern, diwujudkan lewat ARUNA Internasional Summit 2026.”

“Kami bersyukur mendapat support system yang sangat luar biasa dari ekosistem dokter spesialis dermatology & Aesthetic Indonesia, luar negeri serta dukungan sepenuh hati dari PT. Redo Marketing Indonesia, “ujar dokter Dhana.

“Lewat kiprah para dokter Sp.D.V.E yang selama ini menempuh pendidikan spesialis, di mana estetika itu merupakan salah satu keahlian kami, kami senantiasa ingin mengeksplorasi agar memberikan banyak manfaat bagi kemajuan dermatologi estetika di Indonesia. Salah satunya dengan menyelenggarakan event bertaraf internasional.”

“ARUNA merupakan salah satu event estetik Indonesia pertama yang sukses menghadirkan pembicara asing hampir 30 orang, dan 50 lebih pembicara nasional yang bereputasi internasional seperti dr. Ruri Diah Pamela, Spesialis Dermatologi dengan keahlian laser, dermatologi kosmetik, dan regenerative medicine. dokter Ruri kerap diundang sebagai pembicara di sejumlah forum internasional, “cetus dokter Dhana.

“Dengan kehadiran para pembicara kompeten dari luar negeri, kami berharap Indonesia kelak bisa menjadi pemimpin di dunia kedokteran estetik. Harapan saya untuk penyelenggaraan berikutnya ARUNA akan semakin banyak peran dokter asing yang jadi pembicara di simposium maupun workshop.”

Turut menambahkan dokter Ruri Diah Pamela, menurutnya penyelenggaraan perdana ARUNA sudah sangat baik, dikarenakan banyak disuport oleh ekosistem estetika luar negeri seperti hadirnya para dokter dari Korea Selatan.”

“Kehadiran mereka tentunya akan memberikan banyak insight menarik bagi para dokter estetika Indonesia, mengingat saat ini Korea Selatan menjadi kiblat estetik dunia termasuk Indonesia.”

“Berharap para dokter Indonesia mendapatkan transfer teknologi serta ilmu pengetahuan dari dokter asing seperti dokter dari Korea Selatan di ARUNA, “imbuh dokter Ruri.

“Salah satu goals yang ingin kami capai ke depan, kami tak ingin hanya puas sebagai penonton, konsumen lewat transfer teknologi tadi kemudian hadir inovasi teknologi buah karya anak negeri.”

Ketika ditanya oleh Wanita Indonesia tentang peran strategis dokter dermatologi, dan estetika sebagai inovator di bidang teknologi dokter Feilicia Henrica, praktisi dermatologi estetika dan anti-aging menjelaskan, “Untuk alih teknologi, kita sudah memiliki produk vaksin hasil kerja sama dengan salah satu perusahaan estetika ternama Korea Selatan. Vaksinnya sudah ada di Indonesia tapi belum diluncurkan.”

Celluma salah satu merek dari PBM, unggul dari standar medis, rekomendasi praktisi berpengalaman yang tergabung di Celluma Indonesia Advisory Board. Foto: Dokumentasi PT. Redo Marketing Indonesia.

Mengenal Celluma Rekomendasi CICAB

“Salah satu isu di Simposium ARUNA adalah penggunaan terapi cahaya. Ketika ditanya ihwal efektifitas terapi cahaya untuk perawatan kulit paripurna, apakah cukup dengan mengandalkan terapi cahaya seseorang bisa meninggalkan treatment harian seperti memakai produk skincare? dokter Dana langsung menyanggah.

Dia menjelaskan, “Penggunaan krim tetap wajib untuk dilakukan. Tujuannya untuk pemeliharaan skin barrier dari luar. Jadi terapi kombinasi menjadi yang terbaik guna mencapai hasil akhir yang bisa bertahan lama. Dikarenakan topical treatment dalam terapi PBM adalah pengunaan produk obat luar seperti krim, serum atau gel yang dioleskan ke permukaan kulit, sebagai bagian dari pelengkap dalam rangkaian perawatan PBM.”

