
WANITAINDONESIA.CO – Nama komedian Kiky Saputri kembali menjadi sorotan setelah video lamanya saat menaiki pesawat jet pribadi bersama Menteri Perhubungan kala itu, Budi Karya Sumadi, viral di media sosial. Potongan video dari 2023 tersebut memicu gelombang kritik hingga muncul seruan boikot terhadap Kiky.
Perhatian publik tertuju pada candaan Kiky dalam rekaman tersebut yang menyebut masyarakat dengan istilah “rakyat jelata”. Ucapan itu menuai reaksi keras karena dinilai tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat, terutama di tengah persoalan ekonomi dan ketimpangan sosial.
Kritik tidak hanya datang dari warganet. Sejumlah figur publik juga ikut menyampaikan kekecewaan mereka. Musisi Iga Massardi, misalnya, meluapkan kekesalannya melalui unggahan di media sosial.
“Nanti di panggung aku akan menyapa penonton dengan ‘Hai rakyat jelata’ as*, bajingan, lambemu (mulutmu) ki!” tulis Iga Massardi.
Reaksi serupa disampaikan konten kreator Winda Basudara. Ia secara terbuka mengajak masyarakat memberikan sanksi sosial kepada Kiky melalui gerakan boikot.

“Langsung aja guys, sudah obvious harus di Rumbling. Hitamkan,” tulis Winda Basudara.
Winda menyadari rekaman yang kembali beredar tersebut bukan video baru. Namun, menurutnya, kemarahan publik saat ini merupakan akumulasi dari kekecewaan terhadap ketimpangan sosial. Ia juga menyoroti kedekatan sebagian figur publik dengan kalangan penguasa yang dinilai dapat menimbulkan jarak dengan masyarakat.
Kritik juga muncul dari psikolog Lita Gading. Ia mengingatkan Kiky agar tetap menjaga sikap meskipun kondisi ekonomi dan status sosialnya mengalami peningkatan.
“Terkadang kalau orang sudah naik status Ekonomi nya suka Lupa Daratan? Maklum OKB yuk kontrol emosi redam egomu beecanda mu jangan kelewatan, karena Banyak Rakyat jelata masih menderita di luar Private Jet yg loe tumpangi itu !!! @kikisaputri22,” tulis Lita Gading.
Ramainya kritik tersebut kembali memunculkan perbincangan mengenai batas candaan seorang komedian di ruang publik. Sebagian masyarakat menilai figur publik perlu lebih berhati-hati dalam memilih kata, terutama ketika candaan yang disampaikan berpotensi dianggap merendahkan kelompok lain.
Hingga kini, video lama tersebut masih menjadi bahan perbincangan dan memunculkan beragam respons dari warganet. (GIE)




