
WANITAINDONESIA.CO – Bayangkan keseruan belasan Chef profesional berbakat dari Jakarta, melakukan perjalanan ke destinasi kuliner utama di Indonesia.
Seru, membanggakan, jadi bukti upaya serta kecintaan anak negeri untuk menjaga nyala kelezatan kuliner Nusantara, yang dimasak dengan hati serta teknologi. Terpenting menjadi torehan emas lintasan sejarah perjalanan kuliner Indonesia.
Asa hadir dari lintasan panjang sejarah emas industri kuliner Indonesia yang dipelopori oleh Unilever Food Solutions (UFS). Sebagai platform business -to-business yang menyediakan layanan serta bahan baku untuk profesional seperti Chef, pebisnis kuliner di industri HoReCa,
UFS dikenal memiliki komitmen sepenuh hati untuk mendukung kedigdayaan kuliner Nusantara beserta ekosistemnya.
Tamu kehormatan sekaligus kolaborator UFS ini merupakan 18 orang Chef bereputasi terbaik, yang memiliki brand resto maupun yang berkarir di posisi prestisius.
Para penjaga nyala gastronomi Indonesia tersebut, diajak
untuk melihat dari dekat serta berinteraksi langsung dengan para pelaku usaha kuliner lokal setempat, di daerah Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Tak hanya mencicip sajian spesial, mereka juga ‘merekam’ sembari sibuk memikirkan, juga berdiskusi dengan sesama profesional, karena ada upaya penuh untuk menghiglight khasanah kuliner Nusantara, dengan tampilan modern populer, untuk dipresentasikan kembali buat masyarakat modern.
Perjalanan menjadi kian seru karena dipandu Culinary Storyteller yang kerap membagikan insight-insight menarik seputar terciptanya menu, keberagaman bahan pangan lokal khas suatu daerah serta teknik pengolahan, juga penyajian.

Kaya Inspirasi untuk di Eksplorasi
Culinary Storyteller, Ade Putri ingin membuktikan bahwa selain aneka hidangan yang sudah dikenal luas, ada tradisi budaya kuliner lokal yang belum sepenuhnya tereksplorasi.
“Sejumlah inspirasi justru kami temukan dari hal-hal yang terlihat sederhana seperti masakan rumahan, bahan-bahan yang ada di sekitar masyarakat, hingga teknik memasak yang terus diwariskan lintas generasi.”
“Apalagi ketika kita melihat langsung dari sumbernya, satu hidangan saja ternyata bisa menyimpan begitu banyak lapisan cerita.”
“Perjalanan yang bisa memberikan ruang eksplorasi yang sangat luas bagi para Chef untuk tidak hanya menempatkan kekayaan kuliner lokal sebagai warisan yang perlu dirayakan, melainkan sebuah titik awal untuk berkreasi.”
Seusai Culinary Trip, perjalanan Future Menu 2026 terus berlanjut dengan eksplorasi yang menjadi aksi nyata. Para Chef membawa perjalanan ini ke restoran masing-masing, untuk mengembangkan aneka kreasi “Future Menu Collaboration”.
Setiap menu merupakan hasil interpretasi dari inspirasi yang ditemukan selama perjalanan, dipadu dengan kreativitas, karakter, identitas restoran mereka.
Ade Putri menjelaskan ihwal pemilihan tempat yang mengacu kepada kedua Provinsi yakni Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kedua daerah tersebut menyimpan khasanah kuliner yang sangat luar biasa. Sangat menantang bagi para profesional untuk dapat dieksplorasi.
“Ambil contoh ketika saya melihat dari sudut harga. In this economy di sebuah kota di Jawa Tengah.
Di sana UMR-nya terbilang sangat rendah. Ada lho menu nasi rames yang dibanderol Rp. 4.000, bila dibandingkan setara dengan parkir mobil di Mal di Jakarta.”
“Kalian jangan skeptis dahulu ihwal ramesan yang aku nikmati itu. Nasi putih tersaji lengkap dengan telur dadar utuh, satu lauk lainnya, aku lupa jenisnya. Juga dilengkapi dengan bihun goreng, urap dengan sambal. Percaya gak? rasanya sangat nikmat lho.”
“Dari harga yang gak ‘ngotak’ kebayang gak sih, mereka ini mau berjualan atau beramal? Atau menginginkan keduanya?”
“Dari sudut pandang harga, ini kan termasuk hal yang sederhana. Tapi bisa dijadikan sebagai parameter ketika hendak merencanakan pemilihan menu serta tempat.”
