
WANITAINDONESIA.CO — Edukasi kesehatan menstruasi masih menjadi tantangan bagi sebagian remaja perempuan penyandang disabilitas. Keterbatasan akses informasi yang mudah dipahami membuat pendidikan kesehatan reproduksi yang inklusif semakin penting, termasuk bagi siswi tunarungu.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Unicharm berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang menggelar edukasi kesehatan menstruasi dan kebersihan diri bertajuk Love Your Possibilities: We Can! di SLB B Tunas Harapan, Karawang, Jawa Barat, Rabu (12/8).
Kegiatan ini diikuti puluhan siswi tunarungu bersama guru pendamping. Program tersebut bertujuan memperluas akses informasi mengenai menstruasi dan perawatan diri agar remaja perempuan penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam memahami kesehatan reproduksi.
Edukasi Menstruasi Inklusif untuk Remaja Perempuan Tunarungu
Pendidikan kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari pemenuhan hak anak dan remaja. Informasi yang tepat mengenai menstruasi membantu remaja memahami perubahan tubuh, menjaga kebersihan diri, serta menjalani masa pubertas dengan lebih percaya diri.
Namun, penyampaian informasi kesehatan kepada remaja penyandang disabilitas memerlukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Materi yang terlalu mengandalkan penjelasan lisan, misalnya, dapat menjadi hambatan bagi peserta didik tunarungu.
Karena itu, kegiatan Love Your Possibilities: We Can! dirancang menggunakan metode pembelajaran interaktif dengan alat bantu visual dan media bergambar. Guru pendamping turut membantu menerjemahkan materi ke dalam bahasa isyarat agar informasi dapat dipahami dengan lebih mudah.
Materi yang diberikan mencakup cara memilih pembalut sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan diri selama menstruasi, serta mengenali mitos dan fakta seputar haid. Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai penanganan darah menstruasi yang menggumpal, termasuk kaitannya dengan risiko kebocoran saat menggunakan pembalut.
Pendekatan ini menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan pendidikan kesehatan menstruasi yang lebih ramah, mudah diakses, dan relevan bagi remaja perempuan dengan kebutuhan komunikasi yang berbeda.
Dinkes Karawang: Remaja Disabilitas Berhak Mendapatkan Edukasi Kesehatan
Ketua Tim Kerja Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, dr. Hardi Hermawan, MKM, mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta dalam memperluas akses edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja penyandang disabilitas.
Menurutnya, anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan informasi kesehatan, termasuk mengenai manajemen kebersihan menstruasi dan perawatan diri.
Ia menilai kerja sama lintas sektor dibutuhkan agar edukasi kesehatan dasar dapat menjangkau kelompok yang selama ini berpotensi menghadapi hambatan akses informasi.
Upaya tersebut sejalan dengan prinsip pemenuhan hak penyandang disabilitas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
Regulasi tersebut mengatur sejumlah hak penyandang disabilitas, termasuk hak atas kesehatan dan akses terhadap pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Akses Pendidikan bagi Anak Penyandang Disabilitas Masih Menjadi Tantangan
Kesenjangan akses pendidikan menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam pemenuhan hak anak penyandang disabilitas di Indonesia.
Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020, yang diterbitkan pada Desember 2024, membahas kondisi pendidikan penduduk penyandang disabilitas.
Data mengenai akses pendidikan tersebut penting untuk melihat tantangan yang dihadapi kelompok disabilitas dalam memperoleh layanan dasar. Keterbatasan akses pendidikan juga dapat menjadi hambatan dalam mendapatkan informasi kesehatan yang memadai, terutama jika materi pembelajaran belum disampaikan melalui metode yang inklusif.
Dalam konteks kesehatan menstruasi, akses informasi tidak cukup hanya dengan menyediakan materi. Cara penyampaian, media pembelajaran, dan dukungan komunikasi juga perlu disesuaikan agar remaja dapat memahami informasi secara mandiri.
Oleh karena itu, edukasi kesehatan reproduksi yang inklusif perlu menjadi bagian dari upaya berkelanjutan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Dorong Edukasi Kesehatan yang Lebih Inklusif
Presiden Direktur Unicharm, Yasutaka Nishioka, mengatakan bahwa kegiatan edukasi kesehatan inklusif merupakan salah satu bentuk kontribusi perusahaan kepada masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa Unicharm ingin menjadi perusahaan yang paling dicintai oleh perempuan di Indonesia. Komitmen tersebut, menurutnya, diwujudkan melalui pengembangan produk serta berbagai inisiatif sosial dan keberlanjutan.
Perusahaan juga menyatakan akan melanjutkan inovasi produk dan program yang mendukung masyarakat serta lingkungan, sejalan dengan slogan Ethical Living for SDGs.
Meski demikian, edukasi menstruasi bagi remaja penyandang disabilitas membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah, dan sektor swasta dapat berperan dalam memastikan informasi yang diberikan akurat, mudah dipahami, serta sesuai dengan kebutuhan peserta.
Mengenal Teknologi Pori Serap pada Pembalut
Selain program edukasi, Unicharm turut menyoroti inovasi produk pembalut melalui teknologi pori serap yang diklaim dapat menyerap darah menstruasi yang menggumpal atau bertekstur lebih kental.
Berdasarkan riset internal Unicharm pada 2025 yang disebutkan dalam materi perusahaan, lebih dari 30 persen perempuan Indonesia memiliki kekhawatiran terhadap gumpalan darah menstruasi yang berpotensi menyebabkan kebocoran, terutama saat tidur pada malam hari.
Perusahaan menjelaskan bahwa struktur pori serap pada teknologi tersebut dirancang dengan ukuran pori permukaan yang lebih besar dan kedalaman tertentu untuk membantu menyerap darah menstruasi yang menggumpal. Teknologi ini diterapkan pada varian pembalut malam Charm Safe Night.
Informasi mengenai teknologi dan kinerja produk tersebut merupakan klaim dari perusahaan. Konsumen tetap perlu memilih produk menstruasi berdasarkan kebutuhan pribadi, kenyamanan, dan petunjuk penggunaan yang tersedia pada kemasan.
Edukasi Menstruasi Harus Menjangkau Semua Remaja
Kegiatan di SLB B Tunas Harapan Karawang mengangkat isu yang lebih luas daripada sekadar pemahaman mengenai menstruasi. Program ini menegaskan pentingnya menghadirkan informasi kesehatan yang dapat diakses oleh setiap remaja, termasuk mereka yang memiliki hambatan komunikasi.
Edukasi menstruasi yang tepat dapat membantu remaja mengenali perubahan tubuh, menjaga kebersihan diri, dan memahami kapan perlu meminta bantuan orang tua atau tenaga kesehatan.
Ke depan, perluasan program serupa dan penggunaan metode komunikasi yang inklusif diharapkan dapat membantu mengurangi kesenjangan informasi kesehatan reproduksi. Dengan akses edukasi yang lebih setara, remaja perempuan penyandang disabilitas dapat memperoleh bekal pengetahuan untuk menjaga kesehatan diri dan menjalani masa pubertas dengan lebih percaya diri. (Rin)




