WANITAINDONESIA.CO – Brand pionir skincare dermatologi Indonesia, Erha Skincare menegaskan posisinya sebagai pemimpin skincare dermatologi di Indonesia.
Di tengah pertumbuhan industri kosmetik Indonesia yang sangat progresif, disayangkan kabar baik tersebut tak diikuti dengan ketersediaan produk skincare yang aman bagi kesehatan kulit, dan tubuh untuk jangka panjang.
Banyaknya produk kosmetik berbahaya yang diproduksi di Indonesia maupun produk kosmetik impor ilegal, yang mudah diakses masyarakat.
Hal ini menjadi “peer” besar bagi para Pembuat Kebijakan untuk dapat mencegah praktik ilegal cenderung masif, serta mengedepankan kualitas bukan kuantitas yang menjadi ekosistem Aesthetic Indonesia tumbuh, berkembang secara sehat, dan positif.
Kondisi tersebut kian diperparah oleh dokter yang seharusnya memiliki kewajiban untuk menjalankan sumpah profesi dengan ikut memikul tanggungjawab untuk melindungi masyarakat lewat serangkaian edukasi yang komprehensif. Malah ada sebagian abai, dan menjadi oknum gara-gara tergiur akan keuntungan, dan popularitas diri.
Keberadaan serta peran dokter Aesthetic esensinya untuk mengedukasi masyarakat, bukan ikut arus dengan berperan sebagai oknum yang membuat produk sendiri. Lewat strategi keilmuan, tapi melakukan praktik bisnis dengan cara tak terpuji, over klaim produk.
Mirisnya ada pula oknum dokter yang membeli produk luar dengan harga murah, lalu diklaim sebagai produk miliknya dengan memasang label sendiri. Kemudian dijual dengan harga yang tak wajar. Ini sangat keterlaluan.
Lain lagi dengan para pelaku industri kosmetik skala UMKM. Mereka memproduksi produk kosmetik melalui jasa maklon abal-abal karena tak paham ihwal bisnis yang digadang-gadang memiliki ceruk menggiurkan.
Mereka hanya punya modal tak banyak tapi abai dengan aspek keselamatan, dan perlindungan konsumen. Terperdaya oleh jasa maklon abal-abal lalu harus berurusan dengan BPOM, dikarenakan produknya mengandung bahan kimia berbahaya.
Industri kosmetik di Indonesia identik dengan bisnis yang menjanjikan keuntungan menggiurkan. Sayangnya masyarakat tak bisa berharap banyak dari pelaku usaha yang sebagian terindikasi curang.
Karenanya dibutuhkan pelaku industri profesional yang mampu mengakomodir kebutuhan tersebut, agar masyarakat dapat mengakses produk kosmetik yang aman, berdampak nyata dengan harga wajar. Penting hadirnya peran industri kosmetik yang rutin melakukan edukasi kepada masyarakat, agar dapat mewujudkan skin goals mereka.
Bagaimana dengan masyarakat Indonesia yang diembelin dengan sebutan Skin Enthusiast maupun Beauty Enthusiast, sebelas-duabelas dengan kondisi karut-marut tersebut.
Sejatinya pasar skincare abal-abal tetap eksis, dikarenakan adanya permintaan yang cukup tinggi konsumen. Magnet over klaim, serta harga murah senantiasa menggoda konsumen!
Memang benar BPOM secara rutin telah melakukan penindakan, pun halnya dengan para pemengaruh gaya hidup. Mereka mengedukasi masyarakat, bahkan sebagian saking gemasnya langsung mengumumkan ke audience, “Ini lho skincare abal-abal, lengkap dengan penjelasan kandungan bahan, yang sebelumnya telah diujicoba di lab, karena mereka datang dengan latarbelakang sebagai Dokter Aesthetic yang masih “murni”.
Menyikapi sisi kelam industri Aesthetic Indonesia, penting untuk menggencarkan literasi ke masyarakat di akar rumput. Mereka harus memiliki cara pandang baru ihwal kecantikan sejati yang natural, aman, dan berdampak panjang.
Tentunya upaya tersebut akan terwujud bila masyarakat hanya mengakses produk perawatan dari hasil riset, serta penelitian panjang berkelanjutan. Digawangi oleh para ahli dengan berbagai latarbelakang keilmuan yang mumpuni. Produk terbukti aman, berdampak signifikan bagi penggunanya.
