WANITAINDONESIA.CO – Langkah proaktif Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dalam memberantas penyakit Tuberkulosis (TBC) mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Pusat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI secara resmi mengusulkan Kota Bogor sebagai daerah percontohan nasional untuk program penanggulangan TBC terintegrasi.
Langkah ini diambil setelah Kota Bogor berhasil mencatatkan prestasi gemilang dengan membentuk Kelurahan Siaga TBC di seluruh wilayahnya yang mencakup 68 kelurahan.
Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus, saat meluncurkan program Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding) TBC yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) SMART di Kota Bogor, Selasa (28/7/2026).
“Saya mendengar seluruh kelurahan di Kota Bogor sudah menjadi Kelurahan Siaga TBC. Ini luar biasa dan jarang ada. Karena itu, saya ingin Kota Bogor dapat menjadi percontohan nasional,” ujar Wamenkes Benny.
Wamenkes Benny menegaskan, strategi pemberantasan TBC saat ini tidak lagi bisa mengandalkan metode pasif atau sekadar menunggu pasien berobat ke fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah, puskesmas, aparat wilayah, hingga kader masyarakat diimbau untuk aktif melakukan strategi “jemput bola”.
Fokus utama gerakan ini adalah melacak warga yang berisiko, terutama mereka yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC aktif. Melalui integrasi dengan program CKG SMART, masyarakat kini dapat mengakses pemeriksaan kesehatan lebih dekat dengan tempat tinggal.
Layanan tersebut mencakup:
- Skrining kesehatan menyeluruh
- Pemeriksaan rontgen dada (X-ray)
- Tes dahak bagi yang menunjukkan kelainan
Bagi warga yang tergolong berisiko tinggi namun belum menunjukkan status sakit TBC aktif, Kemenkes siap menyalurkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
“Selama ini kita fokus mengobati orang yang sudah sakit, tetapi kontak eratnya jarang diperiksa. Padahal, daripada dua atau tiga tahun lagi mereka menjadi pasien TBC, lebih baik kita cegah dari sekarang melalui TPT,” tegas Wamenkes.
Meski memiliki Angka Harapan Hidup (AHH) di atas rata-rata nasional, faktor kepadatan penduduk di Kota Bogor tetap menyimpan potensi risiko penularan penyakit menular yang cukup cepat.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyambut baik kolaborasi strategis bersama Kemenkes ini untuk mempercepat penanganan TBC di daerahnya. “Kehadiran program eliminasi TBC dari Kemenkes ini sangat berarti. Kami berharap kolaborasi ini manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Kota Bogor,” ungkap Dedie.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuraena, mengungkapkan tantangan teknis yang dihadapi wilayahnya. Pada tahun 2025, Kota Bogor berada di peringkat kelima dengan beban kasus TBC tertinggi di Jawa Barat, yakni mencapai 10.577 kasus (incidence rate 955 per 100.000 penduduk).
Data menarik menunjukkan bahwa dari seluruh pasien yang mendapatkan perawatan TBC di Kota Bogor, hanya 62 persen yang berstatus warga lokal Kota Bogor. Sebanyak 35 persen berasal dari Kabupaten Bogor, dan 3 persen selebihnya merupakan warga luar wilayah.
“Kondisi ini menjadikan Kota Bogor sebagai pusat rujukan layanan TBC, namun di sisi lain memberi tantangan ekstra dalam melakukan pemantauan pasien lintas wilayah,” jelas dr. Erna.
Guna menekan angka penularan secara signifikan, Pemkot Bogor menjadwalkan aksi pelacakan (tracing) TBC terintegrasi mulai Agustus hingga November 2026. Program pemeriksaan massal ini menyasar sekitar 23.200 orang yang tersebar di 232 titik lokasi pada 68 kelurahan.
Hingga akhir Juli 2026, capaian penemuan kasus TBC di Kota Bogor telah menembus angka 71,9 persen dari target 90 persen. Melalui masifnya pencarian kasus aktif ini, Kemenkes optimistis kurva kasus TBC secara nasional dapat melandai secara nyata pada periode 2028 hingga 2029 mendatang. (Des)