Saat ditanya ihwal penggunaan teknologi alat PBM rekomendasi para dokter dermatologi dengan produk lain yang dijual bebas di pasaran, dokter Dhana memberikan gambaran, PBM device merupakan perangkat estetika medis yang memancarkan panjang gelombang cahaya khusus, seperti cahaya merah untuk merangsang fungsi seluler dalam terapi PBM. Ini sudah ada standarisasinya.

“Selain itu harus ada sertifikasi FDA Cleared, yakni sertifikat standarisasi medis untuk perangkat teknologi PBM. Juga memiliki CE Mark, sertifikasi resmi standar keamanan. Yang mana energi yang di deliver, dan pulse duration pada alat PBM adalah rentang waktu cahaya berada dalam kondisi menyala, dalam satu siklus pulsa. Ini merupakan pengaturan teknis kekuatan serta waktu pancaran pada alat terapi PBM, “terangnya.

“Untuk Signaling sel pada terapi PBM merupakan proses energi cahaya yang khusus diserap oleh sel, lalu memicu komunikasi biokimia di dalam serta antar sel untuk memperbaiki jaringan tubuh.”

“Alat PBM tidak akan menyembuhkan jaringan secara langsung menggunakan panas, sebaliknya alat akan mengirimkan sinyal digital biologis lewat panjang gelombang cahaya tertentu, agar sel di dalam tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri.”

“Untuk alat yang difungsikan hanya sebagai estetika saja, sudah tentu tidak ada standarisasinya. Tentu saja efektivitasnya menjadi berbeda. Oleh karenanya dibutuhkan standarisasi, dikarenakan tidak semua alat PBM itu sama, “cetus dokter Dhana.

“Bagi sejawat yang menyediakan layanan ini di klinik mereka, sudah seharusnya mereka bisa bertanggung jawab hasil terapi kepada pasiennya, dengan mengacu kepada standar medis yang baku.”

“Sekali lagi saya tekankan ihwal peralatan yang banyak di online shop, kami tidak bisa memastikan standar yang mereka terapkan itu seperti apa, hal ini tentunya akan memengaruhi hasil akhir terapi ini, “tegas dokter Dhana.

Saat ditanya Wanitaindonesia.co tentang penerapan treatment terapi cahaya yang paling banyak dibutuhkan di Indonesia, dokter Feilicia menjawab, “Fokus perawatan PBM di Indonesia masih akan terus berkembang. Jujur saja, saya baru belajar teknologi perawatan PBM di bagian kulitnya, namun ketika saya banyak mencari referensi, membaca jurnal ilmiah, terapi PBM ini sangat luar biasa.”

“Pemanfaatannya bisa digunakan untuk saraf, otot. Dibandingkan dengan teknologi lainnya yang hanya terlihat dipermukaan, PBM akan menstimulasi aktivis sel, “terang dokter Feilicia.

“Signaling selnya akan diperbaiki, diibaratkan ketika kita hendak membuat sebuah lampu lama kondisi nyalanya terasa terang tentu harus diperbaiki dahulu kabelnya.”

“PBM di Indonesia banyak diaplikasikan untuk mengobati jerawat, kerontokan rambut juga anti-aging. Kian menarik saat PBM bisa diaplikasikan pula untuk hiperpigmentasi yang menjadi salah satu permasalahan kesehatan kulit terbanyak di Indonesia, “jelas dokter Feilicia.

“Hanya patut diingat untuk terapi hiperpigmentasi level evidencenya masih rendah. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui parameter yang tepat. Hal ini bagi kami sudah tentu menjadi tantangan yang sangat menarik, selaku praktisi kami tertantang bisa tidak mengembangkan pengaplikasian teknologi untuk flek, “pungkasnya. (*)