“Selain parameter lain seperti cita rasa otentik, sejarah, konsep sajian yang unik, dan khas maupun teknik serta keberagaman bahan pangan lokal dari suatu daerah, “imbuh Ade Putri.
“Selain menu, aku juga memilah serta memilih lokasi kuliner. Awalnya terasa unik, sajiannya juga otentik namun setelah ditelaah jam bukanya yakni di waktu dini hari, kemudian tidak aku rekomendasikan buat teman-teman Chef. Waktu tidur ya harus dimanfaatkan untuk istirahat.”
Ade Putri menambahkan, “Kehadiran rombongan Chef yang menyambangi sebuah destinasi kuliner, bukan sekedar untuk melihat, dan makan. Tapi ada misi mulia untuk mengeksplorasi keberadaan menu lokal tersebut, kemudian di presentasikan ulang.”
“Harus di-up-grade lewat penggunaan, bahan, bumbu, teknik memasak maupun plating, menyelaraskan dengan kreativitas peserta serta kebijakan dari perusahaan mereka.”
“Pun ketika tempat yang tersedia tak memungkinkan seperti saat menyambangi Tahu Telur. Warungnya kecil dengan tempat makan terbatas. Hanya muat untuk 6-8 orang. Akhirnya rombongan Culinary Trip tersebut aku bagi menjadi dua batch, dengan menyambangi pelaku usaha serupa di tempat lain.”
“Ihwal harga yang murah, aku juga temukan pada sajian Soto Kemiri, di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Awalnya embel-embel kemiri, aku kira karena one dish meal populer Indonesia tersebut
memakai bumbu, yang berfungsi sebagai pengental kuah serta pengikat bumbu.”
“Usut punya usut ternyata nama Kemiri merupakan nama sebuah desa, tempat pedagang berjualan, “imbuh Ade Putri.

Bukan Tren Kuliner Semusim
Turut berbagi pendapat Country Lead Marketing, UFS Indonesia, Raditya Beer, “Tren Culinary Roots & Street Food Couture tak diciptakan hanya untuk waktu semusim. Melainkan harus berkelanjutan, berkembang dengan mengangkat lebih banyak lagi keberagaman menu Nusantara di 6berbagai destinasi daerah lainnya.
Penyelenggaraannya juga akan terus disempurnakan.”
“Bukti bahwa kami tidak membuat konsep tren menu hanya untuk semusim, bahwa inisiatif ini merupakan keberlanjutan dari penyelenggaraan serupa di tahun sebelumnya.”
“Future Menu merupakan kampanye tahunan yang dilakukan secara global, yang mana setiap negara diberikan kebebasan untuk merancang konsep Future Menu.”
“Menurut hemat kami, Culinary Trip “Future Menu 2026″ ini mengakar pada tren Street Food Couture, yang awalnya hanya dijadikan sebagai sebuah ulasan. UFS jadi yang terdepan untuk melakukan eksplorasi secara komprehensif, dengan mengajak para profesional tersebut untuk berinteraksi langsung, melakukan observasi yang kemudian akan dijadikan sebagai acuan, tren kuliner global dari Indonesia.”
“Inisiatif berkelanjutan UFS Indonesia merupakan taktik jitu bagi kami untuk menyukseskan kampanye tahunan UFS. Menghadirkannya menjadi lebih berbobot untuk kedigdayaan kuliner Indonesia, khususnya untuk mendukung destinasi wisata kuliner sebuah daerah, konsumen, para pelaku usaha seperti UMKM maupun para profesional.”
“Kami percaya bahwa konsep tren Culinary Street Food Couture
ini sangat relevan, untuk masyarakat Indonesia, tak terkecuali untuk food enthusiast global.”
“Salah satu alasannya, potensi kuliner Indonesia sangatlah beragam, harus dieksplorasi seperti yang telah dilakukan oleh para Chef peserta Culinary Trip “Future Menu 2026.”
“Tentunya untuk menyajikan kuliner heritage tersebut selain butuh kepiawaian sang peracik juga membutuhkan aneka bumbu pelezat seperti Knoor, Royco, dan Bango agar cita rasanya lebih lezat, dan istimewa, “pungkas Raditya Beer.
Penasaran dengan inspirasi “Future Menu 2026”?, yang lahir dari Culinary Trip, Anda dapat mengaksesnya di e-Magazine “Inspirasi Rasa Nusantara” di situs: Unilever Food Solutions Indonesia. (rp)




