Site icon Wanita Indonesia

Ancaman Tersembunyi Hepatitis B di Balik Keberhasilan Vaksinasi Anak Indonesia

Pemberian vaksinasi hepatitis pada anak. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Keberhasilan program imunisasi nasional sejak dekade 1990-an ternyata menyisakan celah kerentanan yang mengejutkan di tengah masyarakat Indonesia. Meskipun generasi muda terlindungi dari penularan virus sejak lahir, mayoritas penduduk dewasa justru kini berada dalam bayang-bayang ancaman infeksi yang mengintai tanpa disadari.

Perubahan pola penyebaran penyakit atau dinamika epidemiologi hepatitis B di Tanah Air saat ini menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Keberhasilan imunisasi bayi berhasil menekan angka penularan pada anak secara signifikan, namun beban penyakit pada kelompok usia dewasa masih sangat tinggi sebagai cerminan paparan masa lalu sebelum vaksinasi massal diterapkan.

Ketua Komite Ahli Hepatitis Kementerian Kesehatan, dr. David H. Muljono, mengungkapkan bahwa sebaran antibodi pelindung (anti-HBs) di Indonesia membentuk pola dua puncak (bimodal). Angka perlindungan tercatat sangat tinggi pada anak-anak berkat vaksinasi, lalu menurun tajam pada kelompok remaja dan dewasa muda, sebelum akhirnya melonjak kembali pada lansia akibat kekebalan alami pascainfeksi.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 memperlihatkan bahwa angka keberadaan virus hepatitis B aktif (HBsAg) pada anak usia satu hingga empat tahun telah ditekan hingga 0,1 persen. Angka ini berada jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) untuk eliminasi penyakit pada anak, sekaligus membuktikan efektivitas intervensi imunisasi sejak dini.

Namun, potret keseluruhan populasi menunjukkan tantangan yang tidak kalah besar. Prevalensi hepatitis B aktif di seluruh kelompok umur masih berada di angka 2,4 persen. Lebih dari itu, sebanyak 19,7 persen penduduk terdeteksi pernah terpapar virus, dan hanya 24,3 persen yang memiliki antibodi pelindung mandiri.

Di balik deretan angka tersebut, terungkap fakta yang paling krusial bahwa lebih dari 60 persen penduduk Indonesia sama sekali tidak memiliki penanda kekebalan maupun riwayat paparan virus (serologi) hepatitis B. Kelompok masyarakat ini berada dalam kondisi belum pernah terinfeksi, tetapi juga tidak memiliki perisai kekebalan tubuh sama sekali.

“Temuan ini menunjukkan bahwa penularan hepatitis B telah menurun secara bermakna dibandingkan dua dekade sebelumnya, tetapi masih terdapat proporsi masyarakat yang besar yang belum memiliki kekebalan terhadap infeksi hepatitis B,” tutur dr. David.

Menurut dr. David kondisi ini menandakan risiko penularan secara horizontal antar-individu masih berlangsung nyata di tengah masyarakat. Tanpa perlindungan khusus, kelompok usia remaja dan dewasa yang belum kebal sangat rentan tertular saat melakukan aktivitas sehari-hari maupun interaksi sosial.

Oleh karena itu, strategi pencegahan tidak boleh berhenti hanya pada pemberian vaksin saat bayi, melainkan perlu dilengkapi dengan strategi perlindungan bagi kelompok usia yang lebih tua.

Langkah penanganan hepatitis B kini dinilai perlu bertransformasi secara menyeluruh dari pendekatan yang berfokus pada imunisasi semata menjadi pendekatan yang mencakup seluruh perjalanan penyakit, mulai dari pencegahan infeksi baru hingga pencegahan komplikasi berat seperti pengerasan hati (sirosis) dan kanker hati.

Upaya konkrit tersebut mencakup perluasan penapisan (skrining) berbasis risiko, peningkatan akses pemeriksaan laboratorium, penegakan diagnosis sejak awal, tata laksana medis sesuai standar pedoman nasional dan WHO, pencegahan penularan dalam lingkup keluarga, hingga pemberian imunisasi susulan (catch-up vaccination) bagi warga yang belum memiliki kekebalan.

Harapan baru dalam penanganan medis kini makin terbuka seiring terbitnya pedoman terbaru WHO tahun 2024. Panduan anyar ini memperluas jangkauan rekomendasi terapi antivirus untuk penderita hepatitis B menahun (kronis), sehingga lebih banyak pasien dapat ditangani sebelum penyakit berkembang menjadi kondisi fatal.

Sinergi dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, akademisi, organisasi profesi, hingga media massa menjadi kunci utama untuk membangkitkan kesadaran publik secara luas dalam pengendalian hepatitis B.

“Indonesia telah membuktikan bahwa eliminasi hepatitis bukanlah cita-cita yang mustahil. Keberhasilan mencapai target WHO pada anak menunjukkan bahwa kebijakan yang didukung bukti ilmiah dapat mengubah epidemiologi suatu penyakit dalam satu generasi,” tegas dr. David.

Kini, keputusan ada di tangan kita bersama. Sudahkah Anda memeriksakan status kekebalan tubuh dan memastikan diri terbebas dari ancaman tersembunyi ini? (Gdi)

Exit mobile version