Inovasi Terbaru
Sejalan dengan pertumbuhan pasar skincare nasional yang mencapai US$ 4,64 miliar di 2032, Erha Skincare Group menegaskan komitmennya sebagai satu-satunya merek skincare dermatologi Indonesia, yang konsisten selama lebih dari 25 tahun, menghadirkan solusi perawatan kulit berbasis praktik klinis nyata.
Didukung lebih dari 112 klinik dermatologi di seluruh Indonesia, ditangani lebih dari 200 tenaga medis profesional, Erha Skincare Group terus berkomitmen untuk menghadirkan solusi perawatan kulit yang Clinically Created, Dermatologist Trusted. Hal ini
berangkat dari riset mendalam, dan kebutuhan nyata kulit masyarakat Indonesia.
Sebagai brand pemimpin skincare dermatologi Indonesia, di tengah lonjakan pasar Skincare dermatologi di ASEAN, Erha Skincare Group meluncurkan tiga inovasi produk terbaru berbasis riset klinis, dan keahlian dermatolog yaitu Erha Skinsitive Ultracalm Face Sunscreen, Erha AcneAct Micellar Water, serta HisErha Duo Parfum Premium.
Peluncuran dilakukan di tengah pertumbuhan signifikan pasar skincare dermatologi di kawasan ASEAN, yang mana Indonesia menjadi pasar terbesar 43,5% pangsa pasar skincare sensitif ASEAN.
Director Brand, Marketing, and Sales Erha Skincare Group, Afril Wibisono menerangkan, “Perkembangan industri skincare Indonesia bisa dikatakan sangat progresif. Industri yang tetap survive di tengah kondisi krisis ekonomi global.”
Ia mengaku momen ini menjadi peristiwa penting bagi dirinya setelah sepuluh bulan menunggu lewat sebuah pertanyaan mendasar positioning Erha Skincare hendak dibawa ke mana?
Afril menegaskan, Erha Skincare membangun standarnya sendiri. Tak hanya sekedar mengacu kepada tren. Hal ini yang memperkuat posisi kami sebagai pionir skincare dermatologi Indonesia, yang lahir dari praktik klinik bukan dari klaim pemasaran.
“Seluruh produk inovasi Erha Skincare mengedepankan Clinically Created, dan Dermatologist Trusted yakni sebuah pendekatan yang membedakan Erha dari berbagai klaim “dermatologist-tested” atau dermatologist-recommended” yang marak di industri, “tambahnya.
Clinically Created diartikan produk diciptakan di laboratorium klinik berstandar medis, dikembangkan dengan standar farmasi lewat perumusan tim dermatolog, dan yang tak kalah penting diuji kepada pasien klinik sebelum dipasarkan.
Adapun Dermatologist Trusted merupakan indikasi bahwa produk Erha telah divalidasi oleh lebih dari 200 tenaga medis profesional. Didukung jaringan di 112 klinik dermatologi di seluruh Indonesia, serta memiliki rekam jejak lebih dari 25 tahun dalam praktik dermatologi.
Tiga Pilar Yang Menentukan
Afril melanjutkan, “Untuk problem solution ada tiga pilar yang kami kedepankan sebelum produk diproduksi. Kami selalu mengawali dengan identifikasi sesuai dengan kebutuhan pasien juga melakukan formulasi klinik dengan standar yang ada. Memastikan validasi perawatan secara berkelanjutan.”
“Bahkan setelah produknya telah puluhan tahun dipasarkan, tetap akan divalidasi. Ada beragam opsi yang dilakukan untuk produk tersebut seperti di up-grade atau tidak. Dihentikan atau malah akan dikembangkan lagi. Inovasi yang kami hadirkan didorong oleh kebutuhan klinis yang nyata bukan dipengaruhi oleh tren pasar, “ungkapnya.
Afril menyentil brand lain yang banyak mengklaim produk mereka “dermatologist -tested” maupun mendapat endorsement dari asosiasi dermatologi.
Masyarakat harus jeli, serta dapat membedakan bahwa perbedaan kami yang paling fundamental bukan hanya sekedar diuji, namun diciptakan langsung oleh dermatolog.
