Site icon Wanita Indonesia

Astra Ungkap Rahasia Menenun Kepercayaan Publik Lewat Keberlanjutan

Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Windy Riswantyo tengah menyampaikan paparan pada ajang Konvensi Humas Indonesia (KHI) yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) di Solo, 17-18 Oktober 2026. (Perhumas)

WANITAINDONESIA.CO — Kepercayaan publik terhadap komitmen nyata korporasi kini terus diuji di tengah derasnya pengakuan sepihak mengenai kepedulian lingkungan yang tentunya perlu pembuktian lebih jauh.

Menjawab tantangan kredibilitas tersebut, Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk Windy Riswantyo menegaskan bahwa kepercayaan merupakan aset tak berwujud yang tidak dapat dibangun secara instan. Keutuhan reputasi harus ditenun dengan penuh kesabaran serta dedikasi tinggi melalui penyelarasan nilai utama perusahaan ke dalam tindakan operasional sehari-hari.

Dalam sesi diskusi bertajuk Keberlanjutan sebagai Fondasi Kepercayaan pada Konvensi Humas Indonesia di Solo, Windy Riswantyo menjelaskan bahwa Astra yang akan genap berusia 70 tahun pada Februari 2027 selalu menempatkan filosofi Catur Dharma sebagai saringan utama dalam setiap pengambilan keputusan bisnis.

Setiap rencana investasi maupun ekspansi usaha wajib melalui pertimbangan matang terkait penciptaan lapangan kerja, dampak ganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional, hingga pemeliharaan ekosistem serta komunitas lokal. Langkah ini memastikan prinsip dasar keberlanjutan telah terintegrasi sejak tahap awal perencanaan dan bukan sekadar bahan laporan di kemudian hari, jelas Windy.

Upaya menyatukan filosofi tersebut diakui menjadi tantangan tersendiri bagi kelompok usaha raksasa yang menaungi sekitar 300 perusahaan dengan hampir 200 ribu karyawan. Untuk menjaga konsistensi di seluruh lini, pembangunan rasa percaya diarahkan dari bagian hulu organisasi serta diwujudkan melalui interaksi harian yang nyata, mulai dari hubungan kerja internal, kemitraan bersama pemerintah, layanan purna jual bagi konsumen, hingga kedisiplinan waktu dalam menghadiri pertemuan kerja. Rekam jejak dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten tersebut pada akhirnya terakumulasi menjadi fondasi reputasi yang sangat kokoh.

Persoalan kredibilitas laporan keberlanjutan ini turut diperkuat oleh data dari Manajer Pilar Keberlanjutan dan Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Setyo Budiantoro. Menurut Setyo meskipun jumlah laporan keberlanjutan emiten di Bursa Efek Indonesia mengalami lonjakan hingga mendekati 70 persen, kualitas pembuktian di lapangan justru menunjukkan penurunan yang memicu keraguan dari mayoritas investor global.

Menghadapi situasi tersebut, penerapan regulasi yang tegas disertai mekanisme penghargaan serta sanksi yang jelas dinilai menjadi kunci utama untuk mendorong terciptanya ekosistem persaingan bisnis yang sehat.

Menelusuri perjalanan panjang dalam membangun reputasi, konsistensi antara janji tertulis dan aksi nyata terbukti menjadi tolok ukur tertinggi bagi kelangsungan sebuah organisasi. Pada akhirnya, keaslian komitmen yang diuji oleh waktu akan selalu menjadi pemenang sejati dalam merebut hati dan kepercayaan masyarakat luas. (Gdi)

Exit mobile version