
WANITAINDONESIA.CO – Batik bukan sekadar kain bermotif indah. Di balik setiap goresan canting dan perpaduan warna, tersimpan cerita, ekspresi, serta pesan yang dapat disampaikan tanpa harus melalui kata-kata. Semangat inilah yang dihadirkan dalam pameran seni bertajuk “Sense of Silence: Melihat Bunyi, Membaca Rasa” sebagai bagian dari Puncak Perayaan Hari Batik Nasional 2026.
Digelar di Rumah Wijaya, Melawai, Jakarta Selatan, pada Minggu (1/11/2026), pameran ini menjadi ruang perjumpaan antara Teman Tuli dan Teman Dengar melalui seni, budaya, dan kreativitas. Mengusung semangat inklusivitas, kegiatan ini membuktikan bahwa keterbatasan komunikasi verbal bukanlah penghalang untuk berkarya, berkolaborasi, dan saling memahami.
Pameran ini diinisiasi oleh Budi Dwi Hariyanto, Founder Akademi Batik Tuli’s sekaligus Founder Rumah Batik Palbatu, bersama Rany Restyani selaku Concept Developer. Kegiatan tersebut terselenggara melalui kolaborasi Rumah Batik Palbatu, Rumah Wijaya, dan Selalu Ada Waktu.
Tidak hanya menjadi ajang apresiasi seni, seluruh rangkaian kegiatan juga dirancang dengan memperhatikan aksesibilitas. Kehadiran Juru Bahasa Isyarat (JBI) memastikan Teman Tuli dapat mengikuti setiap sesi dan berinteraksi secara setara dengan seluruh pengunjung.
Merayakan Karya, Mengakui Kompetensi Perajin Tuli
Salah satu momen penting dalam perayaan ini adalah penutupan resmi Program Akademi Batik Tuli’s Tahun 2026. Program pelatihan dan pemberdayaan yang mendapat dukungan penuh dari PLN UID Jakarta Raya tersebut menjadi salah satu upaya membuka kesempatan bagi Teman Tuli untuk mengembangkan keterampilan sekaligus membangun kemandirian melalui industri batik.
Kabar baiknya, program Akademi Batik Tuli’s dipastikan akan berlanjut pada tahun depan. Keberlanjutan ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak perajin batik berbakat sekaligus memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkiprah dalam pelestarian budaya Indonesia.
Puncak penutupan program ditandai dengan penyerahan Sertifikat Kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bidang batik kepada Teman Tuli dan Teman Dengar yang telah dinyatakan lulus uji kompetensi.
Sertifikat tersebut menjadi pengakuan resmi atas keterampilan, standar kompetensi, dan profesionalisme para perajin. Lebih dari sekadar selembar dokumen, pengakuan ini mempertegas bahwa kemampuan dan kualitas seseorang dalam berkarya tidak ditentukan oleh kondisi pendengarannya.
Ketika Karya Menjadi Cara untuk Saling Memahami
Semangat inklusi juga dihadirkan melalui talkshow bertajuk “Mendengar Lewat Karya”. Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Budi Dwi Hariyanto, Dewi Nurhadi selaku Perajin Batik Tuli, Widi Dwinanda sebagai Aktris dan Praktisi Seni, Omar Danishwara selaku Co-Initiator Rumah Wijaya, serta Sinta Novizah sebagai Juru Bahasa Isyarat.
Melalui perspektif para narasumber, pengunjung diajak memahami bahwa seni dapat menjadi medium komunikasi yang melampaui batas bahasa dan suara. Karya batik tidak hanya menyampaikan keindahan visual, tetapi juga menghadirkan pengalaman, perasaan, dan cerita dari para pembuatnya.
Pengunjung juga dapat menikmati galeri karya batik tulis seniman Tuli yang menampilkan beragam motif dengan pesan visual mendalam. Setiap karya menjadi representasi kreativitas sekaligus ruang bagi para perajin untuk menunjukkan identitas dan kemampuan mereka.
Berbagai kegiatan interaktif turut melengkapi pameran, mulai dari talkshow inklusi kebudayaan, workshop membatik tulis, hingga Inclusive Fashion Parade. Dalam workshop tersebut, pengunjung berkesempatan belajar mencanting dan membatik secara langsung bersama perajin Tuli dan Dengar.
Sementara itu, Inclusive Fashion Parade menghadirkan peragaan busana batik dengan model Tuli dan Dengar. Peragaan ini menjadi simbol bahwa dunia mode dan seni budaya merupakan ruang terbuka yang dapat dinikmati serta diisi oleh siapa saja.
Batik sebagai Ruang Kesetaraan
Melalui “Sense of Silence: Melihat Bunyi, Membaca Rasa”, perayaan Hari Batik Nasional tidak hanya berbicara tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga tentang bagaimana budaya dapat menjadi jembatan untuk membangun masyarakat yang lebih terbuka dan setara.
Kehadiran para perajin Tuli dalam pameran ini memberikan pesan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya, memperoleh pengakuan profesional, dan mengambil bagian dalam menjaga kekayaan budaya bangsa.
Sebab, batik tidak selalu harus diceritakan melalui suara. Ada pesan yang disampaikan melalui warna, motif, sentuhan, dan setiap goresan canting. Dalam keheningan sekalipun, sebuah karya mampu berbicara dan menghubungkan banyak hati. (wib)