Para dermatolog Erha setiap harinya telah menangani ribuan pasien dengan berbagai kondisi kulit. Autensitas ini tentu saja lebih bernilai karena tak bisa dibeli.
Produk Erha kian bernilai dikarenakan origin and development. Erha lahir dari sebuah klinik di 1999, tentu saja kaya dengan masukan medis dari pengalaman klinis yang nyata, bukan dari laboratorium kosmetik.
Produk hadir, dan dirancang secara khusus untuk pasien dengan kebutuhan tertentu. Dari yang biasa hingga yang butuh perhatian lebih diakomodir oleh Erha.
Contoh nyata bagaimana upaya kami sukses melakukan observasi kepada ribuan pasien, dalam waktu tiga bulan dalam rentang waktu panjang 25 tahun!. Tentunya tak bisa dibandingkan dengan brand lainnya yang hanya melakukan tes ke 30 orang dengan waktu singkat 2 minggu. Beda jauh ya, diumpamakan seperti melakukan poling untuk 10 orang dengan sensus berskala Nasional, ” ujarnya berseloroh.
Antara Skincare Rata-rata & Derma Skincare
Bicara skincare ada yang disebut dengan dengan produk skincare rata-rata. Cirinya diproduksi masal, dan dapat dibeli bebas dengan kandungan bahan aktif yang rendah hingga sedang tanpa pengawasan.
Selain itu ada pula produk skincare derma kosmetik atau derma skincare yang mengandung bahan aktif terapeutik (komponen utama yang terbukti secara ilmiah memiliki efek farmakologis untuk mengatasi, mengobati masalah kulit secara langsung), yang dikembangkan dengan pendekatan dermatologi.
Masyarakat kerap mengartikan skincare berbasis dermatologi selalu dikaitkan dengan kulit sensitif, padahal anggapan ini tak sepenuhnya tepat.
Produk Erha yang diformulasikan untuk kulit sensitif, aman pula digunakan untuk jenis kulit lainnya seperti kulit normal, kering, berminyak, dan campuran antara kering, dan berminyak.
Lebih lanjut Afril menerangkan Erha juga memiliki konsen penuh terhadap permasalahan serius kulit sensitif di Indonesia. Lewat sejumlah riset, dan penelitian pencetus munculnya skincare untuk kulit sensitif adalah dari beragam kasus dermatologi yang bervariasi seperti faktor genetik, polusi udara, iklim tropis identik dengan panas, dan lembap.
“Dermaskin kami memiliki posisi yang unik, karena menggabungkan efektifitas dengan kecantikan. Erha Skincare bisa saya klaim sebagai produk Clinically Created yakni produk yang diciptakan di laboratorium klinik berstandar medis. Dikembangkan dengan standar farmasi, dan dirumuskan oleh tim dermatolog, serta diuji pada pasien klinik sebelum dipasarkan, “jelasnya.
Bicara kualitas produk, Erha memiliki standar formulasi. Unggul dari konsentrasi medical -grade untuk efektivitas yang lebih tinggi. Kemurnian, dan stabilitas berstandar farmasi. Juga didukung dengan dengan teknologi penghantaran yang advanced, serta optimasi pH untuk efektivitas maksimal.
Jadi bukan hanya daftar bahan yang sama, tingkat konsentrasi, standar kemurnian hingga teknologi penghantaran semuanya berbeda.
Dengan dukungan profesional backing, Erha terintegrasi dengan lebih dari 100 dermatolog aktif yang meresepkan Erha sebagai bagian dari protokol perawatan.
Dengan peran strategis para dokter mumpuni mereka mempertaruhkan reputasi dengan meresepkan produk Erha. Tentunya upaya ini kami imbangi dengan melatih dermatolog mengenai riset kulit, dan rambut terkini.
Patut diingat oleh masyarakat perbedaan antara dokter Erha untuk melayani pasien dengan dokter yang sering bergandengan dengan sejumlah merek tertentu untuk sebuah kampanye pemasaran, yang keluar berarti adalah keputusan media. Dokter yang bermitra bersama Erha tentu tak identik dengan sekedar bertransaksi.
“Jadi kesimpulannya posisi kami yang baru adalah “Clinically Created, Dermatologist Trusted, “pungkasnya. (*)

